Jakarta, Gizmologi – Google kembali memperluas kemampuan AI generatifnya lewat fitur baru di aplikasi Gemini. Kali ini, pengguna bisa membuat lagu berdurasi sekitar 30 detik hanya dengan memberikan deskripsi teks, foto, atau video sebagai inspirasi. Fitur tersebut memanfaatkan model musik terbaru bernama Lyria 3 yang dikembangkan oleh Google DeepMind.
Fitur pembuatan musik ini sudah mulai dirilis dalam versi beta di sejumlah bahasa, termasuk Inggris, Jepang, Korea, hingga Hindi. Aksesnya terbuka untuk pengguna berusia di atas 18 tahun, meski pelanggan paket berbayar seperti AI Plus, Pro, dan Ultra mendapatkan batas penggunaan yang lebih tinggi dibanding pengguna gratis.
Di atas kertas, kemampuan Gemini lewat Lyria 3 ini memang terdengar menarik karena memungkinkan siapa saja membuat lagu personal dengan cepat. Namun di sisi lain, kehadiran AI generatif di ranah musik kembali memunculkan pertanyaan lama soal orisinalitas, hak cipta, dan dampaknya terhadap industri kreatif.
Musik Instan Berbasis AI, Fokus pada Ekspresi Personal

Google Gemini menjelaskan bahwa tujuan fitur ini bukan untuk menciptakan karya musik profesional, melainkan memberi cara baru bagi pengguna untuk berekspresi. Pengguna cukup mendeskripsikan genre, suasana hati, atau bahkan kenangan tertentu, lalu sistem akan menghasilkan lagu lengkap dengan lirik maupun instrumental yang sesuai.
Menariknya, sistem juga otomatis membuat artwork sampul lagu, sehingga hasil akhirnya terasa seperti produk musik utuh. Dari perspektif teknologi, ini menunjukkan bagaimana AI semakin mampu menggabungkan beberapa elemen kreatif sekaligus dalam satu alur kerja yang praktis bagi pengguna awam.
Namun durasi lagu yang hanya sekitar 30 detik juga menunjukkan bahwa fitur ini masih berada di tahap eksplorasi. Untuk kebutuhan produksi musik serius, tentu masih jauh dari cukup. Artinya, untuk saat ini, posisi fitur lebih condong sebagai alat hiburan atau eksperimen kreatif daripada alat produksi profesional.
Isu Hak Cipta dan Etika Masih Jadi Tantangan
Google Gemini menyematkan watermark digital SynthID pada setiap lagu yang dihasilkan untuk menandai bahwa konten tersebut dibuat oleh AI. Sistem juga diklaim memiliki filter untuk mencegah kemiripan berlebihan dengan karya yang sudah ada, termasuk jika pengguna mencoba menyebut nama artis tertentu dalam prompt.
Meski begitu, tantangan regulasi tetap ada. Industri musik global masih berdebat soal batas penggunaan data pelatihan AI, royalti, dan kepemilikan karya yang dihasilkan mesin. Teknologi seperti ini berpotensi membuka peluang kreatif baru, tetapi juga bisa memicu kekhawatiran di kalangan musisi profesional.
Pada akhirnya, fitur musik di Gemini memperlihatkan arah masa depan AI yang semakin dekat dengan kreativitas manusia. Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini akan berkembang, tetapi bagaimana ekosistem kreatif beradaptasi agar inovasi dan perlindungan karya bisa berjalan seimbang.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



