Jakarta, Gizmologi – Setelah pada Januari yang lalu menggelontorkan Rp1,19 Triliun di Allo Bank (BBHI), Bukalapak (IDX:BUKA) kini melanjutkan “mainan” barunya di Allo dengan meluncurkan AlloFresh. Selain Bukalapak, investornya sama dengan yang di Allo Bank yaitu CT Corp milik Chairul Tanjung dan Growtheum Capital Partners.
Ada alasan mengapa mereka membantuk platform yang namanya agak mirip dengan HelloFresh dan HappyFresh ini. Meskipun terjadi peningkatan signifikan aktivitas e-commerce, pasar daring belanja kebutuhan sehari-hari masih berada di bawah 2% dibandingkan total pengeluaran ritel kebutuhan sehari-hari Indonesia.
“Angka ini sangat rendah jika dibandingkan dengan share kebutuhan sehari-hari (groceries) dari total seluruh pengeluaran ritel di Asia Tenggara yang mencapai 50%. Sebagai Independent Commissioner AlloFresh, saya antusias untuk memberikan kenyamanan dalam belanja barang sehari-hari secara daring pada jutaan masyarakat Indonesia,” ujar Olivier Legrand, Transaction Advisory Member Growtheum Capital Partners.
Bagi yang belum familiar, Growtheum Capital adalah sebuah konsorsium investasi yang diisi sejumlah perusahaan startup hingga konglomerat Asia Tenggara, sebagian besar Indonesia. Di antaranya Emtek, Carro, Triputra, Traveloka, Kopi Kenangan, Temasek, VN Life, dan lainnya. Dua proyek yang baru digarap oleh Growtheum Capital adalah Allo Bank dan AlloFresh ini.
Apa itu AlloFresh?
AlloFresh adalah sebuah platform daring belanja kebutuhan sehari-hari yang menawarkan lebih dari 150.000 stock-keeping units (SKUs) di 144 kategori. AlloFresh menawarkan pilihan pengiriman cepat dalam waktu 3 jam serta layanan quick commerce ke seluruh Indonesia.
Keahlian digital serta pemahaman mendalam atas perilaku daring pelanggan yang dimiliki oleh Bukalapak merupakan bagian penting AlloFresh untuk mendefinisikan kembali kategori ini dan menjadi pioneer di pasar. Adanya proses integrasi dengan perusahaan ritel offline terbesar di Indonesia untuk kebutuhan sehari-hari juga membantu mempercepat transformasi bisnis Bukalapak dari dari platform umum menjadi platform khusus (specialty platform).
Sementara itu Trans Retail Indonesia memiliki rangkaian produk yang luas dengan pemasok dan produsen produk makanan dan rumah tangga paling populer di Indonesia. Pelanggan Bukalapak kini dapat memesan kebutuhan sehari-harinya melalui aplikasi AlloFresh yang tersedia di App Store dan Google Playstore, sekaligus “Click & Go” di toko-toko TRANSMart. Sebagai tahap awal, AlloFresh dapat mengirimkan pesanan belanja kebutuhan sehari-hari untuk pelanggan di wilayah Jakarta.
Komposisi kepemilikan saham di AlloFresh
Bukalapak, CT Corp melalui PT Trans Retail Indonesia (Trans Retail) dan Growtheum Capital Partners melalui Berani Investment Pte Ltd (BIP), telah membentuk suatu joint venture yang bernama PT Allo Fresh Indonesia. Untuk memulai bisnisnya, di laman Bukalapak disebutkan bahwa AlloFresh menerima pendanaan awal sebesar Rp 1 triliun. Meski demikian, CNBC Indonesia melaporkan bahwa Bukalapak diketahui menyetorkan modal sebesar Rp 777,8 miliar dengan memiliki 35% saham, sedangkan Trans Retail dan BIP masing-masing 55% dan 10%.
Chairul Tanjung, Chairman CT Corp yang mengatakan sebagai peritel modern terkemuka di tanah air, pihaknya selalu memberikan harga terbaik dan pengalaman berkualitas kepada pelanggan. Terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan dan menjadi yang terdepan dalam menyediakan pengalaman omnichannel serta offline dan online untuk pembeli.
“Kemitraan dengan pemain teknologi yang sudah memiliki pemahaman mendalam tentang perilaku pengguna daring serta dengan investor keuangan yang mengenal pasar secara dekat membuat kami optimis tentang masa depan bersama, terutama karena sebagian besar pasar akan bergerak secara online selama beberapa dekade ke depan,” ujar Chairul Tanjung.
Sementara Willix Halim, CEO Bukalapak mengatakan, kehadiran AlloFresh mengukuhkan posisi Bukalapak sebagai perusahaan teknologi all-commerce terdepan, termasuk dalam layanan online-to-offline (O2O), serta mengembangkan titik kontak yang lebih luas ke pelanggan dalam ekosistem ritel.
“Seperti yang dilakukan dalam inisiatif Mitra Bukalapak, kombinasi model unik dan kerjasama yang menguntungkan dengan rekan strategis akan memberikan peluang besar untuk melayani pertumbuhan permintaan di segmen ini,” imbuhnya.
Apakah aksi korporasi ini bakal mendongkrak kinerja Bukalapak? Laporan keuangan yang terakhir dipublikasikan adalah kinerja kuartal ketiga tahun 2021. Kinerja Bukalapak dilaporkan dengan Total Processing Value (TPV) pada 9 bulan pertama tahun 2021 (9M21) tumbuh 51% menjadi Rp 87,9 triliun. Mitra Bukalapak merupakan penggerak utama pertumbuhan yang bertambah 179% menjadi Rp 40,0 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan Bukalapak pada 9M21 tumbuh 42% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 1,3 triliun. Namun kerugian operasionalnya masih sebesar Rp 1,2 triliun di 9M21. Sementara itu harga saham Bukalapak di BEI terus merosot, di mana per hari ini (4/3) ditutup dengan harga Rp324.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




