Ini Alasan OPPO Akan Pangkas 20% Karyawan Setelah OnePlus Bergabung

Jakarta, Gizmologi – Oppo dikabarkan akan memangkas 20% karyawan setelah melakukan merger dengan OnePlus. Pemutusan hubungan kerja ini berlaku untuk tim di departemen pengembangan software ColorOS hingga tim divisi device.

Dikutip dari 9to5Google, seorang sumber mengatakan Oppo sedang memperkecil langkah setelah ekspansi yang terlalu cepat melawan pasar premium yang dipimpin oleh Apple Inc. Keputusan ini juga didasarkan pada banyaknya posisi yang dinilai berlebihan.

“Pemutusan hubungan kerja ini berlaku ke unit-unit penting seperti tim pengembang ColorOS dan divisi Internet of Things yang mengembangkan wearable device seperti smartwatch dan earbud,” kata narasumber tersebut, Senin (20/9/2021).

Masih belum diketahui apakah keputusan ini bakal memengaruhi pengembangan ColorOS 12 yang sedang dibuat perusahaan. Mengingat generasi baru sistem antarmuka berbasis Android ini ditargetkan untuk memberikan pengalaman seamless operating system untuk integrasi pengguna dengan teknologi pintar.

Baca juga: Pengguna OPPO Wajib Tahu, Ini yang Baru di ColorOS 12

Merger Oppo-OnePlus

Counterpoint

Sebagai informasi, Oppo dan OnePlus belum lama ini memutuskan untuk merger pada pertengahan 2021. Kini kedua brand smartphone itu berada di bawah naungan BBK Electronics.

Kendati dapat saling mendukung, penggabungan perusahaan itu tidak akan berdampak pada produk yang sedang dikembangkan. Di satu sisi, Oppo menawarkan produk dengan keunggulan baterai dan memori yang lebih besar untuk menarik pelanggannya.

Perusahaan juga bersaing ketat dengan Xiaomi Corp, melalui investasi besar-besaran di India, Asia Tenggara, hingga Eropa. Meski bisnis Oppo semakin terhambat dengan lesunya penjualan ritel dan pandemi COVID-19.

“Perusahaan ini tersebar tipis di beberapa bidang, menyerang pasar premium, membuat taruhan regional besar dan pindah ke perangkat wearable. Pemangkasan [karyawan] mungkin dilakukan untuk penghematan biaya sebagai perubahan taktik,” kata Tarun Pathak, direktur riset di Counterpoint Research.

Sedangkan OnePlus telah berhasil menerobos pasar AS dibandingkan dengan vendor China lainnya. Kendati demikian, OnePlus masih belum bisa menandingi supremasi Apple dan Samsung.

Sementara itu, rival lokalnya, Huawei Technologies Co., terpaksa menjual sebagian besar bisnis perangkatnya pada tahun lalu. Lantaran AS yang memberikan sanksi kepada semikonduktor China yang berperan vital bagi pasokan industri teknologi.

Tinggalkan komen