Jakarta, Gizmologi – Samsung PM9E1 resmi dikenalkan, SSD PCIe Gen 5 pertama di industri dengan kapasitas 4TB dalam form factor M.2 22×42. Produk ini diposisikan sebagai storage pendamping untuk NVIDIA DGX Spark, desktop AI supercomputer berbasis GB10, yang menargetkan pengembang dan kreator AI.
Perkembangan komputasi AI kini tidak lagi melulu bergantung pada cloud. Tren baru mengarah pada pemrosesan AI secara lokal, baik di workstation maupun desktop AI supercomputer. Pergeseran ini otomatis menuntut komponen pendukung yang bukan hanya cepat, tetapi juga ringkas dan efisien secara daya.
Di titik inilah peran media penyimpanan kembali krusial. AI bukan hanya soal GPU atau akselerator, tetapi juga seberapa cepat data bisa diakses, dipindahkan, dan diproses ulang. Tanpa storage yang mumpuni, performa komputasi tinggi berpotensi terhambat di level paling dasar.
Baca Juga: Review Samsung 9100 Pro: SSD Gen 5 dengan Performa Andal dan Opsi Kapasitas Paling Lega
Performa Tinggi dalam Ukuran Compact

Secara spesifikasi, PM9E1 tampil agresif. SSD ini menawarkan kecepatan baca hingga 14.500 MB/s dan tulis 12.600 MB/s, dengan performa random yang diklaim mencapai jutaan IOPS. Samsung juga menyebut adanya peningkatan efisiensi daya hingga 45 persen dibanding generasi sebelumnya, sebuah klaim penting untuk sistem AI berukuran desktop.
Menariknya, semua ini dikemas dalam modul M.2 22×42 yang relatif kecil. Samsung menggunakan desain PCB dua sisi dengan V NAND generasi kedelapan dan DRAM terdedikasi. Pendekatan ini memungkinkan performa konsisten tanpa harus mengorbankan stabilitas, terutama saat menangani beban kerja AI yang memadukan akses data acak dan transfer besar secara simultan.
Optimalisasi AI dalam Samsung PM9E1

Dari sisi arsitektur, Samsung PM9E1 menggunakan controller internal Presto berbasis fabrikasi 5 nm, dengan firmware yang dioptimalkan untuk ekosistem NVIDIA, termasuk CUDA dan DGX Spark OS. SSD ini juga dibekali fitur keamanan seperti SPDM v1.2 untuk autentikasi dan proteksi firmware, relevan untuk skenario AI yang sensitif terhadap data.
Namun, perlu dicatat bahwa positioning Samsung PM9E1 masih sangat spesifik. Optimalisasinya kuat untuk sistem AI kelas workstation, tetapi belum tentu relevan untuk pengguna umum atau kreator non AI. Selain itu, detail soal harga dan ketersediaan global belum diungkap, yang bisa menjadi faktor pembatas adopsi lebih luas.
Meski begitu, Samsung PM9E1 menunjukkan bagaimana storage mulai kembali menjadi pusat inovasi. Bukan sekadar pelengkap, tetapi fondasi penting dalam ekosistem komputasi AI generasi berikutnya.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



