Cuaca yang semakin panas dan kering bisa membuat aktivitas di dalam rumah meningkat, terutama ketika kualitas udara di luar ruangan sedang buruk. Kondisi seperti polusi perkotaan maupun potensi kabut asap membuat menjaga kualitas udara di dalam rumah menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Namun, menutup seluruh jendela dan menyalakan AC sepanjang hari belum tentu menyelesaikan persoalan. Polutan dari luar masih bisa masuk ke dalam rumah, sementara aktivitas sehari-hari seperti memasak, membersihkan rumah, hingga penggunaan sejumlah material juga dapat menghasilkan partikel dan gas.
Studi Dyson Global Connected Air Quality Data yang menganalisis lebih dari setengah triliun titik data dari lebih dari 2,5 juta pemurni udara di 39 negara menunjukkan bahwa kualitas udara dalam ruangan dapat berubah sepanjang hari. Karena itu, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga kondisi udara di rumah tetap lebih terkontrol.
Baca Juga: Dyson CameraJet Jadi Sikat Gigi Elektrik Rp8 Jutaan dengan Kamera, Apa Fungsinya?
1. Cek Kualitas Udara Sebelum Membuka Jendela
Ventilasi tetap menjadi bagian penting untuk menjaga sirkulasi udara di dalam rumah. Namun, ketika kualitas udara luar sedang buruk, membuka jendela justru dapat membawa lebih banyak polutan masuk ke dalam ruangan. Karena itu, kondisi udara di luar sebaiknya diperiksa terlebih dahulu sebelum membuka jendela.
Waktu juga perlu diperhatikan. Ketika kondisi luar lebih baik, membuka jendela dan pintu dapat membantu mengganti udara di dalam rumah. Sebaliknya, ketika konsentrasi polutan sedang tinggi, mengurangi pertukaran udara dengan luar bisa menjadi pilihan sementara.
2. Kurangi Sumber Polusi dari Dalam Rumah
Kualitas udara tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi di luar rumah. Aktivitas seperti memasak, penggunaan produk rumah tangga tertentu, debu, bulu hewan, hingga material di dalam rumah dapat menjadi sumber partikel atau gas. Membersihkan rumah secara rutin dapat membantu mengurangi sebagian sumber polutan tersebut.
Pemantauan juga bisa membantu karena perubahan kualitas udara tidak selalu terlihat atau terasa secara langsung. Sensor kualitas udara dapat memberikan informasi mengenai perubahan kondisi sepanjang hari, sehingga penghuni rumah dapat mengetahui kapan kualitas udara berubah dan mengambil tindakan yang diperlukan.
3. Pilih Pemurni Udara Sesuai Kebutuhan Ruangan
Jika menggunakan pemurni udara, jangan hanya melihat satu angka pada spesifikasinya. Perhatikan ukuran ruangan, kemampuan sirkulasi udara, jenis polutan yang dapat ditangkap, sensor, tingkat kebisingan, serta jenis filtrasi yang digunakan. Filter HEPA ditujukan untuk menangkap partikel, sementara karbon aktif dapat membantu menangani asap, bau, dan sejumlah gas.
Pilihan perangkat juga sebaiknya disesuaikan dengan ruangan. Dyson, misalnya, memiliki HushJet Purifier Compact untuk ruang pribadi, Purifier Cool PC1 dan PC2 De-NOx untuk kebutuhan pemurnian sekaligus sirkulasi udara, serta Purifier Big+Quiet Formaldehyde untuk ruangan yang lebih besar. Namun, spesifikasi setiap perangkat tetap perlu disesuaikan dengan ukuran dan kebutuhan ruangan masing-masing.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

