Jakarta, Gizmologi – Polemik limbah elektronik atau e-waste kian relevan seiring meningkatnya konsumsi perangkat digital. Di Indonesia, persoalan ini sering kali tertinggal di balik laju adopsi teknologi yang begitu cepat, sementara sistem pengelolaannya belum sepenuhnya matang.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah perusahaan teknologi mulai mengambil peran lebih aktif. Acer Indonesia menjadi salah satunya dengan mengangkat isu e-waste sebagai bagian dari agenda keberlanjutan, bukan sekadar aktivitas CSR tahunan.
Baca Juga: Acer Bawa Empat Monitor Baru di Ajang CES 2026 Las Vegas!
Kumpulkan 3 Ton e-Waste, Libatkan Banyak Pihak

Acer Indonesia menutup gerakan “Kelola e-Waste, Sayangi Bumi” dengan capaian pengumpulan lebih dari 3 ton limbah elektronik, melampaui target awal 2 ton. Program ini berlangsung sejak Oktober hingga akhir Desember 2025 dan melibatkan sekolah, mitra bisnis, hingga masyarakat umum.
Seluruh e-waste yang terkumpul diklaim dikelola oleh mitra resmi agar proses daur ulang dan pemusnahan dilakukan sesuai standar lingkungan. Dari sisi edukasi, Acer juga menyasar pelajar lewat pelatihan pengelolaan sampah elektronik di lima sekolah dan madrasah, dengan tujuan menanamkan kesadaran sejak dini.
Penanaman Pohon dan Tantangan Dampak Jangka Panjang
Sebagai kelanjutan program, Acer Indonesia menanam 2.000 bibit pohon di sejumlah lokasi, dengan penanaman perdana dilakukan di kawasan Sentul, Bogor. Langkah ini diposisikan sebagai upaya pemulihan ekosistem dan pengurangan jejak karbon dari aktivitas teknologi.
Di satu sisi, kombinasi pengelolaan e-waste dan penanaman pohon menunjukkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Namun di sisi lain, skala dampaknya masih patut dipertanyakan jika dibandingkan dengan volume limbah elektronik nasional yang terus meningkat setiap tahun.
Tanpa mekanisme berkelanjutan yang terintegrasi dengan kebijakan publik dan rantai industri, program semacam ini berisiko berhenti sebagai kampanye periodik. Acer Indonesia memang telah membuka percakapan penting soal e-waste, tetapi tantangan sesungguhnya ada pada konsistensi dan perluasan dampak di luar satu inisiatif.
Langkah ini layak diapresiasi, namun tetap perlu dikawal agar tidak berhenti sebagai narasi hijau semata, melainkan menjadi bagian nyata dari solusi jangka panjang pengelolaan limbah elektronik di Indonesia.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



