Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Facebook Ungkap Tren Belanja Online Kelas Menengah di Indonesia

1 1.302

Banyaknya pilihan, konektivitas internet yang lebih mudah diakses dan tingkat kesejahteraan yang meningkat akan terus menjadi faktor kunci yang mampu mendorong aktivitas belanja daring (online) di Asia Tenggara. Hal tersebut disampaikan menurut Facebook dan Bain & Company melalui sebuah studi baru yang berjudul ‘Riding the Digital Wave: Southeast Asia’s Discovery Generation’. Laporan ini melihat bagaimana perilaku dan preferensi kelas menengah membentuk tren e-commerce Indonesia.

Studi tersebut merupakan lanjutan dari studi mereka di tahun 2018 lalu, mengenai Emerging Middle Class. Hal ini dijelaskan oleh Hilda Kitti, Kepala Pemasaran untuk Facebook di Indonesia, yang mengatakan studi menunjukkan bagaimana dunia digital memiliki peran penting dalam pertumbuhan bisnis dan e-commerce di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

“Facebook hadir untuk mendukung bisnis kecil dan besar, dan industri yang lebih luas melalui investasi dalam hal inovasi produk, solusi, program, dan kemitraan untuk meningkatkan kemampuan digital dan mendorong dampak ekonomi di Indonesia,” kata Hilda, dalam siaran pers yang diterima Gizmologi.

Baca juga: Asah Digital, Cara Facebook Tingkatkan Literasi Netizen

Tren E-commerce Indonesia

Aplikasi tren e-Commerce Indonesia

Studi ini mensurvei 12.965 responden di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam, serta mewawancarai lebih dari 30 CEO dan pemodal di wilayah tersebut. Hal tersebut menunjukkan bahwa kelas menengah di Asia Tenggara bakalan mendominasi 70-80% dari pertumbuhan konsumen digital pada tahun 2025.

Menurut data dari Bain, diperkirakan akan ada 310 juta konsumen digital di Asia Tenggara tahun 2025 mendatang. Di Indonesia sendiri, konsumen digital tumbuh dari 64 juta (34% dari total populasi) pada tahun 2017, menjadi 102 juta (53% atau setengah dari total populasi) di tahun 2018. Dengan kenaikan angka konsumen digital tersebut, diprediksi pertumbuhan belanja online nantinya tumbul 3,7 kali, dari 13,1 miliar USD pada 2017 menjadi 48,3 miliar USD di 2025.

Hasil studi juga menunjukkan bahwa 64% responden di Indonesia mengatakan mereka tidak tahu persis apa yang mereka ingin beli saat belanja online. Kemudian lebih dari 57% responden mengatakan bahwa mereka mengetahui tentang produk-produk dan merek-merek baru lewat media sosial.

Tren e-commerce Indonesia adalah konsumen menunjukkan preferensi kuat untuk omnichannel. Artinya, mereka akan melihat di toko online maupun offline (luring) ketika sudah mengetahui apa yang ingin dibeli: 83% konsumen tinggal di kota besar, dan 81% konsumen di kota kecil.

tren e-commerce indonesia

Hilda menambahkan, ada banyak cara untuk berbelanja, dan tidak ada orang yang berbelanja dengan cara yang sama dua kali. Kuncinya adalah merancang strategi pada fase pencarian sangat penting, mengingat bahwa pelanggan berinteraksi dengan banyak merek melalui berbagai saluran pada waktu yang sama.

“Di Indonesia sendiri, 66% responden mengatakan bahwa mereka terbuka untuk memilih merek lain atau akan membeli berbagai merek saat berbelanja online. Ini berarti, seluruh skala bisnis, memiliki peluang besar untuk bersaing dalam cakupan yang lebih besar di Asia Tenggara,” kata Hilda.

Tren e-commerce Indonesia lainnya, rata-rata konsumen berbelanja di 3,8 platform, sebelum mereka membuat keputusan pembelian. Ini menunjukkan potensi besar bagi merek di Indonesia untuk menumbuhkan pasar mereka. Studi juga menunjukkan jika responden dengan program loyalitas menunjukkan bahwa mereka 1,5 kali lebih mungkin menjadi promotor, dibanding mereka yang tidak memiliki program, 45% lebih mungkin untuk membuat rekomendasi, dan 25% lebih mungkin meningkatkan frekuensi pembelian kedepannya.