Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Kurangi Limbah Makanan, Perusahaan Jepang Pakai Teknologi Artificial Intelligence

0 456

Selama pandemi, banyak pengaruh yang terjadi terhadap kehidupan. Saat ini percepatan kehidupan menggunakan digital, menjadi suatu kewajiban. Penggunaan teknologi sangat diperlukan untuk memperlancar tugas kita terutama bekerja dari rumah. Tak hanya itu, teknologi dapat membantu lingkungan.

Baca juga: Mengenal SITI, Aplikasi Retail Pintar yang Manfaatkan Teknologi Artificial Intelligence

Dikutip dari Voa News, perusahaan di Jepang telah meningkatkan penggunaan teknologi untuk mengurangi limbah makanan dan memangkas biaya selama krisis kesehatan akibat virus korona. Mereka menggunakan Artificial Intelligence (AI), untuk membantu upaya pengurangan limbah.

Menghemat Biaya Pengelolaan Limbah

ilustrasi limbah makanan
ilustrasi limbah makanan (IStock.com/ ETX Studio pic)

Informasi pemerintah dari Jepang menunjukkan, setiap orang telah membuang lebih dari 6 juta ton limbah makanan setiap tahun. Biaya untuk menangani limbah makanan ini diperkirakan mencapai $ 19 miliar.Untuk itulah, pemerintah Jepang telah memberlakukan undang-undang baru.

Dengan pembuatan peraturan terbaru ini adalah untuk memotong biaya limbah makanan hingga 50 persen dari tahun 2000. Jepang ingin mencapai tujuan ini pada tahun 2030 dan mendesak perusahaan untuk menemukan cara untuk memecahkan masalah limbah tersebut.

Teknologi AI Dapat Melakukan Banyak Hal

Artificial Intellingence
Penggunaan Teknologi AI telah digunakan pada perusahaan Jepang (REUTERS/Kim Kyung-Hoon/File Photo)

Toko kelontong asal Jepang, Lawson sekarang menggunakan AI dari perusahaan AS DataRobot. Saat ini perusahaan menggunakan teknologi untuk menemukan cara agar pasokan memenuhi permintaan. Perusahaan bertujuan untuk mengurangi terlalu banyak produk hingga 30 persen.

Lawson memiliki rencana serupa dengan pemerintah Jepang. Ia ingin mengurangi limbah makanannya hingga 50 persen di 2030. Dengan berbagai hal tersebut, diharapkan dapat menanggulangi biaya-biaya besar di tengah pandemi seperti pembuangan limbah makanan. dan gaji untuk tenaga kerja.

Pembuat minuman Suntory Beverage & Food sedang bereksperimen dengan produk AI dari perusahaan Jepang lainnya, Fujitsu. Dengan teknologi AI, Suntory dapat mendeteksi produk-produk yang telah mengalami kerusakan dalam pengirimannya.  Hingga saat ini, hal itu dilakukan dengan tenaga manusia dan membutuhkan waktu yang lama. Dengan teknologi AI baru, Suntory berharap dapat mempelajari lebih lanjut tentang prosedur pengembalian produk rusak saat dikirim ke toko dan berapa banyak yang perlu dikembalikan untuk diganti.

Seperti perusahaan lainnya, NEC Corporation menggunakan AI yang memperkirakan permintaan berdasarkan beberapa kondisi, seperti cuaca, waktu dalam setahun, dan perilaku pembelian masyarakat. Perusahaan ini telah menggunakan AI dengan beberapa pengecer besar dan pembuat makanan. Melalui teknologi ini dapat membantu mengurangi biaya hingga 15 hingga 75 persen.

Inisiatif Berjualan Limbah Makanan

Ilustrasi limbah makanan
ilustrasi limbah makanan (Dishing Jackson Hole)

Pada tahun 2014,  berawal dari banyaknya limbah dari produsen makan, Tatsuya Sekito meluncurkan Kuradashi, bisnis berbasis internet yang menjual kelebihan makanan dengan harga diskon. Dengan sekitar 800 perusahaan, ia membuka usahanya. Disaat pandemi sekarang,  membuat usahanya meningkat dan permintaan makanan dengan harga murah pun tinggi.

Ia berujar tingginya minat pembeli tersebut,  diakibatkan semakin banyaknya orang yang khawatir tentang biaya selama krisis Covis-19. “Penjualan tumbuh 2,5 kali lipat tahun lalu dari tahun sebelumnya, sementara jumlah limbah makanan meningkat dua kali lipat sejak virus korona memutuskan rantai pasokan makanan,” ujar Sekito.

 

Tinggalkan komen