Jakarta, Gizmologi – Samsung Electronics kembali memperluas strategi kecerdasan buatannya melalui pengembangan Galaxy AI dengan pendekatan multi-agent. Konsep ini pada dasarnya menghadirkan lebih dari satu agen AI dalam satu ekosistem perangkat, sehingga pengguna bisa memanfaatkan kemampuan berbeda sesuai kebutuhan tanpa harus berpindah layanan secara manual.
Langkah ini muncul di tengah tren penggunaan AI yang semakin kompleks. Samsung mengklaim hampir delapan dari sepuluh pengguna kini mengandalkan lebih dari dua agen AI dalam aktivitas sehari-hari. Artinya, pendekatan satu asisten digital saja dianggap tidak lagi cukup untuk memenuhi berbagai skenario penggunaan.
Namun di sisi lain, konsep Galaxy AI multi-agent juga menghadirkan tantangan tersendiri. Integrasi yang terlalu dalam berpotensi menimbulkan kebingungan pengalaman pengguna jika tidak dirancang matang. Selain itu, isu privasi dan kontrol data tetap menjadi perhatian ketika semakin banyak layanan AI bekerja secara paralel di perangkat.
Baca Juga: Jelang Galaxy Unpacked, Bocoran Warna Galaxy S26 Ultra Muncul Lebih Dulu
Integrasi AI Lebih Dalam, Termasuk Kolaborasi dengan Perplexity

Samsung menjelaskan bahwa Galaxy AI dirancang untuk berjalan langsung di tingkat sistem operasi, bukan sekadar aplikasi terpisah. Dengan pendekatan ini, AI dapat memahami konteks penggunaan secara lebih menyeluruh, sehingga interaksi terasa lebih natural dan tidak memerlukan perintah berulang.
Sebagai bagian dari ekspansi tersebut, Samsung juga akan menghadirkan integrasi dengan layanan AI dari Perplexity AI pada perangkat flagship Galaxy mendatang. Agen ini dapat diakses melalui perintah suara khusus atau tombol perangkat, lalu terhubung dengan aplikasi bawaan seperti Notes, Gallery, Calendar, hingga Reminder. Integrasi lintas aplikasi ini menjadi salah satu nilai jual utama karena menjanjikan alur kerja yang lebih seamless.
Meski terdengar menarik, keberhasilan implementasi Galaxy AI multi-agent ini tetap bergantung pada eksekusi di dunia nyata. Integrasi mendalam dengan banyak aplikasi sering kali menimbulkan masalah kompatibilitas atau konsumsi daya lebih tinggi jika tidak dioptimalkan dengan baik.
Ambisi Ekosistem Terbuka, Tapi Tantangan Masih Ada
Samsung menegaskan visinya untuk membangun ekosistem AI yang terbuka dan inklusif melalui kolaborasi dengan berbagai mitra teknologi. Strategi ini menunjukkan perusahaan tidak ingin mengembangkan AI secara tertutup, melainkan menggabungkan kekuatan beberapa layanan sekaligus dalam satu pengalaman pengguna.
Pendekatan tersebut berpotensi menjadi keunggulan kompetitif, terutama jika dibandingkan dengan ekosistem AI yang lebih terkunci. Namun, strategi multi-mitra juga memiliki risiko fragmentasi pengalaman jika standar integrasi tidak konsisten di seluruh perangkat dan layanan.
Detail perangkat Galaxy yang akan mendapatkan kemampuan multi-agent ini memang belum diumumkan. Besar kemungkinan informasi lebih lengkap akan diungkap dalam peluncuran produk flagship Samsung berikutnya dalam waktu dekat.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



