Facebook dkk Dituding “Membunuh Orang” dengan Misinformasi dan Hoaks COVID-19

New York, Gizmologi – Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengkritisi platform media sosial seperti Facebook dan lainnya terkait penyebaran hoaks dan misinformasi soal COVID-19. Bahkan menurut Presiden AS Joe Biden, hoaks telah menyebabkan peningkatan korban meninggal akibat virus tersebut.

“Mereka membunuh orang-orang… Lihat lah, satu-satunya pandemi yang kita alami berada di orang-orang yang tidak divaksin. Mereka membunuh orang-orang,” kata Biden di Gedung Putih, menjawab pertanyaan tentang misinformasi, dikutip dari The Verge, Senin (19/7/2021).

Pernyataan tersebut dilontarkan Biden setelah pemerintah AS menjalankan kampanye kepada media sosial baik Facebook, Twitter dan YouTube untuk mengambil langkah yang lebih agresif dalam memerangi penyebaran hoaks serta konten misinformasi.

Parlemen AS sendiri kerap menuding Facebook gagal mengawasi konten berbahaya di platformnya. Meski perusahaan menegaskan telah memperkenalkan aturan untuk tidak membuat klaim palsu untuk bahasan khusus seperti COVID-19 dan vaksinasi.Facebook Data

Sementara itu, Juru Bicarea Facebook Kevin McAlister mengatakan tidak terganggu atas tudingan itu. Faktanya, menurutnya miliaran orang telah melihat informasi otoritatif soal Covid-19 dan vaksin di Facebook, lebih dari media lain di internet.

“Lebih dari 3,3 juta orang Amerika juga telah menggunakan alat pencari vaksin kami untuk mencari tahu di mana dan bagaimana mendapatkan vaksin. Fakta menunjukkan bahwa Facebook membantu menyelamatkan nyawa. Titik.” ungkapnya.

Negeri Paman Sam hingga kini masih menjadi negara dengan kasus corona terbanyak secara akumulatif di dunia. Terlebih dengan adanya varian baru virus, telah membuat 34 juta total kasus positif dan 624.715 kematian di AS.

Bantahan Facebook

Facebook Asah Digital
Ilustrasi Facebook (Foto: 123rf/Patrick De Grijs)

Secara tegas Facebook menolak dikambinghitamkan sebagai platform media sosial yang menyebarkan hoaks dan misinformasi COVID-19. Dalam sebuah postingan blog, Guy Rosen selaku Vice President of Integrity Facebook membantah tudingan Presiden AS Joe Biden tersebut.

Menurutnya, media sosial buatan Mark Zuckerberg ini telah memainkan peran penting dalam masyarakat selama pandemi. Di mana mereka telah berkolaborasi dengan Carnegie Mellon University and University of Maryland sejak April 2020 untuk melakukan survei kepada lebih dari 70 juta responden dan lebih dari 170.000 tanggapan setiap hari dari 200 negara dan wilayah di AS.

Hasilnya pun sangat baik, di mana rasa ragu penduduk negeri Paman Sam yang pengguna Facebook, mengalami penurunan sebesar 50% terhadap vaksin. Sejak bulan Januari, penerimaan vaksin pengguna Facebook di AS, meningkat dari 70% menjadi 85%.

“Dan ketika kami melihat informasi yang salah tentang vaksin COVID-19, kami mengambil tindakan terhadapnya. Sejak awal pandemi, kami telah menghapus lebih dari 18 juta contoh misinformasi COVID-19,” tulis Rosen.

Ditambahkan Rosen, Facebook juga telah memberi label dan mengurangi visibilitas lebih dari 167 juta konten COVID-19. Termasuk menggunakan fitur pemeriksa fakta yang dibantu mitra dan komunitas Facebook.

“Faktanya, kami telah mengambil tindakan terhadap apa yang dapat dilakukan perusahaan teknologi dan kami terus bekerja sama dengan pakar kesehatan untuk memperbarui daftar klaim palsu dari platform kami. Termasuk menerbitkan aturan untuk dibaca yang terus kami perbarui secara teratur,” pungkasnya.

Tinggalkan komen