Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Palo Alto: Tingkat Kepercayaan Investasi Keamanan Siber di Indonesia Masih Rendah

0 72

Ketika pekerjaan kini banyak dilakukan secara digital, maka tentu saja data penting seperti informasi perusahaan juga ikut berubah. Dari yang awalnya tersimpan dalam bentuk fisik, bertransformasi dalam bentuk digital. Menjadi lebih mudah diakses olah seluruh pegawai, namun juga jadi rentan terhadap celah keamanan yang ada di internet.

Maka dari itu, sektor keamanan data juga tak boleh luput dari perhatian para perusahaan, alias harus juga diutamakan. Palo Alto Networks, pemimpin pada bidang keamanan siber global, telah umumkan hasil studi terbaru yang mengkaji perilaku dunia bisnis di Asia Tenggara. Khususnya di Indonesia, Singapura, Filipina dan Thailand, terhadap keamanan siber.

Secara keseluruhan, perusahaan-perusahaan di Indonesia telah mulai sadar dan berikan tanggapan secara cepat terhadap serangan siber, yang kini jumlahnya semakin banyak serta canggih. Namun meski begitu, tingkat kepercayaan terhadap investasi keamanan siber masih lebih rendah, terutama jika dibanding negara-negara lain di ASEAN. Dengan tantangan di seputar pemahaman karyawan dan dukungan manajemen.

Palo Alto Networks mengadakan survei yang dilaksanakan sejak awal Februari 2020, alias sebelum pandemi Covid-19 terekskalasi secara global. Hasil survei perlihatkan adanya konsistensi kenaikan nilai investasi keamanan siber di negara-negara yang menjadi subjek penelitian, dan Indonesia menjadi negara dengan jumlah nilai investasi terbesar di antara negara-negara lainnya.

Baca juga: Palo Alto: Terdapat 2.022 Domain Berbahaya Terkait Corona

Anggaran Keamanan Siber Naik Jelang Pandemi

Infografis keamanan siber Indonesia Palo Alto
Potongan infografis penerapan keamanan siber di Indonesia yang dirilis Palo Alto Networks.

4 dari 5 perusahaan (84%) telah tingkatkan anggaran mereka untuk keamanan siber pada kurun waktu sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Meski begitu, hampir setengah atau 44% dari perusahaan yang disurvei mengatakan jika mereka masih tetap merasa tidak yakin apakah investasinya telah berikan proteksi yang diperlukan.

Dengan nilai yang sama, 44% perusahaan yang disurvei juga menyatakan bahwa mereka telah dedikasikan lebih dari setengah anggaran TI untuk keamanan siber. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk respons atas naiknya volume maupun kecanggihan serangan siber. Ini mencerminkan adanya peningkatan kesadaran perusahaan-perusahaan terhadap perpetaan ancaman keamanan siber di kawasan regional.

Surung Sinamo, Country Manager Indonesia, Palo Alto Networks menyampaikan antusiasmenya lewat konferensi virtual (15/7) kemarin. “Mereka makin sadar pentingnya mencegah dan menggagalkan serangan siber yang berpotensi mengganggu bisnis, seperti yang telah kita lihat dalam beberapa tahun terakhir.”

Namun ia tetap mengingatkan keperluan pebisnis untuk menavigasi risiko-risiko baru yang ditemukan, akibat kerja jarak jauh atau munculnya ancaman baru yang memanfaatkan situasi Covid-19. Ada beberapa cara yang dijabarkan untuk kelola munculnya ancaman-ancaman siber baru.

Peranti dasar seperti anti-malware dan antivirus dilaporkan sebagai solusi paling populer (76%) di kalangan perusahaan di Indonesia. Sebagian besar (92%) perusahaan melaporkan telah lakukan peninjauan terhadap kebijakan keamanan siber dan prosedur operasi standar mereka, setidaknya sekali dalam setahun.

Serta sebanyak 83% perusahaan juga telah melakukan pemeriksaan terhadap komputer-komputer, setidaknya sekali dalam sebulan. Ini dilakukan untuk memastikan peranti lunak atau software pada komputer-komputer tersebut masih up to date. Penting agar tidak mudah disusupi oleh malware yang juga terus diperbarui.

Faktor SDM Masih Menjadi Tantangan Utama Keamanan Siber

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, faktor manusia atau SDM masih menjadi tantangan tersendiri dalam berjalannya keamanan siber yang optimal. Dua dari tiga tantangan utama keamanan siber besar, kesemuanya berkaitan dengan faktor manusia atau orang, yaitu kesadaran karyawan (54%) dan pemahaman dari manajemen (40%).

Surung menambahkan, perusahaan-perusahaan di Indonesia sedang menghadapi jenis-jenis serangan siber baru sepanjang tahun. Meski telah sadar akan arti penting penerapan higiene di lingkungan siber dasar, edukasi tentang keamanan siber saja belum cukup.

“Perangkat-perangkat untuk keamanan siber yang mendayagunakan otomatisasi dan machine learning telah menjadi instrumen untuk melakukan tindakan preventif serta mempercepat respons terhadap ancaman-ancaman siber. Hal ini sangat penting terutama bagi Indonesia, rumah bagi populasi terbesar pengguna internet di dunia, dengan lanskap e-commerce dan pembayaran digital yang berkembang pesat,” tutup Surung.