Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Dompet Dhuafa: Kesenjangan Digital Berdampak Pada Kualitas Pembelajaran

0 729

Dalam masa pandemi, anak-anak di Indonesia tidak kembali pergi ke sekolah tiap hari untuk mendapatkan pendidikan. Melainkan pemerintah mengadakan sistem pembejalaran jarak jauh (PJJ) untuk mencegah bertambahnya rantai penyebaran wabah Covid-19. Umumnya sebagai masyarakat, kita menilai bila bagian terpenting bagi suksesnya proses PJJ adalah dari gawai yang digunakan oleh anak.

Namun ternyata itu bukanlah hal yang mutlak. Selain perangkatnya sendiri, adanya infrastruktur digital yang memadai di seluruh wilayah Indonesia juga menjadi tantangan besar, mengingat saat ini belum merata. Hal tersebut merupakan prasyarat utama dalam penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh, agar semua anak memiliki kesempatan serta pengalaman yang sama ketika menempuh pendidikan.

Menurut dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Whisnu Triwibowo, status sosial-ekonomi juga memengaruhi tingkat kompetensi dan literasi dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Adanya kesenjangan digital berpotensi memicu ketimpangan sosial yang berdampak pada kualitas pembelajaran siswa.

Baca juga: Pandemi Covid-19 Jadi Momen untuk Transformasi Pendidikan Digital

Pentingnya Ketersediaan Fasilitas Pendukung Selama PJJ

Membahas hal tersebut lebih lanjut, Dompet Dhuafa lewat channel resmi Dompet Dhuafa TV mengadakan sebuah talkshow daring memperingati Hari Anak Nasional, Kamis (23/7) lalu. Dalam talkshow tersebut, dibahas lebih lanjut mengenai bagaimana kita dapat meningkatkan kualitas pembelajaran jarak jauh untuk anak, bersama banyak pakar serta publik figur.

Salah satunya adalah Nola B3, yang menyebutkan jika sistem pembelajaran jarak jauh membuat anak menjadi jauh lebih bosan dan sulit fokus. “Karena di kondisi begini mereka sudah tertekan. Mereka menyiapkan Zoom-nya meski dari pagi hari. Yang penting anak-anak harus enjoy dulu dengan kondisi belajar jarak jauh,” jelasnya.

Rina Fatimah, Direktur SMART Edunesia Dompet Dhuafa, menyampaikan beberapa data terkait pembelajaran anak di Indonesia. Ia mengatakan jika saat ini mereka konsen dalam tahap program recovery dari pandemi Covid-19, salah satunya dalam bidang pendidikan. Menurut survei dan riset dari Kemendikbud, saat menerapkan metode pembelajaran jarak jauh, 97,6% masyarakat setuju dengan proporsi penerapan belajar di rumah.

“Kemudian berbeda hasil yang diperoleh dengan responden para guru,” tambah Rina. “Ternyata tidak semuanya siap dengan pembelajaran jarak jauh. Ada hasil survei 67,11% guru belum siap dengan mengoptimalisasi peran gadget. Tantangan pembelajaran jarak jauh banyak ditemui di lapangan, mulai dari jangkauan internet, peralatannya dan lain sebagainya.”

Dibutuhkan ketersediaan fasilitas pendukung seperti internet, gawai, listrik, laptop dan lainnya untuk menunjang program PJJ. Mungkin hal-hal ini sudah terpenuhi di kota-kota besar, namun tidak untuk Eva dan Evi, siswi MI Nurul Waton di Lombok Tengah, NTB. Selama pandemi, gurunya datang ke rumah bila ada tugas satu kali dalam seminggu. Mereka masih kesulitan menerapkan metode PJJ, terkena batasan sinyal, kuota dan gawai.

Komunikasi Antar Guru, Orang Tua & Anak Tidak Kalah Penting

Seto Mulyadi
Seto Mulyadi, ketika memberikan tips belajar anak dalam sesi webinar Dompet Dhuafa.

Pakar dan pemerhati anak, Seto Mulyadi juga menambahkan tips dan saran terkait pembelajaran anak. Baginya, setiap anak pada dasarnya cerdas, sehingga harus dihargai kecerdasannya yang berbeda-beda. “Prinsip mendidik anak agar senang dan menghilangkan rasa bosan di rumah, yang harus diterapkan yakni kasih sayang, keteladanan dari contoh-contoh yang nyata, komunikasi, apresiasi seperti acungan jempol pada anak dan bimbingan,” tambah Seto.

Selain itu, anak dari kecil tidak disarankan untuk langsung diberikan sebuah perangkat berteknologi canggih. Seto menjelaskan, gawai dapat menjerumuskan anak ke ranah sikap negatif. Harus diimbangi dengan kegiatan-kegiatan yang menuntut psikomotorik maupun aktivitas yang bervariasi.

Penting untuk anak-anak agar bisa mendapatkan pengalaman lain selain menggunakan gawai. Selain itu, komunikasi efektif dari guru ke orang tua dan anak juga perlu dikembangkan. Dengan begitu, orang tua bisa menjadi fasilitator yang baik kepada anak dalam belajar.