Jakarta, Gizmologi โ Lenovo memperkenalkan ThinkSystem dan ThinkAgile sebagai rangkaian solusi penyimpanan dan layanan manajemen data terbarunya untuk mendukung infrastruktur siap AI. Fokusnya tidak hanya pada performa, tetapi juga kemudahan pengelolaan, fleksibilitas hybrid cloud, dan ketahanan sistem di lingkungan enterprise yang semakin kompleks.
Menegnalkan ThinkSystem dan ThinkAgile dilakukan Lenovo karena memang perusahaan melihat transformasi AI dalam level bisnis atau enterprise sudah semakin menuntut infrastruktur yang matang. Kemudian, salah satu tantangan justru datang dari segmen penyimpanan data dan virtualisasi, sehingga Lenovo siap untuk mendoro AI untuk meningkatkan solusi penyimpannan terbaru.
Banyak organisasi masih bergantung pada penyimpanan berbasis hard drive lama dan sistem virtualisasi tertutup. Modernisasi membutuhkan investasi besar, perencanaan matang, dan kesiapan sumber daya manusia yang tidak bisa instan.
Baca Juga: Review iPhone 17: Seri yang Paling Mudah Direkomendasikan
Fokus pada Penyimpanan dan Virtualisasi untuk Beban Kerja AI

Lenovo menghadirkan pembaruan pada lini ThinkSystem dan ThinkAgile yang diklaim mampu menjawab kebutuhan beban kerja AI dan virtualisasi modern. ThinkSystem DS Series, misalnya, ditujukan untuk lingkungan virtualisasi kritikal dengan pendekatan all-flash yang menjanjikan latensi rendah dan manajemen lebih sederhana.
Sementara itu, ThinkAgile FX dan HX Series menawarkan pendekatan hyperconverged infrastructure dengan dukungan multi-vendor dan arsitektur terbuka. Strategi ini memberi fleksibilitas lebih bagi perusahaan yang ingin menghindari ketergantungan pada satu ekosistem teknologi. Meski demikian, pendekatan terbuka juga berarti kompleksitas integrasi tetap menjadi pekerjaan rumah, terutama bagi tim IT yang belum terbiasa dengan lingkungan hybrid.
Layanan Data Jadi Pembeda
Selain perangkat keras, Lenovo menekankan pentingnya layanan end-to-end melalui Hybrid Cloud Advisory dan Data Management Services. Layanan ini dirancang untuk membantu perusahaan memetakan kebutuhan data, kepatuhan, hingga strategi migrasi beban kerja AI secara bertahap.
Di atas kertas, pendekatan ini terlihat komprehensif. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada eksekusi di lapangan. Tidak semua organisasi siap mengubah proses internal atau pola kerja lama demi mengejar AI readiness. Tanpa komitmen jangka panjang, solusi secanggih apapun berisiko hanya menjadi upgrade infrastruktur tanpa dampak nyata.
Dengan langkah ini, Lenovo mempertegas posisinya sebagai pemain infrastruktur AI enterprise. Tinggal bagaimana perusahaan pengguna mampu menerjemahkan teknologi tersebut menjadi nilai bisnis yang konkret.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



