Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Ancang-ancang Menuju Layanan 5G di Indonesia

Industri perangkat dan talent yang ada diIndonesia juga harus memetik keuntungan dari teknologi seluler generasi kelima ini

Jaringan 4G LTE masih belum sepenuhnya meliputi seluruh wilayah Indonesia, namun generasi baru layanan 5G sudah mulai didengungkan. Saat ini, berbagai perusahaan teknologi di dunia seperti Qualcomm, Ericsson, Nokia, ZTE, tengah bekerja sama dalam pengembangan, standarisasi, dan uji coba teknologi seluler generasi kelima tesebut.

Mengapa mereka begitu ingin segera mengadopsi layanan 5G? Secara teori, teknologi 5G merupakan sebuah keniscayaan untuk memenuhi tuntutan terhadap komunikasi data yang serba cepat, stabil dan aman. Selain tentu saja, biar “jualan” para perusahaan teknologi ini terus lancar.

Berdasarkan hasil studi “The 5G Economy” yang digagas oleh Qualcomm dan dilaksanakan oleh berbagai perusahaan riset, IHS Markit, Penn Schoen Berland (PSB), dan Berkeley Research Group (BRG), rantai nilai (value chain) 5G di seluruh dunia akan menghasilkan pendapatan hingga $3.5 triliun dan membuka 22 juta lapangan pekerjaan di tahun 2035. Selain itu, 5G juga memungkinkan terciptanya distribusi barang dan jasa berskala global yang bernilai hingga $12.3 triliun di tahun yang sama.

Sementara itu dari sisi pemerintah pun sudah mulai memberikan “lampu hijau” untuk pengembangan 5G. “Implementasi teknologi 5G adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa dihindari.  Yang terpenting saat ini untuk kita lakukan bersama adalah mempersiapkan konsolidasi operator sehingga sumber daya frekuensi yang terbatas dapat digunakan semaksimal mungkin untuk kepentingan publik,” kata Basuki Yusuf Iskandar, Kepala Riset dan Pengembangan SDM, Kemkominfo, saat seminar bertajuk “5G: Policy, Technology, and Regulatory Perspective” di Mercantile Athletic Club, Gedung WTC, Jakarta (15/8).

Kristiono, Ketua Umum MASTEL, mengatakan pihaknya  melihat potensi yg besar yang dapat ditawarkan oleh implementasi layanan 5G, baik bagi konsumen maupun ekonomi global. Penting bagi Indonesia untuk sedini mungkin mempersiapkan diri menyambut era 5G  karena akan membuka lebih banyak kesempatan untuk berbisnis, termasuk memproduksi perangkat sendiri.

“Indonesia seharusnya tidak hanya sekedar pasar dan pengguna teknologi ini, tetapi pemerintah bersama sama seluruh stakeholder terkait bersama sama melihat peluang peluang apa yang dapat diambil oleh Indonesia dalam era 5G ini. Industri perangkat dan talent yang ada diIndonesia juga harus memetik keuntungan dari teknologi ini,” jelasnya.

Related Posts
1 daripada 195

Sebagai informasi, 3GPP, organisasi perumus standar global di sektor teknologi, telah mempercepat rilis spesifikasi 5G New Radio (NR) sebagai standar global 5G. Beberapa perusahaan teknologi seperti Qualcomm, Ericsson, Nokia, ZTE, dan lainnya  berperan penting dalam mempercepat jadwal standarisasi 5G NR untuk uji coba berskala besar pada tahun 2019, lebih cepat dari perkiraan awal yang dijadwalkan pada tahun 2020.

Secara teori layanan 5G tidak hanya menawarkan tingkat latensi yang sangat rendah (kurang dari 1 milidetik) dan kecepatan akses data yang tinggi dan konsisten (kurang lebih 100+ Mbps) di berbagai cakupan areanya, namun juga menciptakan peluang bagi bisnis model dan industri baru. Peluang baru di bidang realitas maya (virtual reality), Internet of Things (IoT), dan layanan untuk mission-critical diperkirakan akan memberikan kontribusi yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi global.

Dari pihak vendor, Qualcomm menghimbau pemerintah Indonesia untuk memulai perumusan peraturan 5G dan mengidentifikasi potensi dan alokasi spektrum yang potensial untuk layanan 5G. Hal ini ditegaskan oleh Julie G. Welch, Senior Director and Head of Government Affairs, SEA, Taiwan and Pacific, Qualcomm International, Inc yang menghargai usaha pemerintah yang telah mulai mengidentifikasi kandidat potensial untuk spektrum 5G.

“Merupakan hal yang penting bagi pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan perumusan regulasi yang dapat mengakomodasi kepentingan dari semua pihak dalam mengadopsi teknologi 5G, termasuk di dalamnya penentuan penggunaan spectrum frekuensi 28GHz dan untuk konsolidasi semua operator. Operator juga harus mulai memperhitungkan perubahan teknologi menuju era 5G,” kata Julie.

Hal itu menurut Julie, karena ketika spesifikasi teknis sudah hampir rampung dikerjakan, tantangan selanjutnya terletak pada memastikan penggunaan sumber daya frekuensi yang cukup dan paling memadai untuk layanan 5G.

Pada dasarnya, 5G merupakan jaringan yang dapat menggunakan seluruh band spektrum, mulai dari band rendah seperti 1GHz, band sedang di sekitar 1GHz hingga 6GHz, hingga band tinggi di atas 24GHz yang juga dikenal sebagai milimeter Wave. Selain itu, teknologi ini juga mampu bekerja di seluruh spektrum, baik berbayar (unlicensed), berbagi (shared), maupun tidak berbayar (unlicensed). Saat ini, beberapa negara telah mengumumkan untuk melakukan uji coba 5G termasuk Jepang, Korea, Tiongkok, Eropa, dan Amerika. Sedangkan hasil uji coba 5G skala besar pertama akan digelar di ajang Olimpiade Musim Dingin 2018 di Korea Selatan.

 

 

 

This post is also available in: enEnglish (English)

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan Balasan

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

%d blogger menyukai ini: