Jakarta, Gizmologi โ Istilah tol langit mulai didengungkan saat Rudiantara menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika. Ini sejalan dengan program pembangunan infrastruktur yang digencarkan Presiden Jokowi untuk mendukung konektivitas, tidak hanya yang di darat dan laut, juga membangun infrastruktur udara atau disebut tol langit.
Rudiantara menjelaskan, tol langit merupakan istilah dari proyek Palapa Ring yang di dalamnya terdapat penggunaan satelit. โInilah yang disebut Tol Langit karena satelitnya di langit yang semuanya menghubungkan broadband dan sebagainya, jadi mungkin orang melihatnya itu lah tol langit,โ ujar Rudiantara pada 2019 yang lalu, sebagaimana dilansir dari laman Kemenkominfo.
Seiring waktu, pembangunan tol langit tidak berjalan mulus. Selain faktor geografis dan keaman, salah satu yang signifikan sebagaimana diakui pula oleh Presiden Jokowi pada akhir tahun lalu adalah proyek ini terkendala korupsi. Kasus ini diketahui menyeret sejumlah pihak, termasuk mantan Menkominfo Johnny G. Plate dan mantan Dirut BAKTI Kominfo Anang Achmad Latif.
Hadirnya Starlink Saat Indonesia Sudah Miliki Satria-1

Setelah diluncurkan pada pertengahan Juni, akhir Desember 2024 yang lalu, Presiden Jokowi meresmikan operasional Satelit SATRIA-1. Bersamaan juga dengan peresmian ribuan menara Base Transceiver Station (BTS) 4G, di Talaud, Sulawesi Utara. Ini menjadi angin segar progress pembangunan tol langit akan segera rampung.
SATRIA-1 merupakan satelit multifungsi pertama yang bertujuan menyediakan konektivitas ke lebih dari 149 ribu titik layanan publik di seluruh Nusantara. Satelit yang dikelola melalui BAKTI Kominfo tersebut berjenis High Throughput Satellite (HTS) yang dimanfaatkan untuk penyebaran akses internet di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Kapasitasnya 150 Gbps untuk menyediakan 37 ribu titik yang menghasilkan kecepatan internet 3-5 Mbps.
Target utama penggunanya adalah sektor layanan pemerintah, mulai dari pendidikan, kesehatan, pemerintah daerah, sampai urusan keamanan di perbatasan disasar sebagai pengguna Satria-1. Akan tetapi, Starlink yang diresmikan pertengahan Mei lalu justru bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan untuk menyediakan layanan internet di puskesmas.
Di ajang GeekTalk yang digelar Technologue, tol langit ini menjadi pembahasan utama. Menurut Chief of Technology Transformation Office (TTO) Kemenkes Setiaji, tol langit yang menyokong ekosistem digital adalah penting dan mampu meningkatkan layanan kesehatan publik di Tanah Air. Ia mengungkapkan, banyak faskes di indonesia yang belum terhubung ke internet. โDari 10 ribu puskesmas, kurang lebih 700 fasilitas kesehatan yang tidak ada akses internet,โ ungkapnya.
Alih-alih menunggu Satria-1 yang memang masih dalam proses pengembangan agar bisa dinikmati layanannya, untuk menuntaskan masalah konektivitas secara cepat, Kemenkes bekerjasama dengan Starlink. Penggunaan satelit orbit bumi rendah (LEO) dari perusahaan milik Elon Musk itu terbukti membuahkan hasil yang signifikan.
โKita memastikan fasilitas kesehatan (faskes) bisa terhubung. Target kami seluruh faskes bisa terhubung. Data yang terintegrasi secara nasional diharapkan membantu layanan kesehatan, termasuk dokter yang dapat secara langsung memeriksa riwayat kesehatan pasien,โ ujar Setiaji.
Tantangan Inklusivitas Digital

Sementara itu Teguh Prasetya, Ketua Umum ASIOTI, mengatakan inkulivitas digital ini menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi industri telekomunikasi Indonesia di tahun 2024. Menciptakan konektivitas dan inklusivitas digital bagi seluruh masyarakat Indonesia terutama di daerah terpencil merupakan tantangan besar. โIni termasuk mengatasi biaya tinggi pembangunan jaringan dan kesenjangan akses teknologi antara wilayah perkotaan dan pedesaan,โ kata Teguh.
Tantangan lain adalah pengaruh perkembangan teknologi 5G bagi industri telekomunikasi, implementasi jaringan dan perluasan 5G. โUpaya untuk meningkatkan aksesibilitas dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat adalah fokus utama. Ini juga termasuk kontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional melalui Fixed Mobile Convergence (FMC), Internet of Things (IoT) dan kocerdasan buatan (AI) dalam hal layanan dan infrastruktur,โ ujarnya.
Dijelaskan lebih lanjut, masih banyak kelompok atau daerah yang belum memiliki akses internet secara mudah dan optimal. Mereka adalah pelajar dan mahasiswa, petani dan nelayan, masyarakat pedesaan, usaha kecil dan menengah, dan penyandang disabilitas. Semua ini terhubugn dengan pertumbuhan ekonomi digital. โOleh karena itu, sektor-sektor krusial seperti Pendidikan dan kesehatan harus memiliki konektivitas digital sampai ke kota-kota tier-2 dan tier-3 hingga dearah terpencil,โ tegasnya.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



