Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Ikuti Langkah Rusia, Iran Memblokir Telegram

Setelah “tidak diakui” di negaranya sendiri, Rusia, aplikasi pesan singkat gratis Telegram juga bernasib naas di negeri orang. Iran baru-baru ini turut memblokir Telegram atas alasan keamanan nasional negara tersebut.

Kabar otoritas Iran memblokir Telegram muncul dalam siaran televisi milik pemerintah Iran pada Senin, 30 April lalu. Berita ini pun dimuat oleh Reuters. Bukan hal instan pemerintah Iran memutuskan untuk memblokir Telegram. Pertimbangan pelarangan Telegram sudah dipertimbangkan sejak Januari 2018 dimana saat itu terjadi protes soal masalah ekonomi yang meletus pada lebih dari 80 kota di Iran.

Tak berhenti sampai di situ. Demonstrasi merembet ke protes terhadap elit ulama dan keamanan Republik Islam. Beberapa pejabat setempat menyebut pengunjuk rasa menggunakan Telegram untuk menyusun demonstrasi tersebut. Lalu pemerintah pun secara temporer memblokir Telegram pada Januari 2018.

Telegram tersandung isu keamanan di Iran. Foto oleh nordvpn.com

“Dengan mempertimbangkan keluhan atas aplikasi media sosial Telegram oleh rakyat Iran dan berdasarkan permintaan organisasi keamanan untuk menghentikan aktivitas ilegal yang terjadi di Telegram, maka pihak kehakiman memblokir Telegram di Iran,” demikian lapor berita TV tersebut.

“Seluruh penyedia internet di Iran harus mengambil langkah untuk memblokir Telegram baik di website mau pun aplikasinya per 30 April,” sebagaimana dikutip dari website kehakiman Iran, Mizan.

Related Posts
1 daripada 285

Menurut Mizan, pihak keamanan Iran terancam oleh Telegram sebab ia dipakai untuk memobilisasi banyak protes anti pemerintah. “Tindakan tersebut mencakup aktivitas teroris, menyebar kebohongan untuk memantik opini publik, anti pemerintah dan pornografi,” kata Mizan.

Warga Iran sendiri sangat gemar menggunakan Telegram. Hal ini terbukti dari kisaran pengguna Telegram yang mencapai 40 juta di negara tersebut. Aplikasi Telegram juga suka dipakai oleh para politisi Iran, perusahaan dan rakyat biasa.

Pemerintah Iran telah mendorong masyarakat agar beralih ke aplikasi buatan lokal setelah melarang penggunaan Telegram. Sebagai contoh, aplikasi Soroush yang telah dirilis pada bulan lalu. Aplikasi ini banyak menawarkan fitur seperti yang dipunyai oleh Telegram.

Tetapi banyak yang enggan beralih menggunakan Soroush sebab warga khawatir aktivitas mereka akan dimata-matai oleh pemerintah. Aplikasi Soroush menawarkan emoji wanita yang mengenakan penutup kepala berwarna hitam dengan membawa pesan seperti “Death to America” dan “Death to Israel”.

Pihak pengadilan Rusia bulan lalu memblokir Telegram sebab tidak mengizinkan pemerintah Rusia mengakses konten yang dikirim melalui aplikasi tersebut. Keputusan tersebut diambil dalam sesi yang tidak dihadiri oleh pihak pengacara Telegram.

Baca juga: Setelah Diblokir, Telegram Siap Bantu Pemerintah Indonesia Berantas Terorisme

Telegram mempunyai sekitar 200 juta pengguna. Pihak telegram mengatakan tidak bisa memberikan akses sebab layanan Telegram memang dirancang tidak bisa memberikan kunci yang dapat mendekripsi komunikasi yang dikirim melalui Telegram. Pendiri Telegram, Pavel Durov, yang merupakan warga Rusia telah meninggalkan negaranya sendiri sejak 2014, tulis CNBC.com.