Gizmologi
Take a fresh look at your lifestyle.

Tantangan Transformasi Digital Dunia Pendidikan di Indonesia

Menurut hasil penelitian Quality of Live and Education Ranking 2020 yang dilakukan USNEWS.com bekerjasama dengan BAV Group dan Wharton School University of Pennsylvania, negara dengan rangking pendidikan bagus cenderung punya kualitas hidup yang bagus.

Kanada misalnya, sebagai negara dengan kualitas hidup terbaik, kualitas pendidikan mereka ada di peringkat ketiga diantara 73 negara yang diteliti. Indonesia sendiri untuk pendidikan ada di ranking 55, dengan ranking quality of live di peringkat 32.

Menurut Fernando Uffie, Founder Kelas Pintar, kondisi pendidikan di Indonesia menjadi tanggung jawab bersama. Mengingat kompleksitas dunia pendidikan di Indonesia tentu tidak sebanding dengan Singapura misalnya. Di Indonesia, berdasarkan data yang ada, ada lebih dari 300 ribu sekolah dan 50 juta siswa yang tersebar di lebih dari 17 ribu pulau.

“Wajar jika akses pendidikan berkualitas dianggap masih menjadi sesuatu yang ‘mahal’ di Indonesia. Disparitas-nya masih menganga lebar. Kesenjangan infrastruktur, tenaga pengajar, hingga akses terhadap literasi masih menjadi kendala,” ujar Uffie, saat menjadi pembicara di  Seminar Nasional Tren Edutech 2020 di Balai Kartini, Jakarta (20/02).

Untuk itulah, Uffie menambahkan, teknologi perlu dihadirkan dalam dunia pendidikan. Di mana kita bisa mengambil contoh bagaimana teknologi meng-amplify ekosistem finansial. “Di ekosistem tersebut, kita bisa melihat bagaimana fintech mengintegrasikan user, transportasi, industri retail dan lembaga keuangan,” imbuhnya.
Baca juga: Samsung Bangun Ruang Kelas Digital untuk Tingkat SMA

Pemanfaatan Teknologi 

Menurut Uffie, di dunia pendidikan, setidaknya ada 4 komponen yang kurang lebih serupa. Disana ada siswa, guru, sekolah dan orang tua. Dan solusi edutech harus bisa mengintegrasikan dan mengamplifikasi ekosistem tersebut.

Terkait arah pengembangan pendidikan berbasis teknologi, Uffie menjabarkan sejumlah hal. Pertama yang disentuh oleh teknologi di dunia pendidikan adalah akses. Untuk itu, kolaborasi antara dunia pendidikan dan penyedia infrastruktur internet sudah menjadi sebuah keniscayaan. Dari segi perangkat, smartphone akan jadi perangkat akses utama. Sehingga, solusi pendidikan, baik yang terkait langsung dengan siswa, guru, maupun sekolah, hingga solusi yang sifatnya administratif, harus disesuaikan dengan plaform smartphone.

Lalu ada Collaborative Platform, dimana semua model interaksi antara stake holder dunia pendidikan, harus bisa diakomodasi oleh platform pendidikan berbasis teknologi. Dan didalamnya kita juga bicara tentang blended learning lengkap dengan teknologi pendukung seperti Artificial Intelligent dan Machine learning.

Sementara untuk konten, maka video learning dan mixed reality dimana perangkat dan konten Virtual Reality akan membantu siswa untuk bereksperience secara lebih nyata, akan menjadi tren di dunia pendidikan di masa yang akan datang. “Nantinya, orang tua tidak lagi bertanya tentang nilai anaknya tapi mereka bertanya tentang analisa data dari siswa, untuk bisa memprediksi, mengantisipasi dan mencegah siwa dari kegagalan,” imbuhnya.

Uffie sendiri mendirikan startup edutech bernama Kelas Pintar. Ini adalah penyedia solusi belajar online dengan metode pintar, personal dan terintegrasi. Sebagai sebuah solusi pendidikan berbasis teknologi, Kelas Pintar didesain untuk menguatkan dan mensinergikan peran guru, sekolah dan orang tua dalam proses pembelajaran siswa melalui sebuah platform yang terintegrasi.

