Tangerang, Gizmologi – BYD identik dengan mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV), tetapi strategi elektrifikasi perusahaan asal China tersebut tidak berhenti pada kendaraan listrik murni. BYD juga terus mengembangkan teknologi Dual Mode (DM), sistem hybrid yang menggunakan pendekatan electric-first dan kini sudah memasuki generasi kelima.
Ikhtisar teknologi Dual Mode (DM) BYD
- BYD membagi teknologi Dual Mode menjadi DM-i, DM-p, dan DMO, masing-masing untuk efisiensi, performa, dan kemampuan off-road.
- Ketiganya menggunakan filosofi electric-first, dengan motor listrik mendapat peran utama dan mesin pembakaran bekerja sesuai kebutuhan energi atau tenaga.
- DM-i menggabungkan mesin hybrid 1.5L, Electric Hybrid System dan Blade Battery. BYD mengklaim efisiensi termal mesinnya mencapai 46,06%.
- DM-p menambahkan motor listrik belakang untuk konfigurasi AWD dan menggunakan mesin hybrid 1.5L turbo bertenaga 115 kW (156 PS).
- DMO menggabungkan powertrain hybrid dengan Cell-to-Chassis dan Hybrid Ladder Frame untuk kendaraan off-road.
- Di Indonesia, teknologi Dual Mode sudah digunakan BYD M6 DM, yang menurut BYD telah mengantongi lebih dari 4.000 pemesanan sejak diperkenalkan.
Dalam Media Tech Auto Talk yang digelar selama GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Tangerang, BYD menjelaskan bahwa Dual Mode kini berkembang menjadi tiga cabang teknologi dengan karakter berbeda. Ada DM-i (Dual Mode Intelligent) yang mengutamakan efisiensi, DM-p (Dual Mode Powerful) untuk performa, serta DMO (Dual Mode Off-road) untuk kendaraan dengan kebutuhan jelajah lebih berat.
Pembagian tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa teknologi hybrid BYD tidak dikembangkan sebagai satu arsitektur untuk semua kendaraan. Prinsip dasarnya sama: motor listrik mendapatkan peran utama. Namun konfigurasi mesin, motor listrik, sistem penggerak, baterai hingga struktur kendaraan dapat berubah mengikuti kebutuhan masing-masing segmen.
Di Indonesia, teknologi tersebut mulai menjadi semakin relevan setelah BYD memperkenalkan M6 DM. BYD mengklaim telah menerima lebih dari 4.000 pemesanan untuk model tersebut sejak diperkenalkan.
Baca juga: Dua Varian BYD M6 DM Cross & Classic, Apa Saja Perbedaannya?
“Selama lebih dari dua dekade, BYD menjadi salah satu pionir dalam pengembangan Dual Mode Technology yang kini telah berevolusi hingga generasi kelima,” ujar Luther Panjaitan, Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, di sela-sela ajang GIIAS 2026 yang digelar di ICE BSD, Tangerang. Menurutnya, respons terhadap M6 DM juga menjadi alasan BYD memperluas edukasi mengenai cara kerja teknologi tersebut.
Electric-first Jadi Fondasi Teknologi Dual Mode BYD

Perbedaan mendasar pendekatan Dual Mode BYD dengan konfigurasi hybrid konvensional terletak pada filosofi electric-first. Motor listrik diprioritaskan sebagai sumber penggerak kendaraan dalam sebagian besar kondisi berkendara.
Mesin pembakaran tidak selalu bertugas langsung memutar roda. Bergantung pada kondisi kendaraan, mesin dapat bekerja menghasilkan energi listrik untuk baterai atau ikut memberikan tenaga ke roda ketika dibutuhkan. Perpindahan antara berbagai mode tersebut dilakukan otomatis melalui sistem manajemen energi. Pengemudi pada dasarnya tidak perlu menentukan kapan kendaraan harus menggunakan motor listrik atau melibatkan mesin.
Konsep ini membuat pengalaman berkendara yang ingin dicapai lebih dekat dengan karakter mobil listrik: respons tenaga dari motor listrik, pengoperasian lebih senyap, tetapi tetap memiliki fleksibilitas mesin pembakaran untuk perjalanan yang lebih panjang.
