Jakarta, Gizmologi – Ericsson belum lama ini menunjuk Nora Wahby menjadi CEO baru Ericsson Indonesia. Perusahaan teknologi ini sudah memiliki operasional yang kuat di Indonesia.
Ditunjuknya Wahby sebagai CEO baru Ericsson Indonesia tentu memberikan tugas baru. Wahby akan memimpin operasional Ericsson di Indonesia serta memperkuat kemitraan dengan pelanggan, pemerintah, dan pelaku industri guna mempercepat pengembangan konektivitas yang krusial di Tanah Air.
“Saya percaya bahwa kombinasi pengalaman Nora di kancah global dan kekuatan teknologi Ericsson akan mampu menghadirkan manfaat 5G bagi pelanggan dan masyarakat di seluruh Indonesia,” ujar Andres Vicente, CEO Ericsson Southeast Asia, Oceania, and India.
Baca Juga: Ericsson Prediksi Adopsi Layanan 5G Bakal Tembus 1,5 Miliar Pengguna
Siapakah Nora Wahby, CEO baru Ericsson Indonesia?

Nora memiliki 24 tahun pengalaman kepemimpinan di Ericsson, mencakup wilayah Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Sebelum ditunjuk memimpin di Indonesia, ia menjabat sebagai Head of Northern and Central Europe di Ericsson yang berbasis di Swedia, dengan tanggung jawab memimpin operasional perusahaan di 16 negara dalam mendukung penerapan dan pemanfaatan jaringan 5G secara optimal.
CEO baru Ericsson Indonesia ini meraih gelar MBA dari Arab Academy for Science, Technology and Maritime Transport bekerja sama dengan Michigan State University, serta gelar Sarjana Teknik Elektronika dari Ain Shams University di Mesir.
“Bersama tim Ericsson Indonesia, Saya menantikan kolaborasi yang erat dengan para penyedia layanan telekomunikasi dan pelaku industri dalam membangun infrastruktur 5G yang aman dan andal bagi masyarakat,” ungkap Wahby.
Ia juga menekankan bahwa akan bekerja sama dengan ekosistem lokal untuk mendorong pengembangan use case lokal sekaligus mendorong inovasi di Indonesia.
Ericsson Mobility Report 2025, Prediksi Langganan 5G Hingga 2031

Pada Ericsson Mobility Report 2025, enhanced mobile broadband diperkirakan akan mencapai 6,4 miliar langganan 5G pada akhir 2031, atau sekitar dua pertiga dari seluruh langganan seluler pada saat itu. Sekitar 4,1 miliar dari jumlah tersebut yaitu sekitar 65 persen diperkirakan akan berbasis 5G SA atau 5G Standalone.
Penerapan 5G SA mendorong pertumbuhan signifikan pada tahun 2025 dalam jumlah operator telekomunikasi seluler yang menawarkan model layanan konektivitas yang berbeda berdasarkan 5G SA Network Slicing. Dengan teknologi ini, operator telekomunikasi menjamin kualitas layanan untuk berbagai kebutuhan pelanggan dengan menyediakan potongan jaringan khusus.

Laporan yang dirilis November 2025 ini juga menyebutkan meski langganan 5G belum merata, langganan 6G pun diperkirakan akan mencapai 180 juta pada akhir 2031, belum termasuk adopsi awal perangkat Internet of Things berbasis AI. Jumlah langganan tersebut dapat meningkat secara signifikan apabila 6G diluncurkan lebih awal dari yang ditunjukkan oleh siklus generasi sebelumnya.
”Kami melihat banyak penyedia layanan beralih dari tahap proof-of-concept ke penerapan komersial hanya dalam tahun 2025, dan kami memperkirakan tren tersebut akan terus berlanjut,” ungkap Erik Ekudden, penerbit EMR sekaligus Chief Technology Officer Ericsson
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



