Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Drone untuk Mencari Pendaki yang Hilang ini Bisa Bekerja Tanpa GPS

Menemukan pendaki yang hilang di hutan belantara bisa menjadi proses yang sulit dan memakan waktu lama. Helikopter dan drone tidak bisa mengetahui jejak mereka jika tertutupi oleh pohon yang tebal. Peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) tengah mengembangkan armada drone pencari pendaki hilang yang bisa bekerja tanpa sinyal GPS sekalipun.

Dalam sebuah paper yang akan dipresentasikan pada Simposium International pada konferensi Eksperimen Robotik pekan depan, ilmuwan kampus ini menggambarkan sistem otomatisasi armada drone pencari pendaki yang bisa bekerja secara kolaboratif mencari di bawah kanopi hutan yang tebal dan padat. Drone ini cukup memakai komputasi onboard dan komunikasi nirkabel sehingga tidak membutuhkan GPS.

Armada drone pencari pendaki yang hilang ini terdiri dari empat drone dimana setiap drone dilengkapi dengan sistem pencarian berbasis laser guna menentukan perkiraan, lokalisasi dan perencanaan jejak. Saat drone ini terbang, ia akan membuat peta 3D individual atas medan yang dijelajahi.

Algoritma kemudian membantu mengenali bagian yang belum dieksplorasi dan mana yang sudah dijelajahi. Pos lapangan off-board menggabungkan peta individual dari empat drone tersebut menjadi sebuah peta 3D yang bisa diawasi oleh manusia.

Ilustrasi drone terbang di atas hutan padat. Foto oleh rchobbyreview.com
Related Posts
1 daripada 13

Seperti dilansir dari situs MTI, dalam penerapannya di dunia nyata, meski saat ini belum ditemukan pada sistem yang ada sekarang, drone akan bisa mendeteksi obyek untuk mengidentifikasi pendaki yang hilang. Ketika sudah diketahui lokasinya, drone ini akan menandai lokasi pendaki yang hilang tersebut pada peta global. Manusia pun bisa memakai informasi ini untuk meluncurkan misi penyelamatan.

“Intinya, kami mengganti manusia dengan konvoi drone agar proses pencarian dan penyelamatan lebih efisien,” kata Yulun Tian, mahasiswa pascasarjana pada Departemen Aeronautika dan Astronautika (AeroAstro).

Selain Yulun, ilmuwan lain yang turut menggarap proyek konvoi drone pencari pendaki ini adalah Katherine Liu, mahasiswa PhD pada Ilmu Komputer dan Laboratorium Kecerdasan Buatan (CSAIL) dan AeraAstro; Kyel Ok, mahasiswa PhD pada CSAIL dan Departemen Teknik Mesin dan Ilmu Komputer; Loc Tan dan Danette Allen dari Pusat Riset NASA Langley, Nicholas Roy, seorang professor AeroAstro dan peneliti CSAIL dan Jonathan P. How, seorang professor Departemen Aeronautika dan Astronautika pada Richard Cockburn Maclaurin.

Para peneliti di atas telah mengujicoba konvoi drone pencari pendaki tersebut dalam simulasi di hutan yang dipilih secara acak. Dua drone lainnya juga dites pada kawasan dengan banyak pohon di dalam area Pusat Riset Langley kepunyaaan NASA.

Dalam dua eksperimen tersebut, setiap drone memetakan secara kasar 20 meter persegi area antara dua dan lima menit lalu secara kolaboratif memadukan petanya bersama-sama secara real time. Drone tersebut juga bekerja secara baik dalam beberapa hal, seperti keseluruhan kecepatan dan waktu untuk merampungkan misi ini, mendeteksi ciri hutan dan akurasi penggabungan peta.

Baca juga: Tak Mau Drone Kesayangan Rusak Karena Jatuh? 3 Tipe Parasut Drone ini Bisa Jadi Solusi

 

 

 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.