Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

IoT Akan Menjadi Salah Satu Backbone Revolusi Industri 4.0 di Indonesia

Market IoT Indonesia pada 2022 diperkirakan Rp 444 triliun, dan pada 2025 nanti menjadi Rp 1.620 triliun

Teknologi Internet of Things (IoT) digadang-gadang akan menjadi backbone  (tulang punggung) dari adopsi revolusi industri 4.0 yang sesuai dengan peta jalan Making Indonesia 4.0.  Peta jalan yang diinisiasi oleh Kementerian Perindustrian ini menjadi strategi dan arah yang jelas dalam pengembangan industri nasional yang berdaya saing global.

Menurut  Doni Ismanto, Founder IndoTelko Forum, pihaknya bersama komunitas Indonesia IoT Forum telah mendorong adanya regulasi untuk mengantisipasi “the next big thing” di industri telekomunikasi ini. “Pemerintah dalam hal ini Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Kementrian Perindustrian (Kemenperin) telah menyiapkan sejumlah regulasi yang akan membuat IoT akan semakin besar di Indonesia,” ujar Doni di sela-sela Diskusi ‘IoT for Making Indonesia 4.0’ di Balai Kartini, Jakarta (27/11/2018).

Teknologi IoT sendiri merujuk pada jaringan perangkat fisik, kendaraan, peralatan rumah tangga, dan barang-barang lainnya yang ditanami perangkat elektronik, perangkat lunak, sensor, aktuator, dan konektivitas. Sehingga perangkat tersebut memungkinkan untuk terhubung dengan jaringan internet maupun mengumpulkan dan bertukar data.

Doni menambahkan, isu krusial dalam adopsi IoT nanti terkait konektivitas, data security, interperobilitas, dan lainnya. “Saya harapkan draft Peraturan Menteri untuk spektrum frekuensi dan standarisasi perangkat IoT bisa disahkan tahun ini agar pelaku di industri ini ada kepastian hukum mengembangkan bisnisnya,” imbuhnya.h

Suasana diskusi “IoT for Making Indonesia 4.0” yang digelar Forum IndoTelko di Jakarta (27/11). Foto: Bambang/Gizmologi

Dukungan IoT oleh Pemerintah

Sebagai informasi, aspirasi besar dalam Making Indonesia 4.0 adalah menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030. Berdasarkan Making Indonesia 4.0, ada lima sektor manufaktur yang akan dijadikan pionir, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronika.

Implementasi Industri 4.0 di manufaktur sangat terkait dengan penyediaan infrastruktur dan teknologi informasi dan komunikasi antara lain: Internet of Things (IoT), Big Data, Cloud Computing, Artificial Intellegence, Mobility, Virtual dan Augmented Reality, sistem sensor dan otomasi.

Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kemenperin, Achmad Rodjih Almanshoer menambahkan, pencanangan Indonesia 4.0 sebagai program nasional oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak lepas dari inisiatif Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

“Kalau di Jerman Barat, inisiator 4.0 adalah pelaku industri. Sementara di Indonesia, pemerintah harus berinisiatif demi meningkatkan daya saing industri nasional. Sebagai inisiator, Kemenperin akan membuka delapan pusat pengembangan SDM terkait digitalisasi industri ini di seluruh Indonesia, di mana salah satunya adalah mengajarkan soal IoT,” kata Rodjih.

Sementara itu Ismail, Direktur Jenderal Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika Kemenkominfo menyatakan instansinya siap mendukung para pelaku industri untuk menciptakan ekosistem IoT dengan payung hukum yang kuat. Pemerintah menurutnya akan mengambil inisiatif pengembangan ekosistem dan model bisnis IoT di Indonesia.

Related Posts
1 daripada 4

“IoT itu tidak cukup hanya connectivity tetapi juga ekosistemnya, dan business model-nya sehingga bisa menciptakan efisiensi dan revenue bagi lebih banyak pelaku industri yang mau melakukan digitalisasi. Terkait regulasi, harus ada payung hukum dalam pengembangan IoT ini. Kalau misalnya Undang-Undang terlalu berat maka perlu Peraturan Pemerintah untuk memayungi para pelaku industri yang ingin bertransformasi ke 4.0,” tegasnya.

Adopsi IoT di Indonesia

Judi Achmadi, Executive Vice President Divisi Enterprise PT Telkom Tbk menyatakan ada tiga faktor yang akan mendukung pertumbuhan IoT di Indonesia, yaitu tingginya pemanfaatan dari smartphone di Indonesia, populasi usia produktif di bawah 25 tahun yang berjumlah 2,5 miliar orang di dunia, dan revolusi industry 4.0.

Sementara Mohamad Rosidi, Direktur ICT Strategy & Marketing dari Huawei Indonesia, berkeyakinan program nasional Indonesia 4.0 akan meningkatkan daya saing Indonesia diantara negara-negara lain di dunia.

“Dari sisi konektivitas Indonesia ada di peringkat 64, masih di level starter digitalisasi yang bahkan kalah dengan Vietnam dua peringkat di atasnya. Namun bicara ekosistem IoT, kita tidak bisa bekerja sendirian, harus ada sinergi antara operator, regulator dan lainnya untuk meningkatkan konektivitas kita,” kata Rosidi.

Untuk bisa mengoptimalkan penyebaran pemanfaatan IoT di Indonesia, menurutnya dibutuhkan peranan dari infrastruktur telekomunikasi yang menunjang.

Kirill Mankovski, Chief Enterprise Officer PT XL Axiata Tbk, berharap perusahaannya dapat membantu memperbanyak pemanfaatan IoT oleh para pelaku bisnis di Indonesia. Menurutnya, konsep XL untuk pengembangan IoT ini adalah berkelanjutan. “Prediksi kami sampai 2020 nanti lebih dari 70% perusahaan Indonesia akan mengadopsi IoT,” kata Kirill.

Sedangkan Alfian Manullang, GM IoT Smart Connectivity Telkomsel mengklaim perusahaannya merupakan IoT hub terbesar di Indonesia saat ini. Telkomsel menurut Alfian menjalankan fungsi sebagai enabler yang melayani berbagai kebutuhan digitalisasi industri di Indonesia.

“IoT itu targetnya saving cost dan generate revenue. Balik lagi ke intinya objektif apa yang mau dicapai suatu perusahaan dari IoT. Nah, total solution itu yang kita berikan ke customer karena menurut kami IoT ini masih baru di Indonesia, dan kolaborasi itu sesuatu yang penting dalam pengembangannya,” katanya.

Teguh Prasetya, Founder IoT Forum sendiri menyatakan IoT sudah menjadi Internet of Everything dalam berbagai lini perekonomian di Indonesia. Ia bahkan memperkirakan pada 2025 nanti, sekitar 70% Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan disokong oleh industry berbasis IoT.

“Market IoT Indonesia pada 2022 diperkirakan Rp 444 triliun, dan pada 2025 nanti menjadi Rp 1.620 triliun. Sampai saat ini ada 250 perusahaan berekosistem IoT di Indonesia yang tumbuh dan berinvestasi disana. Kita tertinggal di 2G sampai 4G, jangan sampai tertinggal di IoT karena pasarnya masih luas,” ujar Teguh.