Jakarta, Gizmologi – Platform teknologi finansial (fintech) Amartha menutup tahun 2025 dengan kinerja solid, mencatatkan penyaluran modal kerja sebesar Rp13,2 triliun. Memasuki tahun 2026, perusahaan menegaskan strateginya untuk tidak sekadar menjadi platform pinjaman, melainkan penyedia layanan keuangan digital komprehensif guna mendorong pemerataan ekonomi di wilayah perdesaan.
Founder & CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun lalu, perusahaan berhasil menjaga kualitas penyaluran kredit dengan rasio kredit macet (NPL) yang stabil di bawah angka 2 persen. Angka ini dicapai di tengah ekspansi layanan yang kini mencakup 3,7 juta UMKM perempuan di lebih dari 50.000 desa. Fokus utama di tahun 2026 adalah memperluas adopsi layanan di luar pinjaman, seperti pembayaran digital dan investasi mikro, untuk menciptakan ekosistem keuangan yang lebih sehat bagi masyarakat akar rumput.
“Produk kami didesain atas dasar pemahaman mendalam tentang kebutuhan, masalah, dan solusi yang diharapkan oleh UMKM akar rumput. Perkembangan ini juga diiringi dengan semakin kuatnya tata kelola dan mitigasi risiko. Kombinasi pemahaman market, produk yang relevan, tata kelola, dan partnership dengan institusi global, menjadi fondasi Amartha untuk terus tumbuh berkelanjutan,” ujar Andi Taufan dalam acara media gathering di Jakarta, Jumat (23/1).
Komisaris Utama Amartha, Rudiantara, menyoroti peran strategis fintech dalam mengisi celah yang sulit dijangkau perbankan konvensional. Menurutnya, efisiensi yang ditawarkan teknologi memungkinkan Amartha melayani segmen ultra-mikro dengan biaya yang lebih rendah namun tetap profitable, sekaligus menarik minat investor asing untuk menanamkan modal di sektor ekonomi kerakyatan Indonesia.
Baca juga: Jalin Gandeng AFTECH Hadirkan FDC, Percepat Mitigasi Penipuan Fintech
Transformasi Digital Melalui Super App AmarthaFin

Langkah agresif Amartha di tahun 2026 tidak lepas dari penguatan infrastruktur teknologi mereka melalui aplikasi terintegrasi, AmarthaFin. Transformasi ini menandai pergeseran fundamental perusahaan dari sekadar platform peer-to-peer lending menjadi ekosistem keuangan digital yang holistik (menyeluruh) bagi masyarakat perdesaan. Melalui satu pintu aplikasi, para ibu mitra usaha kini tidak hanya bisa mengajukan modal, tetapi juga melakukan transaksi digital sehari-hari yang sebelumnya sulit dijangkau di wilayah pelosok.
Secara teknis, ekosistem ini ditopang oleh struktur korporasi yang solid dengan lisensi berlapis dari regulator, serta tiga cabang entitas bisnis dari perusahaan. Dengan infrastruktur yang ada, aplikasi ini kini melayani kebutuhan pembayaran digital (PPOB), pembelian pulsa, hingga penyaluran zakat. Fitur ini dirancang untuk mendigitalkan perputaran uang tunai di desa yang selama ini tidak tercatat, sehingga menciptakan rekam jejak keuangan (financial footprint) yang valid bagi UMKM. Data transaksi ini kemudian diolah menggunakan machine learning untuk menghasilkan skor kredit yang lebih presisi, memungkinkan Amartha memberikan plafon pinjaman yang lebih sesuai dengan kapasitas bayar mitra.
Secara akumulatif selama 16 tahun beroperasi, Amartha Financial telah menyalurkan total modal usaha lebih dari Rp37 triliun. Transformasi menjadi Amartha Financial kini menaungi berbagai layanan berlisensi resmi, mulai dari peer-to-peer lending, pembiayaan tunai, hingga uang elektronik (dompet digital) yang diawasi ketat oleh OJK dan Bank Indonesia.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



