Prospek Bank Digital akan Berkembang Pesat dalam 10 Tahun

Jakarta, Gizmologi – Terus berkembangnya bank digital di Indonesia membawa perubahan yang signifikan di industri perbankan. Bukan tak mungkin prospek bank digital juga bakal menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing di tanah air.

Ekonom sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, melihat prospek bank digital akan sangat menjanjikan. Bahkan dalam 10 tahun ke depan, bank digital akan menjadi industri yang efisien.

“Salah satu yang dilihat investor adalah prospek perkembangan perbankan digital di Indonesia sangat menjanjikan. Dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, bank digital diperkirakan membuat persaingan industri perbankan menjadi lebih efisien, jumlah sektor usaha yang dibiayai pinjaman meningkat, serta mampu menciptakan ekosistem digital yang semakin lengkap,” ujar Bhima dalam keterangannya, Senin (11/10/2021)

Setelah Ribbit Capital mengumumkan investasi di Bank Jago, kini giliran Alibaba, melalui Akulaku Silvrr, berhasil meraih dukungan mayoritas pemegang saham untuk menjadi pengendali Bank Neo Commerce (BBYB). Selain Ribbit dan Alibaba, investor kakap lain seperti Grab juga dikabarkan tengah mengincar bank kecil untuk dikonversi menjadi digital.

Ia menilai ada tiga hal yang menarik minat investor asing di industri bank digital Tanah Air. Pertama, besarnya populasi masyarakat Indonesia yang belum memiliki rekening bank (unbanked population). Jumlahnya mencapai 52 persen atau sekitar 95 juta orang.

Kedua, lebih dari 47 juta penduduk dewasa tidak memiliki akses memadai pada kredit, investasi dan asuransi. Ketiga, penetrasi ponsel pintar di Indonesia mencapai hingga 70-80 persen.

“Fakta tersebut mengonfirmasi masyarakat Indonesia secara infrastruktur sangat siap untuk perbankan digital,” imbuhnya.

Faktor pendorong lainnya adalah Peraturan OJK (POJK) Bank Umum yang memberikan kepastian hukum bagi investor untuk menanamkan modal di bank digital. Sebagian investor memilih jalan akuisisi bank kecil untuk dikonversi menjadi bank digital, seperti Sea Limited (induk Shopee) yang mengubah Bank Kesejahteraan menjadi SeaBank dan Alibaba di BBYB.

Belakangan, Grab juga ditengarai akan menempuh cara serupa. Sebagian lainnya menempuh opsi penyertaan modal di bank digital eksisting yang dianggap memiliki prospek menjanjikan, seperti yang dilakukan Gojek, GIC Private Limited dan Ribbit Capital di Bank Jago.

Nasabah Bank Digital

Gojek Bank Jago

Dari sisi nasabah, menurut dia, faktor demografi bukan satu-satunya yang mendorong masyarakat beralih menggunakan bank digital. “Tidak hanya generasi milenial dan Z yang tertarik menjadi nasabah bank digital, generasi yang lebih senior pun melihat bank digital sebagai sebuah kebutuhan karena layanan cukup lengkap dari tabungan, pinjaman hingga layanan investasi dalam satu platform.”

Ke depan, bank digital yang mampu meningkatkan integrasi layanan dengan platform digital lain, serta mampu menjadi leader dalam inovasi teknologi, berpotensi menjadi market movers.

Bhima menambahkan integrasi layanan yang dimaksud misalnya nasabah cukup membuka tabungan bank digital di platform e-commerce dan sebaliknya nasabah juga bisa lakukan investasi reksadana saham di bank digital tanpa harus membuka akun baru di platform khusus investasi. Hal itu akan memberikan pengalaman bagi pengguna yang berbeda dari bank tradisional.

Ia pun menyarankan agar bank digital mampu mendorong kenaikan literasi keuangan digital, sekaligus penetrasi pinjaman ke sektor-sektor yang menciptakan lapangan kerja.

“Visi jangka panjang bank digital sudah sesuai dengan inti layanan perbankan yaitu menjadi lembaga intermediasi yang pada akhirnya meningkatkan budaya literasi tidak hanya soal tabungan tapi bagaimana memanfaatkan platform untuk pinjaman produktif, dan berdampak pada munculnya wirausaha-wirausaha baru yang menyerap tenaga kerja secara masif,” ujar Bhima.

Tinggalkan komen