BYD sendiri sudah mengembangkan Dual Mode sejak DM 1.0 pada 2008. Teknologi tersebut kemudian berevolusi hingga DM 5.0 dengan perubahan pada efisiensi sistem hybrid, pengelolaan energi dan performa. Dari fondasi inilah BYD kemudian memecah pengembangan Dual Mode menjadi DM-i, DM-p, dan DMO.
DM-i Fokus Efisiensi, Mesin 1.5L Punya Efisiensi Termal 46,06%
DM-i atau Dual Mode Intelligent merupakan versi yang paling berorientasi pada efisiensi penggunaan sehari-hari. Sistem ini mengintegrasikan tiga komponen utama: mesin hybrid, Electric Hybrid System (EHS), dan Blade Battery. Salah satu bagian pentingnya adalah mesin hybrid naturally aspirated 1.5 liter. BYD menyebut mesin tersebut dapat mencapai efisiensi termal hingga 46,06%.
Angka efisiensi termal tidak sama dengan konsumsi bahan bakar. Secara sederhana, parameter ini menggambarkan seberapa efektif mesin mengubah energi dari bahan bakar menjadi energi yang dapat digunakan. Semakin banyak energi yang terbuang sebagai panas, semakin rendah efisiensi termalnya.
Untuk mencapai angka tersebut, mesin DM-i menggunakan rasio kompresi 16:1 yang dipadukan dengan Exhaust Gas Recirculation (EGR), Intelligent Split Cooling Technology serta algoritma knock control. Menurut BYD, mesin tersebut tetap dapat menggunakan bensin minimum RON 92. Bagian lainnya adalah Electric Hybrid System. BYD mengintegrasikan motor listrik, electronic control, single-gear reducer, direct-drive clutch dan sistem pendinginan oli ke dalam satu unit.
Perusahaan mengklaim integrasi tersebut dapat memangkas bobot dan volume sistem sekitar 30%. Tujuannya bukan hanya membuat sistem lebih ringkas, tetapi juga mengurangi kehilangan energi dalam proses penyaluran tenaga.
Pada M6 DM, BYD memberikan gambaran mengenai potensi efisiensinya melalui simulasi internal. Dengan baterai dan tangki bahan bakar dalam kondisi penuh, perusahaan menyebut mobil tersebut berpotensi mencapai konsumsi bahan bakar hingga 65 km/liter untuk simulasi perjalanan sekitar 150 km.
Angka tersebut perlu dibaca dengan konteks yang tepat. BYD secara eksplisit menyebutnya sebagai hasil simulasi internal, sehingga bukan angka konsumsi bahan bakar yang otomatis dapat diasumsikan akan diperoleh setiap pengguna dalam kondisi berkendara sehari-hari.
DM-p Tambahkan Motor Belakang untuk Mengejar Performa

Jika DM-i mengejar efisiensi, DM-p atau Dual Mode Powerful mengubah prioritasnya ke performa. Salah satu perbedaan utamanya terdapat pada penambahan motor listrik di bagian belakang. Dengan motor listrik pada bagian depan dan belakang, kendaraan dapat menggunakan konfigurasi all-wheel drive (AWD).
Konfigurasi tersebut memungkinkan sistem mendistribusikan tenaga ke roda depan dan belakang sekaligus meningkatkan traksi ketika dibutuhkan. Motor listrik juga memiliki karakteristik torsi instan yang dapat dimanfaatkan untuk akselerasi.
Mesin yang digunakan pun berbeda dari DM-i. Platform DM-p memakai mesin hybrid 1.5 liter turbo dengan tenaga maksimum 115 kW atau sekitar 156 PS serta torsi 225 Nm. BYD menyebut efisiensi termalnya mencapai 45,3%.
Namun prinsip electric-first tetap dipertahankan. Sistem akan menentukan kombinasi motor listrik dan mesin pembakaran secara otomatis berdasarkan kebutuhan tenaga serta kondisi berkendara.
Dengan demikian, perbedaan DM-i dan DM-p sebenarnya bukan sebatas “hybrid irit” melawan “hybrid kencang”. Keduanya berangkat dari arsitektur elektrifikasi yang sama, tetapi konfigurasi powertrain dan strategi manajemen energinya dioptimalkan untuk tujuan berbeda.
