Jakarta, Gizmologi – Asia Pasifik kini tidak lagi sekadar mengikuti tren global dalam adopsi kecerdasan buatan. Menurut Kaspersky, kawasan ini justru menjadi penentu arah, dengan 78 persen profesional di APAC sudah menggunakan AI setiap minggu, melampaui rata-rata global.
Tingginya penetrasi perangkat, populasi muda yang melek teknologi, serta dorongan dari konsumen membuat AI lebih cepat mengakar di kehidupan sehari-hari, bahkan sebelum banyak perusahaan resmi mengadopsinya. Momentum dari bawah inilah yang mengubah Asia Pasifik menjadi laboratorium alami bagi teknologi AI.
Masalahnya, semakin luas penggunaan AI, semakin besar pula permukaan serangan di dunia siber. Teknologi yang sama yang meningkatkan produktivitas juga membuka peluang baru bagi pelaku kejahatan digital.
Baca Juga: Pengguna Lebih Nyaman Berbincang dengan AI Ketika Sedang Bersedih, Mengapa?
Deepfake Makin Nyata, Batas Asli dan Palsu Makin Kabur

Kaspersky memprediksi deepfake akan menjadi ancaman arus utama pada 2026. Bukan hanya visual yang makin realistis, kualitas audio juga meningkat drastis, sementara alat pembuatannya semakin mudah digunakan bahkan oleh non-ahli.
Situasi ini membuat batas antara konten sah dan palsu semakin sulit dikenali. Di satu sisi, perusahaan mulai memanfaatkan konten sintetis untuk iklan dan komunikasi. Di sisi lain, penjahat siber bisa memanfaatkan kemiripan ini untuk penipuan yang jauh lebih meyakinkan, mulai dari phishing hingga pemerasan berbasis identitas palsu.
AI Perkuat Serangan, Tapi Juga Mengubah Cara Bertahan
Kaspersky kembali menytaakan bahwa AI tidak lagi hanya membantu penyerang menulis kode atau membuat email penipuan. Kaspersky menyebut teknologi ini akan digunakan di hampir seluruh rantai serangan siber, dari tahap perencanaan hingga penyamaran jejak.
Namun di kubu pertahanan, AI juga mulai mengubah wajah tim keamanan. Sistem berbasis agen akan mampu memindai infrastruktur, mengidentifikasi kerentanan, hingga menyajikan konteks ancaman secara otomatis. Meski terdengar ideal, ketergantungan berlebih pada otomatisasi juga membawa risiko baru, terutama jika organisasi tidak memahami cara kerja sistem yang mereka gunakan.
Bagi Asia Pasifik yang bergerak paling cepat dalam adopsi AI, 2026 bisa menjadi tahun penentuan. AI bisa menjadi perisai terkuat, atau justru celah terbesar, tergantung seberapa matang strategi keamanannya.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



