Begini Cara Cryptoiz Perkenalkan NFT ke Musisi Indonesia

Bandung, Gizmologi – Tren NFT (non-fungible token) kini tengah booming di kalangan pegiat cryptocurrency (aset kripto). NFT yang booming di industri kripto global perlahan mulai berdampak di Indonesia. Beberapa seniman sudah mulai melirik NFT, misalnya peneliti dan penulis Denny JA yang berhasil menjual lukisan NFT yang bertajuk “A Portrait of Denny JA – 40 Years in the World of Ideas” senilai satu miliar Rupiah melalui marketplace NFT OpenSea. Karya yang dijual dengan harga fantastis ini awalnya dimiliki oleh pelukis Galam Zulkifli.

NFT dapat diartikan sebagai token yang merupakan bukti/sertifikat kepemilikan sah dari sebuah aset digital, dalam hal ini karya seni digital. Jenisnya beragam, mulai dari karya seni visual, grafis, audio, hingga video. Pada dasarnya semua aset digital tersebut dapat di-NFT-kan (minting).

Karakteristiknya unik, collectible, orisinil, dan langka sehingga NFT berbeda dengan karya seni lainnya. Keberadaannya yang berdiri di atas sistem blockchain juga membuat sistem royalti di NFT menjadi transparan dan setiap transaksi penjualan dan pelelangan akan tercatat dan terdata dengan kekal.

Baca juga: Yuk Kenalan dengan NFT, Token Aset Digital Berbasis Blockchain yang Naik Daun

Festival Musik NFT “The Roots of Satoshi Nakamoto” Berhadiah Hingga Rp 20 Juta

Cryptoiz music festMeski mulai booming, tak sedikit yang masih belum memahami konsep NFT tersebut, termasuk kalangan seniman. Padahal mereka ini digadang-gadang bakal mendapat manfaat besar dari NFT karena bisa menjual karya-karya seninya dengan lebih aman.  Inilah yang kemudian membuat Cryptoiz berinisiatif mengedukasi seniman, khususnya musisi Indonesia, untuk lebih mengenal NFT.

Komunitas pengguna crypto yang berdiri sejak 2018 tersebut menggelar ajang musik bertajuk “The Roots of Satoshi Nakamoto”. Penamaan ajang ini juga sangat identik dengan crypto. Di mana nama Satoshi Nakamoto adalah sebutan yang dipakai oleh seseorang yang tidak diketahui dan merupakan perancang bitcoin serta hasil penerapannya yang asli mengacu terhadap Bitcoin Core.

Ajang ini berisi rangkaian lomba instrumen musik, mulai dari gitar, bass, drum, dan instrumen lainnya. Sebagai salah satu komunitas kripto  awal di Indonesia, Cryptoiz mengajak siapa saja yang merasa memiliki kapabilitas bermusik untuk berpartisipasi dalam ajang menarik ini.

Pendaftarannya sudah dibuka mulai 14 September 2021 hingga 2 November mendatang. Pendaftaran di ajang ini gratis, dan para pemenang lomba akan mendapatkan apresiasi berupa hadiah dengan total uang tunai hingga Rp 20.000.000,00.

Selain itu, karya-karya terbaik juga akan listing di marketplace NFT terbesar dan pertama di Indonesia, yaitu TokoMall dari Tokocrypto (platform jual beli aset kripto). Agar dapat berpartisipasi dalam lomba ini, para peserta wajib mengikuti persyaratan utamanya, yaitu membuat akun di platform Tokocrypto karena nantinya distribusi hadiah akan dikirim melalui akun Tokocrypto pemenang.

Respon Musisi Indonesia

gitar musisi unsplash freestocks
Ilustrasi musisi (Foto: unsplash / freestocks)

Sejumlah musisi cukup antusias dengan perkembangan NFT ini. Seperti Beng Beng, gitaris PAS Band dan Aska, vokalis Rocket Rockers (Vokalis dan Gitaris). Di ajang talkshow “Road to The Roots of Satoshi Nakamoto” yang dielar 17 September lalu di Bandung, keduanya mengungkapkan antusiasmenya merespon kehadiran NFT.

Sebagai musisi yang adaptif, mereka siap untuk meng-NFT-kan berbagai karya mereka, baik yang sudah rilis maupun ide-ide karya yang sudah terbayang tetapi belum direalisasikan. Beng Beng sempat membeberkan bahwa PAS Band memiliki beberapa dokumenter perjalanan yang selama ini hanya terpublikasi di salah satu radio lokal. Menurutnya, dokumentasi tersebut layak untuk di-NFT-kan karena faktor kelangkaan dan nilai sejarahnya.

Sementara Aska menambahkan bahwa Rocket Rockers concern terhadap dokumentasi perjalanan band dari tahun ke tahun. Ia pun berniat untuk meng-NFT-kan dokumentasi tersebut. Selain karena NFT memiliki nilai transparansi yang tidak dimiliki oleh sistem lain, Beng Beng dan Aska juga melihat NFT sebagai gebrakan baru untuk kesejahteraan para musisi karena sistem royaltinya yang membuka kesempatan bagi musisi atau seniman untuk mendapatkan apresiasi tersendiri untuk setiap karyanya.

Tinggalkan komen