Jakarta, Gizmologi – Kemitraan antara platform desain global Canva dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi diumumkan pada awal Februari 2026. Lewat penandatanganan nota kesepahaman, keduanya sepakat bekerja sama dalam upaya pengembangan talenta digital di Indonesia, dengan fokus pada peningkatan keterampilan praktis dan literasi visual.
Kolaborasi ini hadir di tengah dorongan besar pemerintah untuk mempercepat transformasi digital nasional. Canva, yang dikenal sebagai alat desain berbasis cloud dengan pendekatan user-friendly dan dukungan AI, diposisikan sebagai mitra strategis untuk menjangkau masyarakat luas, mulai dari UMKM, pendidik, hingga generasi muda.
Namun di balik ambisi besar tersebut, kolaborasi ini juga memunculkan pertanyaan klasik seputar efektivitas program literasi digital. Tantangan bukan hanya soal akses alat, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dan konsistensi implementasi di lapangan.
Baca Juga: Gandeng Erajaya Digital, Belkin Resmi Hadir di Indonesia
Fokus Literasi Digital dan Akses Alat Kreatif

Dalam kerja sama ini, Canva dan Komdigi menempatkan peningkatan keterampilan digital sebagai fokus utama. Canva akan terlibat dalam berbagai program pelatihan berskala nasional yang menyasar UMKM, pendidik, dan talenta muda. Selain itu, integrasi konten pembelajaran Canva ke dalam Learning Management System (LMS) Badan Pengembangan SDM Komdigi diharapkan bisa memperluas jangkauan edukasi digital.
Canva juga menyediakan 8.000 voucher Canva Pro bagi staf Komdigi dan jaringannya. Langkah ini membuka akses ke fitur premium seperti kolaborasi tim, template profesional, hingga alat berbasis AI. Dari sisi teknologi, pendekatan ini cukup relevan mengingat kebutuhan komunikasi visual kini semakin krusial, baik untuk bisnis maupun institusi publik.
Potensi Besar, Tapi Bukan Tanpa Catatan
Meski terdengar menjanjikan, efektivitas kolaborasi ini sangat bergantung pada eksekusi. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa banyak program literasi digital berhenti di tahap pelatihan tanpa dampak jangka panjang yang terukur. Tantangan lain adalah kesenjangan kemampuan digital antarwilayah, yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyediakan platform dan materi.
Selain itu, ketergantungan pada satu platform global juga patut dicermati. Canva memang populer dan mudah digunakan, tetapi pengembangan ekosistem digital nasional idealnya tetap memberi ruang bagi solusi lokal dan keberagaman tools. Tanpa pendekatan yang seimbang, program ini berisiko menjadi sekadar adopsi alat, bukan penguatan kapasitas digital yang menyeluruh.
Kolaborasi Canva dan Komdigi menunjukkan arah yang tepat dalam memadukan teknologi, kreativitas, dan kebijakan publik. Namun, seperti banyak inisiatif digital lainnya, keberhasilannya baru bisa diukur ketika manfaatnya benar-benar dirasakan di tingkat akar rumput, bukan hanya di atas kertas kerja sama.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