DMO Bawa Electric-first ke Mobil Off-road
Cabang ketiga menjadi yang secara teknologi paling berbeda. DMO atau Dual Mode Off-road membawa pendekatan electric-first ke kendaraan yang harus menghadapi medan lebih berat.Dalam ekosistem BYD Group, teknologi ini antara lain digunakan DENZA B5 dan DENZA B8.
DMO menggunakan arsitektur yang menggabungkan Electric Hybrid System yang dipasang longitudinal di depan, mesin hybrid 1.5 liter turbo longitudinal, serta motor listrik belakang. Dengan konfigurasi tersebut, motor listrik tetap memegang peran penting dalam penggerak kendaraan meskipun kebutuhan performanya berbeda jauh dibanding DM-i.
Perubahan tidak hanya dilakukan pada powertrain. BYD menggabungkan teknologi Cell-to-Chassis (CTC) dengan Hybrid Ladder Frame Body. Perusahaan mengklaim konstruksi tersebut meningkatkan torsional rigidity hingga 38%, yang ditujukan untuk meningkatkan kekakuan struktur dan stabilitas kendaraan.
Untuk penggunaan di berbagai medan, DMO juga menyediakan sejumlah Terrain Modes, termasuk Snow, Sand, Mud, Mountain, Rock, hingga Wading Mode. Mode tersebut mengubah distribusi tenaga dan karakter pengendalian mengikuti permukaan yang dilewati kendaraan.
Pendekatan ini memperlihatkan salah satu konsekuensi menarik dari elektrifikasi pada kendaraan off-road. Motor listrik bukan hanya digunakan untuk mengejar efisiensi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mengatur distribusi tenaga secara lebih cepat dan presisi pada kondisi yang membutuhkan traksi.
Dual Mode Jadi Jembatan BYD di Luar Mobil Listrik Murni

Masuknya teknologi Dual Mode ke Indonesia juga menunjukkan bahwa strategi BYD tidak hanya bertumpu pada BEV. Teknologi DM memberi perusahaan jalur lain untuk menjangkau pengguna yang tertarik dengan karakter berkendara elektrik, tetapi masih membutuhkan fleksibilitas mesin pembakaran.
BYD bahkan mengaitkan DM-i dengan potensi biaya kepemilikan yang lebih rendah. Berdasarkan simulasi internal perusahaan terhadap kendaraan bermesin 1.500 cc di segmen setara, DM-i diklaim berpotensi memangkas biaya operasional hingga sekitar 60%.
Untuk perawatan selama tiga tahun pertama, BYD memperkirakan penghematannya dapat mencapai sekitar 30% dibanding kendaraan ICE di kelas yang sama. Lagi-lagi, kedua angka tersebut merupakan simulasi perusahaan dan bukan jaminan biaya yang akan dialami seluruh pemilik.
“Seiring berkembangnya kendaraan energi baru, masyarakat kini dihadapkan pada berbagai pilihan teknologi yang masing-masing memiliki karakteristik dan keunggulannya sendiri,” kata Luther. Menurutnya, BYD ingin menjelaskan bagaimana filosofi electric-first diterapkan pada masing-masing platform agar konsumen dapat memilih teknologi berdasarkan kebutuhan penggunaan.
Di sinilah tiga cabang Dual Mode BYD memiliki posisi yang semakin jelas. DM-i mengejar efisiensi untuk mobilitas sehari-hari, DM-p menambahkan konfigurasi powertrain yang lebih berorientasi performa, sementara DMO membawa elektrifikasi ke kendaraan off-road dengan perubahan hingga tingkat struktur kendaraan.
Artinya, perbedaan ketiganya bukan sekadar tuning software atau pilihan mode berkendara. BYD mengubah konfigurasi mesin, motor listrik, sistem penggerak hingga konstruksi kendaraan sesuai fungsi yang dituju.
Untuk pasar Indonesia, DM-i menjadi teknologi yang paling konkret saat ini melalui M6 DM. Sementara DM-p dan DMO memperlihatkan seberapa jauh arsitektur Dual Mode dapat dikembangkan apabila BYD Group memperluas portofolio kendaraan elektrifikasinya di pasar Tanah Air.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

