Funcom akhirnya merilis Dune: Awakening untuk PlayStation 5 dan Xbox Series X|S pada 22 September 2026, atau sekitar setahun setelah game survival open-world ini hadir di PC.
Berbeda dari versi PC, pengembang \membawa mode single-player dan opsi kustomisasi gameplay untuk Dune: Awakening versi konsol ini. Sehingga Arrakis bisa dijelajahi tanpa bergantung pada pemain lain.
Tim Gizmologi berkesempatan memainkannya sekitar 15 jam lebih di Xbox Series S, dari sudut pandang orang yang belum pernah mengikuti film maupun novel Dune. Perlu diingat, game ini didapat dari pihak Level Infinite.
Gurun di Dune: Awakening Sepi, Tapi Bikin Penasaran

Hal pertama terasa adalah sepinya Arrakis. Tidak ada banjir NPC di mana-mana, dengan sejumlah penanda yang menampilkan lokasi-lokasi material dan tentunya kota yang menjadi tempat paling sering dikunjungi selama bermain game.
Baca Juga: AnyPS5 Buka Jalan Main Game PS5 di PC, Sudah Sejauh Mana?
Di awal Dune Awakening, game ini membiarkan saya mencari arah sendiri, dan beberapa jam pertama jujur saja hal ini sangat membingungkan karena banyak istilah dan nama yang terdengar asing. Baru setelah menyelesaikan misi crafting dan mengumpulkan material, saya diberikan tools yang dapat dipakai untuk memindai area peta dan mendeteksi beragam lokasi penting.
Anehnya, rasa penasaran justru menjadi alasan bertahan. Setiap perjalanan mencari material selalu berakhir di tempat baru yang ingin lihat dan harus berhadapan dengan lawan yang kuat.
Setelah sekitar 15 jam, karakter saya baru mencapai level 15. Angka itu lebih menggambarkan cara bermain daripada laju progres game secara umum: banyak waktu habis untuk eksplorasi, sementara akses ke area dan teknologi masih terbatas.
Sebagai orang yang belum mengenal Dune, saya belum bisa menilai seberapa dekat Arrakis dalam game dengan film atau novel. Tetapi dunia di dalam Dune: Awakening ini cukup menarik untuk membuat terus bermain tanpa bekal tersebut.
Sandworm dan Bandit Membuat Pasir Tidak Pernah Aman

Dua jam pertama main game Dune: Awakening langsung mendapat pelajaran keras. Masih belum memiliki gear dan senjata yang mumpuni, karakter di dalam game pun mati dan kehilangan semua perlengkapan setelah dihadang bandit. Sejak kejadian itu, risiko perjalanan quest pun harus memiliki strategi, terutama saat membawa hasil pengumpulan material.
Seperti di dalam novel, sandworm sangat berperan penting di dalam game. Pertemuan pertama dengan sandworm lebih mengejutkan. Saat menjalankan quest untuk menemui NPC di sebuah kamp dan berjalan di atas hamparan pasir yang terlihat tenang.
Lalu muncul peringatan sandworm raksasa mendekat. Beberapa detik kemudian, karakter saya dilahap sebelum sempat menyelamatkan diri. Setelah itu, saya tidak lagi berlama-lama di pasir terbuka. Ancaman sandworm membuat saya lebih memperhatikan tempat dilalui, bahkan ketika tujuan perjalanan hanya menemui NPC. Momen seperti ini membuat eksplorasi Arrakis terasa menegangkan.
Base Building dan Crafting: Mudah Dipahami, Tapi…

Sistem survival-nya akan terasa akrab bagi penggemar genre ini: kumpulkan material, buat peralatan, bangun tempat tinggal. Meski belum memahami seluruh sistem, hubungan antara bahan yang dikumpulkan dan kebutuhan untuk melanjutkan permainan sangat penting.
Hambatan mulai terasa ketika backpack penuh. Saya harus bolak-balik, sementara bahan untuk crafting tetap perlu dicari. Perjalanan yang semula menarik perlahan berubah menjadi rutinitas.
Beberapa kali kehilangan fokus dari quest utama karena sibuk mengumpulkan material. Ada perjalanan berujung pada penemuan menarik, tetapi ada pula sesi ketika merasa hanya mengurus kebutuhan crafting berikut.
Selama pengujian ini, base building dan crafting sangat penting agar bisa melanjutkan quest atau story. Walau ingin eksplorasi dan melihat tempat baru, tetapi mengulang proses pengumpulan bahan untuk mencapai tujuan itu terasa repetitif.

Pertarungan menjadi bagian paling sering memutus ritme bermain. Saat menghadapi musuh berperisai, tembakan terasa kurang efektif, sehingga harus beralih ke pisau atau pedang. Pergantian antara senjata jarak jauh dan senjata jarak dekat itu belum terasa lancar di tangan saya.
Di tengah pertarungan, perhatian terbagi antara menghadapi musuh dan memilih senjata. Beberapa kali saya bahkan lupa menggunakan dodge.
Sebagian kesulitan ini berkaitan dengan proses belajar saya sendiri. Sekitar jam keenam, saya mulai menangkap arah sistem skill, tetapi sampai jam kelima belas saya masih belum yakin menentukan build karakter.
Pilihan skill membutuhkan waktu untuk dipahami. Dalam progres yang saya capai, saya belum merasa cukup menguasai sistem untuk memilih kemampuan dengan percaya diri.
UI Paling Menguji Kesabaran

Kalau harus memilih satu biang masalah, jawabannya UI. Menu research harus dibuka lewat tombol Options, lalu pindah antartab dengan LB/LT di Xbox. Di menu crafting, item dipilih dengan tombol arah, dan saya beberapa kali tanpa sengaja membuat item dobel.
Mengganti tools lewat menu wheel juga tidak langsung bisa. Item harus diambil dulu dari backpack, lalu di-drag ke quick access. Sampai sekarang saya belum menemukan opsi pengaturan yang meringankan semua ini.
Performa Dune: Awakening di Xbox Series S

Dari sisi teknis, game ini cukup meyakinkan dan terasa lancar selama sesi pengujian. Satu catatan: beberapa kali game macet dan saya harus keluar ke home screen lalu memulai ulang. Ukuran file tergolong standar untuk game studio besar saat ini.
Dibanding game survival sejenis, seperti Ark, Conan Exiles, game besutan Level Infinite ini menurut saya masih lebih baik. Namun sistem skill dan building yang rumit berisiko membuat banyak pemain bosan sebelum benar-benar menikmati intinya.
Kesimpulan Dune: Awakening

Setelah sekitar 15 jam, saya masih ingin melanjutkan eksplorasi Arrakis. Sandworm membuat perjalanan terasa berisiko, sementara pencarian material cukup sering membawa ke tempat menarik. Hal membuat ragu adalah kegiatan di antara perjalanan tersebut. Pengumpulan bahan mulai berulang, pergantian senjata belum nyaman, dan navigasi menu dengan controller paling sering menguji kesabaran.
Dune: Awakening layak dipertimbangkan jika daya tarik utama bagi pembaca adalah eksplorasi dan proses membangun tempat tinggal, disertai kesediaan mempelajari banyak sistem. Bagi yang mencari game survival dengan kontrol yang cepat terasa akrab, pengalaman di Series S menjadi alasan untuk menunggu diskon.
Jika tidak mengikuti film atau novel Dune tidak menghalangi menikmati Arrakis. Hambatan terbesar selama pengujian justru muncul ketika harus mengelola inventori, bertarung, dan memahami skill. Pada level 15, saya masih penasaran dengan dunia ini, tetapi belum merasa nyaman dengan seluruh cara bermain.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


