Jakarta, Gizmologi โ Tren metaverse yang dipopulerkan Mark Zuckerberg serin jadi jargon pemerintah Indonesia. Tetapi Pemerintah Arab Saudi melangkah lebih jauh lagi. Mereka berencana membuat Kaโbah dan haji di metaverse. Rencana itu sudah didengungkan sejak akhir Januari 2022. Tujuannya agar umat Islam di seluruh dunia melakukan ziarah ke tempat suci Kabah secara virtual.
Bagi yang masih belum familiar, metaverse adalah kombinasi dari beberapa elemen teknologi termasuk VR (virtual reality), Augmented Reality (AR), dan video di mana pengguna dapat berinteraksi dalam dunia digital. Pengguna Metaverse dapat bekerja, bermain, dan tetap terhubung mulai dari konser dan konferensi hingga perjalanan virtual keliling dunia.
Baca juga:ย Apa Itu Metaverse? Jadi Alasan Facebook Bakal Ganti Nama
Ide untuk membangun Kaโbah dan haji di Metaverse secara virtual mungkin bisa jadi solusi di tengah kondisi pandemi COVID-19 yang masih berlangsung. Maklum, di dunia nyata mereka harus rebutan dengan ribuan orang lain untuk bisa ziarah dan melangsungkan ibadah haji ke Makkah.
Namun, karena ini berkaitan dengan tempat suci umat Islam di Masjidil Haram dan juga ritual ibadah haji yang sakral, sontak rencana tersebut menimbulkan polemik global. Inisiatif tersebut mendapat respon keras sejumlah pihak, termasuk pemerintah Turki hingga komentar dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Kontroversi Kaโbah di Metaverse

Sejumlah kalangan ulama di Timur Tengah mengkhawatirkan adanya Kaโbah dalam dunia metaverse tak dapat dikategorikan sebagai ibadah Haji. Salah satunya ditegaskan oleh Lembaga Presidensi Urusan Keagamaan Turki (Diyanet) yang mengeluarkan keputusan jika mengunjungi Kaโbah di metaverse tidak dianggap ibadah Haji. Hal ini dikarenakan syarat ibadah itu adalah menyentuh lantai Mekah secara langsung.
โIni (ibadah haji di Metaverse) tidak mungkin terjadi. Para kaum mukmin bisa membayar untuk kunjungan ke Kaโbah di metaverse, tetapi ini tak bisa dianggap sebagai ibadah sesungguhnya,โ ujar Direktur Departemen Haji dan Umrah Diyanet, Remzi Bircan.
Tak hanya di Timur Tengah perdebatan ini tampaknya juga telah sampai ke Indonesia, Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh turut mengomentari proyek Kaโbad di Metaverse. Menurutnya program ini tak bisa dimanfaatkan sebagai pelaksanaan ibadah haji
Baca Juga: Fase Pertama AI Super Komputer Meta untuk Dunia Metaverse
โPelaksanaan ibadah haji di metaverse dengan mengunjungi Kaโbah secara virtual tidaklah cukup, dan tidak memenuhi syarat karena aktivitas ibadah haji itu hukumnya tauqifi. Tata caranya sudah ditentukan,โ kata Asrorun Niam, dalam keterangannya.
Dirinya menilai, ada beberapa ritual dalam haji yang membutuhkan kehadiran fisik dan terkait dengan tempat tertentu, seperti thawaf. Ia menjelaskan, tata cara thawaf adalah mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali putaran dimulai dari sudut hajar aswad (secara fisik) dengan posisi Kabah berada di sebelah kiri jemaah.
โManasik haji dan umrah tidak bisa dilaksanakan dalam hati, dalam angan-angan, atau secara virtual, atau dilaksanakan dengan cara mengelilingi gambar Kabah atau replika Kabah,โ jelas dia.
Simulasi Pembelajaran Haji di Metaverse

Melansir Tech Briefly, proyek ini dirancang oleh Imam Besar Masjidil Haram, Syeikh Abdurrahman Sudais. Pembuatan Kaโbah di metaverse berkolaborasi dengan Universitas Umm al-Qura dan Administrasi Urusan Pameran dan Museum Arab Saudi.
Proyek ini sendiri disebut โVirtual Hacerulesvedโ. Berkat teknologi digital di metaverse tersebut, umat Islam dapat mengunjungi batu Hajar Aswad di Kabah secara virtual melalui dunia maya. โAda banyak warisan sejarah dan Islam di wilayah tersebut, seperti Masjid Makkah, yang harus didigitalkan untuk kepentingan semua orang,โ ujarnya kala itu.
Menurut Syeikh Abdurrahman Sudais, upaya ini dilakukan untuk kepentingan semua orang, agar siapa saja bisa melihat berbagai peninggalan tersebut meski tidak datang secara langsung. Nantinya, akan ada kacamata VR yang dipakai warga untuk melihat Kaโbah atau mencoba pengalaman haji di metaverse.
Dengan kata lain, siapapun bisa berkunjung dan melakukan aktivitas seperti benar-benar nyata di lingkungan sekitar Kabah dan Masjidil Haram, meski hanya duduk di rumah dengan menggunakan kacamata realitas virtual. Dijanjikan pula pengalaman virtual itu tak hanya akan memanjakan indera penglihatan dan pendengaran saja, tapi juga sentuhan dan bau.
ย
Di sisi lain kata Niam, program kunjungan Kaโbah secara virtual ini lebih ditujukan sebagai sarana promosi pemerintah Arab Saudi. Bukan untuk ibadah haji, begitu pula umrah. Dengan platform tersebut, masyarakat dapat terbantu dalam mengenali lokasi sebelum berangkat menunaikan ibadah haji.
โKunjungan virtual bisa dilakukan untuk mengenalkan sekaligus juga untuk persiapan pelaksanaan ibadah, atau biasa disebut sebagai latihan manasik haji dan umrah, sebagaimana latihan manasik di asrama haji Pondok Gede atau tempat lainnya,โ imbuhnya.
Hal ini juga sejalan dengan komentar pejabat Arab Saudi yang turut memberikan klarifikasi bahwa metaverse hanya akan dapat digunakan sebagai media manasik haji. Ini akan jadi simulasi pelaksanaan ibadah haji sesuai urutan tata cara rukun-rukun haji.
โInisiatif ini memungkinkan umat islam untuk menyaksikan Hajar Aswad secara virtual sebelum ziarah ke Makkah,โ ungkap pejabat tersebut dikutip dari Middle East Eye.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



