Jakarta, Gizmologi – Capcom resmi membuka lebih banyak detail soal Resident Evil Requiem lewat ajang Resident Evil Showcase. Game ini diposisikan sebagai awal era baru survival horror, dengan pendekatan naratif dan gameplay yang lebih kontras dibanding seri-seri sebelumnya.
Alih-alih hanya mengandalkan satu protagonis, Resident Evil Requiem menghadirkan dua karakter utama dengan gaya bermain yang sangat berbeda. Pendekatan ini terdengar menjanjikan, tetapi juga memunculkan tantangan soal konsistensi pengalaman bermain.
Dengan jadwal rilis pada 27 Februari 2026, Capcom tampaknya ingin menaikkan standar, baik dari sisi atmosfer horor maupun skala cerita. Pertanyaannya, apakah semua ide besar ini bisa dieksekusi tanpa mengorbankan fokus khas Resident Evil?
Baca Juga: Leon S. Kennedy Akhirnya Muncul di Resident Evil: Requiem, Bocoran dari PS Store
Dua Karakter, Dua Gaya Bermain yang Bertolak Belakang

Resident Evil Requiem mempertemukan Grace Ashcroft dan Leon S. Kennedy dalam satu alur cerita yang saling terkait. Grace digambarkan sebagai analis FBI tanpa pengalaman tempur nyata, sehingga gameplay-nya menekankan ketegangan, keterbatasan sumber daya, dan rasa tidak berdaya khas survival horror klasik.
Sebaliknya, Leon hadir sebagai agen berpengalaman dengan gameplay yang lebih agresif dan penuh aksi. Ia memiliki kemampuan bela diri jarak dekat, parry, hingga memanfaatkan lingkungan. Perbedaan ini berpotensi memperkaya emosi pemain, tetapi juga berisiko membuat ritme permainan terasa tidak seimbang jika transisinya kurang halus.
Sistem Baru, Cerita Dalam, Ambisi Beri Pengalaman Gameplay Baru

Capcom memperkenalkan berbagai sistem baru, mulai dari Blood Crafting untuk Grace hingga upgrade senjata dan manajemen arsenal ala Leon. Senjata ikonik Requiem juga menjadi simbol penting, memaksa pemain berpikir strategis soal penggunaan amunisi.
Di sisi cerita, misteri Elpis mengikat masa lalu Grace, tragedi Raccoon City 1998, dan konflik batin Leon. Ambisi naratif ini menarik, namun menumpuk terlalu banyak elemen berisiko membuat cerita terasa berat dan sulit diikuti.
Varian zombie dengan perilaku repetitif juga menambah nuansa horor psikologis, meski efektivitasnya akan sangat bergantung pada AI musuh. Opsi sudut pandang orang pertama dan ketiga serta pengaturan tingkat kesulitan memberi fleksibilitas, tapi bisa mengurangi rasa horor jika tidak dikurasi dengan baik.
Resident Evil Requiem terlihat berani dan sarat ide. Jika Capcom mampu menjaga keseimbangan antara horor, aksi, dan narasi, ini bisa menjadi tonggak baru. Namun jika terlalu ambisius, Requiem justru berisiko kehilangan identitas survival horror yang selama ini menjadi kekuatannya.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



