80% UKM Indonesia Dibayangi Bahaya Serangan Siber

Jakarta, Gizmologi – Riset dari Cisco menunjukkan usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia dibayangi ancaman serangan siber. Bahkan jumlahnya terus bertambah setelah banyak dari UKM yang berjualan secara daring selama pandemi.

“Selama 18 bulan terakhir, UKM telah memanfaatkan teknologi agar bisa tetap beroperasi dan melayani pelanggan mereka, bahkan saat mereka sedang menangani dampak dari pandemi,” kata Direktur Cisco Indonesia Marina Kacaribu, dalam keterangan pers, Jumat (22/10/2021).

Langkah para pelaku UKM ini mempercepat digitalisasi usaha kecil di Indonesia. Tapi, mereka juga menjadi sasaran empuk penjahat siber sebab UKM yang sudah mengadopsi teknologi digital menghasilkan dan menyimpan banyak data.

Survei Cisco berjudul “Cybersecurity for SMBs: Asia Pacific Businesses Prepare for Digital Defense menunjukkan ada banyak cara penjahat siber mencoba menyusup ke sistem UKM di Asia Pasifik. Bahkan sebanyak 80 persen UKM yang menjadi responden khawatir tentang serangan siber yang meningkat dibandingkan 12 bulan lalu.

Sementara 81 persen UKM mengaku pernah mengalami serangan siber setahun belakangan. Di sisi lain kondisi di Indonesia, 29 persen UKM yang mengalami serangan siber menyatakan alasan mereka menjadi sasaran adalah karena tidak memiliki solusi keamanan siber yang memadai.

“21% UKM yang beroperasi secara daring tak memiliki solusi keamanan pada sistem usaha mereka,” imbuh Marina.

Serangan Siber

Serangan siber berbasis email. Foto oleh blog.cybertraining365.com

Serangan siber tidak hanya berdampak pada keamanan, namun, juga bisnis UKM. Bahkan 43 persen UKM yang menjadi korban serangan siber merugi sekitar US$ 500.000 atau mengeluarkan biaya lebih dari US$ 1 juta untuk memulihkan usahanya.

Serangan siber juga menyebabkan mereka kehilangan data karyawan (63 persen), email internal (62 persen), informasi sensitif (60 persen) dan informasi keuangan (54 persen). Serangan siber ada kalanya menyebabkan situs mereka tidak bisa diakses atau downtime.

Bahkan sebanyak 18 UKM di Indonesia mengaku downtime kurang dari satu jam bisa menyebabkan gangguan operasional yang parah. Kejadian yang paling buruk, 9 persen UKM mengatakan downtime selama satu hari bisa berakibat bisnis mereka tutup permanen.

“Kabar baiknya, semakin banyak UKM yang sadar bahaya serangan siber dan berusaha memperbaiki sistem keamanan mereka. Riset menunjukkan 84 persen UKM Indonesia telah melakukan perencanaan skenario atau simulasi mewaspadai serangan siber selama 12 bulan terakhir,” papar Marina.

Sebanyak 74 persen UKM di Indonesia meningkatkan investasi untuk keamanan siber sejak pandemi. UKM juga meningkatkan investasi di berbagai bidang seperti alat penyesuaian dan pemantauan, talenta, pelatihan dan asuransi. Hal tersebut menunjukkan pemahaman mereka semakin kuat bahwa membangun pondasi keamanan siber yang kuat memerlukan integrasi dari beberapa hal.

Tinggalkan komen