Jakarta, Gizmologi โ Berdasarkan pernyataan Luhut Pandjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Indonesia, yang mengatakan BTS atau Base Transceiver Station tak diperlukan lagi karena hadirnya Starlink (4/6/2024), ditanggapi oleh banyak pihak. Seperti Marwan O. Baasir, Sekjen ATSI, yang menanggapi pernyataan Luhut dengan mengatakan bahwa BTS masih dibutuhkan oleh masyarakat.
Pernyataan Luhut ini diungkap dalam acara โNgobrol yang Paten-Paten Aja Bareng Menko Marinvesโ di Menara Global dan juga disiarkan secara live di YouTube. Mengutip suara.com, Luhut menilai kehadiran Starlink yang berbasis satelit bisa menggantikan layanan telekomunikasi BTS.
โCoba kalau kita lihat kemarin ini, BTS-BTS itu, sekarang enggak perlu ada BTS-BTS, kan sudah ada starlink,โ ungkap Luhut dalam acara tersebut.
Baca Juga: Khawatir Sektor Pariwisata Bali Terganggu, ATSI Sesalkan Pembongkaran BTS Badung
Alasan Pernyataan Luhut, Indonesia Tak Butuh Layanan BTS

Ada alasan dibalik pernyataan Luhut yang menyampaikan Indonesia tak butuh layanan BTS. Menurutnya, kehadiran Starlink bisa membantu aspek pendidikan hingga kesehatan di Indonesia.
Selain itu, Starlink juga bisa menjangkau wilayah-wilayah yang belum mendapatkan akses internet alias blank spot. Blank spot ini juga termasuk daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
โNah kalau blank spot-nya makin kurang, komunikasi kita bisa lebih bagus lagi ke daerah-daerah terpencil untuk memberikan servis kesehatan dan juga servis pendidikan,โ pungkasnya.
Tanggapan Marwan Mengenai Pernyataan Luhut Soal BTS & Kalah Saing

โKalau lihat sekarang ya nyatanya masih butuh BTS masih dibutuhkan masyarakat nyatanya kan belum tersedia komunikasi yang mumpuni. Mungkin pernyataan beliau juga bayangan saya kaitan dengan desa,โ ujar Marwan saat ditemui di kantor XL Axiata Tower, Jakarta Selatan, Senin (10/6/2024).
Dari sisi ATSI, ia mengatakan bahwa mereka saat ini mencoba berdampingan dengan industri Starlink. Karena menurutnya Starlink merupakan pelengkap untuk backhaul dan tak mungkin tersedia 100 persen.
Terdapat juga pernyataan Luhut bahwa pelaku telekomunikasi lokal yang kalah saing dengan Starlink. Sehingga harga murah yang mungkin diberikan oleh Starlink ini tak mengapa agar ada persaingan.
โJadi kalau starlink ini, ada orang suka marah bilang kenapa boleh, ya kalau murah biarin aja. Biar bersaing. Kecuali dia lebih mahal, kan tidak,โ kata Luhut, mengutip katadata.com.
โJadi Telkom pun, mana pun ya, pak (presiden) Jokowi inginnya semua bersaing memberikan service yang lebih bagus kepada publik.โ

Ia mengatakan bahwa semua pelaku usaha di dalam atau luar negeri seperti Starlink dapat berkompetisi memberikan layanan terbaik untuk masyarakat. Namun karena perkembangan teknologi yang begitu cepat, pelaku usaha harus siap menghadapi kompetisi jika berani berbisnis pada industri ini.
โJadi dalam bidang teknologi ini, cepat return-nya, cepat juga harus (melakukan) perbaikan-perbaikan atau upgradeย teknologinya. Ya kalau kamu nggak bisa berkompetisi, ya salah kamu,โ terangnya.
Starlink memang diusung oleh pemerintah untuk menangani permasalahan jaringan di wilayah blank spot. Namun nyatanya perusahaan satelit milik Elon Musk tersebut menyasar pasar komersil juga yang membuat pemain lokal meminta peraturan yang sesuai dan adil dari pemerintah.
โKita gak tahu (Starlink wajib di 3T), cuma kita minta equal playing field kan kalau kita coverage-nya nasional dan kita nasional, ya kasih juga kewajiban 3T nya, kewajiban membangunnya, gak digratisin oleh dia dong. Atau dia yang membangun daerah itu. Fair, kan?,โ kata Marwan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



