Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Skema Bagi Hasil Hacktiv8 Permudah Kesempatan Tempuh Pendidikan IT

0 289

Menghadapi tahun 2021, tentunya bakal banyak yang berubah dalam segala aspek hidup keseharian, terutama pasca adanya pandemi Covid-19. Bagi masyarakat yang baru saja ingin mencari pekerjaan, terutama di bidang teknologi, mungkin akan mendapatkan situasi persaingan yang berbeda, di mana skill yang dibutuhkan bakal berubah.

Dengan adanya disrupsi digital besar-besaran, mereka harus mempelajari skill baru yang mungkin lebih relevan nantinya. Untuk membantu permudah situasi tersebut, Hacktiv8 sebagai coding bootcamp pertama di Indonesia mencoba hadirkan sebuah alternatif sistem pembayaran menarik. Yaitu Income Share Agreement (ISA) atau Skema Bagi Hasil. Beri kesempatan mereka yang ingin mengasah kemampuan di bidang IT.

Sistem tersebut terbangun atas beberapa riset yang ditemukan oleh Hacktiv8, di mana dari riset milik LinkedIn, ditemukan 6 dari 10 skill yang paling dibutuhkan perusahaan berada pada sector IT. Keenamnya adalah blockchain, cloud computing, Analisa data, pengembangan kecerdasan buatan (AI), desain UX/UI dan scientific computing.

Baca juga: Telkomsel Umumkan IndonesiaNEXT 2020, Siap Cetak SDM Unggul

Hacktiv8 Terangkan Skema Income Share Agreement (ISA)

Hacktiv8

Meski skill yang dibutuhkan untuk bidang IT semakin tinggi, sayangnya situasi tersebut tidak selaras dengan meningkatnya minat pelajar untuk geluti bidang teknologi informasi. Kesempatan bagi mereka untuk belajar dan meniti karir pada bidang tersebut seringnya terhambat biaya pelatihan atau pendidikan yang tinggi. Di sinilah sistem Skema Bagi Hasil milik Hacktiv8 bisa dijadikan solusi.

Dalam sebuah rilis yang diterima Gizmologi (30/1), Ronald Ishak selaku CEO dari Hacktiv8 mengatakan bila Indonesia termasuk salah satu ekosistem teknologi dengan pertumbuhan tercepat di dunia. “Kami melihat banyaknya permintaan untuk posisi developer (pengembang aplikasi), namun kurangnya sarana pendidikan di bidang teknologi informasi,” jelasnya.

Ia menambahkan, Program Income Share Agreement dari Hacktiv8 permudah mereka yang ingin dapatkan pendidikan IT intensif sampai siap kerja, tanpa perlu membayar biaya di muka. Pada program ini, alumni Hacktiv8 tak perlu bagikan pendapatan sebelum bekerja atau mencapai batas minimum pendapatan per bulan sebesar Rp8 juta.

Setelah mencapai nilai tersebut, barulah dilakukan pembagian pendapatan sebesar 20% kepada Hacktiv8, tanpa bunga atau denda. Total maksimal pembayarannya pun tak melebihi nominal Rp60 juta atau 1,5 kali biaya pendidikan yang sudah ditempuh. Periode waktu maksimalnya lima tahun, dan jika alumni ada yang belum melakukan pembagian pendapatan (karena menganggur atau pendapatan belum memenuhi syarat), maka biaya pendidikan akan diputihkan tanpa denda.

Telah Mencetak Lebih dari 250 Alumni Sukses

Coding bootcamp Hacktiv8

Menjadi pelopor program Income Share Agreement (ISA) di Indonesia, Hacktiv8 telah mendapat banyak respon positif dari kalangan siswa dan penyedia kerja. Diluncurkan sejak 2019, sudah lebih dari 250 siswa yang mendaftar, dan sukses mendapat pekerjaan impian berprospek tinggi. Mayoritas lulusan mendapat pekerjaan dalam rentang waktu 90 hari, dengan rata-rata penghasilan Rp10 juta (gross).

Salah satu alumni yang bergabung dalam program ISA Hacktiv8 adalah Ahmad Waluyo. Berawal dari staf Gudang, staf studio foto, pramusaji di restoran sampai pengemudi ojek online, kini ia menjadi full-stack engineer di salah satu perusahaan swasta, setelah menempuh program bootcamp selama pandemi.

“Melihat persaingan dunia kerja yang sudah semakin berat, saya merasa harus meningkatkan kapasitas diri agar tidak kalah bersaing. Akhirnya saya memberanikan diri resign dari pekerjaan, dengan modal satu bulan gaji,” tambah Waluyo. Hacktiv8 sendiri telah bekerjasama dengan lebih dari 250 mitra rekrutmen, untuk pasangkan alumni dengan pekerjaan paling sesuai melalui fasilitas penempatan kerja.

Misi dari Hacktiv8 adalah membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi semua orang. “Fokus kami adalah memberikan edukasi, menempatkan para alumni di tempat kerja yang tepat, dan meningkatkan kualitas hidup mereka—bukan semata-mata memberikan ijazah,” jelas Ronald.

Tinggalkan komen