5.095 Unggahan Hoaks Terkait COVID-19 Masih Tersebar di Media Sosial

Jakarta, Gizmologi – Hoaks seputar COVID-19 masih beredar di sejumlah media sosial masyarakat, bentuknya pun semakin beragam dengan jumlah sebaran yang terus bertambah. Berdasarkan catatan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sebaran hoaks seputar Covid-19 mencapai 5.095 unggahan sejak Januari- 10 November 2021.

Sebanyak 4.402 di antaranya berasal dari Facebook, sementara sisanya tersebar di Twitter, Instagram, YouTube, dan TikTok. Pada periode yang sama, Kominfo juga telah menghentikan sebaran hoaks dan telah menindaklanjuti 767 konten untuk diserahkan ke polisi.

“Berita- berita itu menyesatkan, dan masuk kategori disinformasi atau hoaks,” kata Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Dedy Permadi dalam konferensi pers virtual, Kamis (11/11).

Terbaru Kominfo menemukan enam hoaks baru terkait COVID-19 yang beredar dalam satu pekan terakhir. Ada pun enam informasi yang mengandung kebohongan dan tidak benar itu didapatkan dari temuan tim Patroli Siber Kementerian Kominfo serta aduan-aduan dari masyarakat sebagai berikut.

Pada 4 November 2021 ditemukan narasi hoaks terkait stroke menyerang anak-anak sebagai efek samping dari COVID-19. Lalu pada 5 November 2021, isu hoaks lainnya yang tersebar adalah penerima vaksin COVID-19 berisiko lebih tinggi mengalami limfoma dan autoimun.

Kabar tidak benar kembali ditemukan pada 6 November 2021 yang menyebutkan vaksin COVID-19 memiliki tingkat kematian 174 kali lebih tinggi pada anak-anak daripada virus COVID-19.

Berlanjut 8 November 2021, isu hoaks yang tersebar adalah vaksin Sinovac yang dinarasikan “only for clinical trial” atau hanya untuk uji klinis.

Pada 9 November 2021, ditemukan narasi tidak benar mengenai Pfizer menambahkan zat untuk menstabilkan korban serangan jantung pada produk vaksin COVID-19 produksinya.

Isu hoaks terakhir ditemukan pada 10 November 2021 tentang metode swab test menggores amigdala sering dilakukan di zaman Mesir kuno untuk mengubah budak menjadi patuh.

Keenam informasi itu beredar di media sosial dan tentunya dapat menyesatkan publik. Lewat penyampaian informasi ini, Kominfo berharap masyarakat tidak mempercayai keenam isu tersebut jika menemukannya di media sosial.

Kementerian Kominfo terus berkomitmen untuk memberantas penyebaran isu hoaks yang terjadi paling banyak di Facebook dan media sosial lainnya. Untuk itu Kementerian Kominfo mengajak bisa berperan aktif dalam membagikan informasi dan jika mencurigai konten hoaks maka masyarakat bisa mengadu ke kanal aduan situs aduankonten.id atau mengirim surel ke alamat [email protected]

Tinggalkan komen