Seminar Tren Edutech 2020

Isu Utama Pendidikan

Sementara itu Prof. Dr. Waras Kamdi, M.Pd, perwakilan dari BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan), mengatakan nantinya masyarakat kita pada 2045 akan terbagi menjadi dua kelompok. Masyarakat terbuka adalah masyarakat yang responsif terhadap perubahan dan hidup dalam hiper-inovatif.

Di sisi lain ada juga masyarakat tradisi yang bertahan pada ikatan-ikatan “dalam” seperti tradisi, agama, adat, kepercayaan, dan lainnya. “Nantinya 30 tahun mendatang, Indonesia akan memiliki dua tipe masyarakat ini. Dan, tugas pendidikan adalah menjaga hubungan antara masyarakat terbuka dan tradisi,” ujarnya.

Menurut Prof Waras, ada tiga isu utama dalam pendidikan. Pertama, Anak-anak yang sekarang lahir, 25 tahun yang akan datang akan memasuki masa-masa kerja. Anak-anak yang sudah lulus wisuda hari ini, 20 tahun ke depan akan menjadi pemimpin. Nah, profil lulusan macam apa yang akan kita inginkan dalam 25 tahun mendatang, itu pesoalan pertama.

Kedua, inovasi. Generasi ini memiliki karakteristik yang unik. Hidup, belajar yang berbeda. Makanya butuh inovasi belajar yang ada. Ketiga, membutuhkan kekuatan infrastruktur pendidikan sebagai pilar utama. Basisnya, cloud computing, big data, super apps, IoT, dan AI.

Mengenai kompetensi guru, ada beberapa hal yang menjadi tekanan. Peran sebagai inspirator, kolaborator, co-learner, co-investigator bagi siswa. Memperhatikan modalitas belajar, mendesain bahan belajar digital, mengaransemen sumber belajar, mengelola kemauan belajar siswa.

Gogot Suharwoto, Ph.D, Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekom) menambahkan, setidaknya ada empat tantangan pendidikan di Indonesia. Pertama, kesenjangan kebutuhan konten pembelajaran dan media bahan ajar guru (keterbatasan konten). Kedua, kesenjangan kompetensi TIK guru. Ketiga, kesenjangan generasi antara siswa, guru dan orang tua. Keempat, kesenjangan kondisi geografis.

Transformasi Digital

Di era revolusi 4.0 banyak teknologi yang akan kita temui, seperti cloud computing, kecerdasan buatan, internet of things, 5G, digitalisasi dan big data. Kesemua teknologi tersebut memiliki potensi di dunia pendidikan.

“Cloud computing misalnya, kita sudah menggunakannya di UNBK, e-rapor, dan sebagainya. AI menjadi kunci layanan pembelajaran berbasis personalisasi, sementara IoT mendukung pembelajaran yang kolaboratif dan kreatif di kelas. Saat ini, intinya kita sudah menggunakan teknologi terkini di dunia pendidikan,” ujar Gogot.

Ada beberapa program transformasi digital yang digagas Kemendikbud, termasuk akses (BOS Afirmasi, BOS Kinerja, BOS Reguler, bantuan tik sekolah), mutu dan relevansi (PembaTIK, MembaTIK), dan tata kelola (Dapodik, e-raport).

Gogot juga menyebutkan beberapa prinsip pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Di mana dukungannya bisa berupa pemberian beragam software CBT. Ia juga menyebut soal Rumah Belajar sebagai sebuah portal pembelajaran yang menyediakan bahan belajar dan fasilitas komunikasi serta interaksi antar komunitas.

“Bukan saja ditujukan untuk guru dan tenaga kependidikan, rumah belajar juga ditujukan untuk siswa dan masyarakat luas. Rumah Belajar dapat diakses secara online maupun offline. Baik melalui PC, laptop, maupun smartphone Android. Konten-konten yang disajikan dalam rumah belajar beragam, mulai dari video, audio, quiz, cong, hingga kolaborasi,” pungkasnya.