Penggunaan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya dimanfaatkan perusahaan untuk meningkatkan produktivitas. Teknologi yang sama mulai digunakan kelompok kriminal siber untuk mempercepat proses serangan, termasuk mencari celah, menyebarkan malware, hingga menyesuaikan metode serangan secara otomatis. Tim Riset dan Analisis Global Kaspersky (GReAT) melihat perubahan ini mulai terjadi di kawasan Asia Pasifik.
Salah satu kelompok yang menjadi perhatian adalah SilverFox, kelompok Advanced Persistent Threat (APT) yang disebut aktif menargetkan organisasi di berbagai negara. Kaspersky mendeteksi aktivitas SilverFox sejak Desember 2025, dengan pola serangan yang menggunakan beberapa tahap dan infrastruktur berbeda untuk mengurangi kemungkinan seluruh rantai serangan terdeteksi sekaligus.
Kampanye terbaru kelompok tersebut menyasar perusahaan di India, Indonesia, Afrika Selatan, dan Rusia dari sektor industri, konsultasi, perdagangan, hingga transportasi. Peneliti Kaspersky mencatat lebih dari 1.600 email berbahaya pada Januari dan Februari 2026. Email tersebut dibuat menyerupai pemberitahuan audit pajak atau dokumen pelanggaran pajak agar korban terdorong membuka file yang disertakan.
SilverFox Sebarkan Aplikasi Claude Palsu
Menurut Kaspersky, SilverFox kini juga memanfaatkan popularitas AI dengan menyebarkan aplikasi Claude palsu untuk Windows, macOS, dan Linux. Aplikasi tersebut digunakan sebagai salah satu jalur untuk menyusup ke organisasi target. Selain melalui situs palsu dan email phishing, kelompok ini juga mendistribusikan file berbahaya melalui aplikasi pesan sosial.
Aktivitas SilverFox saat ini paling banyak terkonsentrasi di Asia Pasifik. China disebut menjadi target utama dengan lebih dari 90% aktivitas yang terdeteksi, sementara wilayah mainland China menyumbang sekitar 71%. Myanmar, Kamboja, dan Singapura juga disebut sebagai wilayah yang perlu mendapat perhatian. Dari sisi industri, manufaktur menjadi target terbesar, diikuti sektor IT dan layanan, kesehatan, serta keuangan.
AI Mengubah Kecepatan Serangan Siber
Peneliti Kaspersky juga menyoroti JADEPUFFER, yang disebut sebagai ransomware berbasis LLM dan menunjukkan bagaimana AI dapat mengambil peran lebih besar dalam proses serangan. Dalam kasus yang diamati, agen AI disebut mampu menganalisis kegagalan, memperbaiki pendekatan, lalu menjalankan serangan baru hanya dalam 31 detik.
Ancaman lainnya adalah ChatGPhish, teknik yang memanfaatkan prompt injection tidak langsung untuk memasukkan instruksi berbahaya ke dalam halaman web yang kemudian diproses asisten AI. Kondisi ini membuat pengguna berpotensi menerima tautan atau instruksi berbahaya melalui antarmuka yang mereka percaya.
Situasi tersebut membuat pertahanan keamanan juga perlu beradaptasi. Kaspersky menyarankan perusahaan menggabungkan threat hunting berbasis AI, arsitektur Zero Trust, perlindungan menyeluruh pada endpoint hingga data, serta pemanfaatan AI untuk meningkatkan kemampuan deteksi dan respons secara real-time.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.