China menyiapkan rencana lima tahun untuk memperkuat industri produksi baterai domestiknya, dengan salah satu target paling ambisius adalah menjadikan baterai solid-state sebagai teknologi yang lebih umum digunakan pada 2030. Rencana tersebut disusun oleh Ministry of Industry and Information Technology (MIIT) dan mencakup pengembangan teknologi hingga sisi produksi serta daur ulang.
Langkah awalnya berfokus pada optimalisasi proses produksi dan membuat baterai solid-state lebih layak secara ekonomi. Pemerintah China juga ingin meningkatkan siklus hidup baterai tersebut. Untuk mempercepat riset dan pengembangan, MIIT mendorong kolaborasi antarperusahaan, restrukturisasi, hingga kemungkinan merger selama langkah tersebut dapat mempercepat pengembangan teknologi.
Selain solid-state, rencana tersebut mencakup pengembangan baterai lithium-ion dan sodium. China juga ingin memperkuat pasokan bahan baku dengan mendorong eksplorasi sumber daya lithium, kobalt, dan mineral lainnya di dalam negeri. Produsen juga akan diminta meningkatkan pengelolaan baterai bekas, termasuk untuk produk yang diekspor ke pasar luar negeri.
Baca Juga: Geely Siapkan Produksi Mobil Mewah di Eropa Mulai 2028, Manfaatkan Pabrik Volvo
Solid-State Jadi Fokus Pengembangan hingga 2030

Dalam pengembangan solid-state, MIIT memberikan sejumlah arahan teknologi. Salah satunya adalah menggabungkan material katoda bertegangan dan kapasitas tinggi dengan anoda berbasis lithium-metal maupun desain tanpa anoda. Pemerintah juga memasukkan pengembangan isostatic press yang lebih efisien untuk produksi baterai solid-state ke dalam agenda.
Namun, target tersebut tidak hanya bergantung pada kemampuan membuat baterai solid-state. Biaya produksi dan peningkatan masa pakai juga menjadi bagian dari rencana. Artinya, pengembangan teknologi perlu diikuti kemampuan memproduksinya dalam skala besar dengan tingkat keekonomian yang lebih baik.
Lithium-Ion dan Sodium Juga Dikembangkan
Untuk baterai lithium-ion, China menargetkan produk dengan setidaknya 15.000 siklus pengisian dan pengosongan. MIIT juga menetapkan sasaran tingkat cacat produk hingga level parts per billion (PPB). Sementara itu, baterai berbasis sodium diarahkan untuk mendapatkan peningkatan dari sisi biaya, keamanan, ketersediaan sumber daya, kepadatan energi, serta masa pakai.
Rencana tersebut turut mencakup sistem pengumpulan baterai bekas yang harus disesuaikan dengan volume penjualan produsen, termasuk untuk pasar ekspor. China juga mengusulkan sistem manajemen digital untuk baterai yang diproduksi di dalam negeri, serta kemungkinan penerapan battery passport yang diakui secara internasional dan pengakuan bersama data jejak karbon dengan negara lain.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

