Joe Biden Klarifikasi Tudingan Hoaks COVID-19 kepada Facebook cs

Washington DC, Gizmologi – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengklarifikasi ucapannya yang menyebut Facebook dan media sosial lainnya, telah banyak membunuh orang selama pandemi COVID-19. Ia meminta perusahaan media sosial untuk mengatasi penyebaran hoaks di platformnya.

Joe Biden mengatakan perusahaan-perusahaan itu seharusnya tidak menganggap pernyataannya sebagai serangan “secara pribadi,” dan alih-alih bergerak untuk bertindak menyelamatkan nyawa. Namun kritik tersebut diarahkan kepada oknum yang menyebarkan konten hoaks dan misinformasi di media sosial.

“Facebook tidak membunuh orang-orang. 12 orang ini memberikan misinformasi di luar sana. Siapapun yang mendengarkan akan celaka karenanya. Ini membunuh orang-orang. Ini informasi yang buruk,” kata Biden, dikutip dari The Verge, pada Rabu (21/7).

12 orang yang dimaksud Biden adalah sosok berpengaruh yang menurut laporan Center for Countering Digital Hate sebagai pihak yang paling banyak menyebarkan misinformasi seputar vaksin di media sosial. Sosok-sosok tersebut antara lain Robert F. Kennedy Jr., Joseph Mercola, Sherri Tenpenny, Rizza Islam, dan lain-lain.

Joe Biden“Harapan saya adalah agar Facebook, menurut saya pribadi, bahwa mereka akan melakukan sesuatu tentang misinformasi, informasi yang salah tentang vaksin,” lanjut Biden.

Di kesempatan yang sama, Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki juga mencoba menjelaskan komentar Biden untuk menghentikan penyebaran misinformasi. “Kami tidak berperang atau bertempur dengan Facebook, kami bertempur dengan virus.”

Baca Juga: Facebook dkk Dituding “Membunuh Orang” dengan Misinformasi dan Hoaks COVID-19

Sebelumnya, Biden menuding Facebook dan platform media sosial lainnya sebagai salah satu biang keladi masih tingginya angka kasus Covid-19 di AS. “Mereka membunuh orang-orang…pandemi yang kita alami saat ini terjadi di orang yang belum divaksin, dan mereka membutuh orang-orang.”

Tak lama setelahnya, Facebook berbalik menuding Biden telah menjadikan media sosial sebagai kambing hitam di tengah masih tingginya kasus Covid-19 di Amerika Serikat. Perusahaan besutan Mark Zuckerberg itu juga sudah merilis sejumlah kebijakan tentang klaim palsu soal COVID-19 dan memberikan informasi yang akurat.

“Dan ketika kami melihat informasi yang salah tentang vaksin COVID-19, kami mengambil tindakan terhadapnya. Sejak awal pandemi, kami telah menghapus lebih dari 18 juta contoh misinformasi COVID-19,” kata VP of Integrity Facebook Guy Rosen dalam postingan blognya.

Tinggalkan komen