Jakarta, Gizmologi โ Laporan berjudul The AI-fication of Cyberthreats menjelaskan bagaimana sistem agentik dan AI generatif akan memperluas skala serangan. Mulai dari malware yang menulis ulang dirinya sendiri, hingga social engineering berbasis deepfake yang semakin sulit dikenali, ancaman cyber diprediksi makin cepat dan presisi. Masalahnya tidak sekadar pada meningkatnya serangan, tetapi pada bagaimana batas antara inovasi teknologi dan eksploitasi semakin kabur.
Bagi organisasi, kondisi ini menjadi wake-up call bahwa pertahanan reaktif tidak lagi memadai. Perusahaan dituntut untuk memasukkan keamanan ke dalam setiap lapisan sistem, mulai dari pengembangan AI, operasional cloud, hingga manajemen rantai pasokan. Tanpa strategi yang adaptif dan visibilitas yang solid, mereka akan tertinggal di tengah laju otomatisasi ancaman.
Baca Juga: Susah Sinyal, Menkomdigi Pastikan Wilayah Banjir Sumatra Bisa Pulih 90%
AI Sebagai Motor Penggerak Kejahatan Siber Baru

Trend Micro menyoroti bagaimana AI kini dapat menjalankan seluruh tahapan serangan secara mandiri. Agen AI mampu melakukan pengintaian, menemukan kerentanan, hingga memonetisasi data curian. Lingkungan hybrid cloud, rangkaian software open source, dan infrastruktur AI menjadi target utama karena sifatnya yang kompleks dan sering kali minim pengawasan mendalam.
Ancaman yang paling mencolok dari awasan Trend Micro adalah evolusi ransomware menjadi ekosistem otonom. Serangan bukan lagi sekadar enkripsi data, melainkan mencakup identifikasi target, eksploitasi otomatis, hingga negosiasi melalui โextortion botsโ. Dengan kata lain, kecepatan dan kegigihan serangan nantinya tidak lagi dibatasi oleh waktu atau tenaga manusia seperti di masa lalu.
Dampak ke Perusahaan dan Strategi Bertahan Menghadapi 2026
Selain serangan agresif, Trend Micro menegaskan bahwa tantangan lain datang dari potensi penyusupan AI dan modul berbahaya ke dalam workflow perusahaan. Kode sintetis, model AI yang dirusak, dan paket open source yang dimanipulasi dapat menyusup secara halus tanpa terdeteksi. Bahkan, strategi spionase โharvest-now, decrypt-laterโ yang memanfaatkan kemajuan komputasi kuantum masa depan, dan diprediksi makin banyak dilakukan kelompok kriminal dan negara.
Trend Micro menyarankan pergeseran budaya keamanan dari sekadar โmelindungiโ menjadi โmembangun ketahananโ. AI harus digunakan secara etis dan diawasi manusia, sementara sistem keamanan harus semakin otomatis namun tetap memiliki validasi manusia. Organisasi yang mampu menyeimbangkan kecepatan inovasi dengan tata kelola yang kuat disebut akan lebih mudah bertahan di era ancaman otonom ini.
Dengan ancaman yang semakin kompleks, tahun 2026 akan menjadi titik penting. Keamanan bukan lagi urusan divisi IT semata, tetapi fondasi strategis dalam menjaga kepercayaan dan kelangsungan bisnis di dunia digital yang semakin mandiri.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



