Jakarta, Gizmologi โ Kementerian Komunikasi dan Informatika hadirkan fasilitas media center dan komunikasi publik dalam penyelenggaraan High Level Forum on Multi-Stakeholders Partnership atau HLF MSP 2024 dan Indonesia-Africa Forum (IAF) ke-2 di Bali. Acara HLF MSP 2024 dan IAF ke-2 akan digelar pada 1 โ 3 September 2024 mendatang.
โHLF MSP 2024, itu satu acara, satu kegiatan, dan ini akan digabung dengan yang namanya program Indonesia-Africa Forum,โ ujar Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo, Usman Kansong di acara Ngopi Bareng di kantor Kominfo, Jakarta Pusat, Jumat (26/7/2024).
Dirjen IKP menjelaskan bahwa HLF MSP 2024 dan IAF merupakan konferensi tingkat tinggi yang akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo dan para kepala negara dari berbagai negara, terutama yang berada di Benua Afrika. Selain perwakilan negara akan ada juga perwakilan dari sektor swasta dan pemerintah daerah yang diharapkan dapat menjalin kerja sama dengan perwakilan dari negara-negara yang hadir di acara tersebut.
Baca Juga: Menkominfo: Bandar Judi Online Urusan Aparat Polri
Tujuan Acara HLF MSP 2024 dan IAF ke-2

Dirjen IKP Kementerian Kominfo mengatakan penyelenggaraan HLF MSP 2024 dan IAF untuk meningkatkan kerja sama negara-negara Asia dan Afrika, terutama dalam bidang ekonomi. Terakhir acara IAF ini diselanggarakan di Indonesia pada 2018 dan di tahun ini momentumnya sangat berkesan karena menjelang peringatan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang akan dilaksanakan pada 2025.
โKita bisa harapkan ada MoU-MoU, kerja sama-kerja sama di bidang ekonomi, baik itu G2G, government to government, atau B2G kan bisa juga, atau B2B, business to business,โ tuturnya.
Guna menyukseskan Indonesia sebagai tuan rumah, Dirjen IKP Kementerian Kominfo mengundang media-media yang berasal dari dalam dan luar negeri untuk meliput kegiatan HLF MSP 2024 dan IAF ke-2. Namun untuk detailnya akan diberitahukan lebih lanjut.
โNanti detailnya akan kita diskusikan, kita bahas pekan depan, dalam press briefing,โ katanya.
Judi Online Jerat Anak-Anak, Habiskan Rp293,4 Miliar

Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Ivan Yustiavandana mengumumkan kasus judi online atau Judol yang menjerat anak-anak. Mengutip metrotvnews.com, usia dibawah 11 tahun sebanyak 1.160 anak menghabiskan uang Rp3 miliar dengan lebih dari 22 ribu transaksi.
โKemudian usia 11 sampai 16 tahun juga sudah luar biasa banyak 4.514 anak angkanya Rp7,9 miliar dari 45 ribu transaksi. Selanjutnya paling banyak banyak adalah usia 17-19 tahun. Usia tersebut semuanya adalah anak-anak sekolah sedang menimba ilmu atau pun yang sedang dipersiapkan untuk menjadi pimpinan masa depan Indonesia,โ kata Ivan dalam konferensi pers di Kantor KPAI, Jakarta Pusat, Jumat (26/7/2024).
Kasus judol pada anak usia 17-19 tahun angkanya capai 191.380 orang dengan transaksi sebesar Rp282 miliar dari total frekuensi 2,1 juta transaksi. Secara keseluruhan dari usia kurang dari 11 tahun sampai 19 tahun ada 197.054 anak.
โSehingga total depositnya itu mencapai Rp293,4 miliar,โ ucapnya.
Menurut Dirjen IKP penyebab anak-anak terjerat judol ini dikarenakan judol yang berkamuflase ke game online. Untuk menangani masalah ini Kominfo memberikan memberikan beberapa langkah yaitu menciptakan atau menerbitkan regulasi lalu kerja sama antara stakeholders.

โJadi langkah yang dilakukan kominfo, pertama-pertama adalah menciptakan, menerbitkan regulasi. Itu regulasi sudah ada sejak Februari 2024. Jadi sudah diundangkan 2024 Februari. Bahkan, sebelum satgas terbentuk,โ jelas Usman.
Untuk soal kerja sama, Kominfo berkolaborasi dengan KPPA dan melibatkan satgas pemberantasan judol. Dari KPPA sendiri juga memiliki beberapa program yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia.
โMisalnya ada program SAPA, jadi semacam program ramah anak yang di situ anak-anak diminta untuk speak up, berani bicara tapi tentu umumnya mereka berani bicara ke orang tuanya dulu ya. Baru begitu orang tuanya lah yang melaporkan ke SAPA. Itu ada hotlinenya. Termasuk dalam konteks judi online,โ ungkapnya.
KPPA siap untuk melakukan atau memberikan konsultasi psikologi kepada anak-anak yang terlibat judol. Selain itu lembaga tersebut siap merehabilitasi anak-anak tersebut.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



