Jakarta, Gizmologi โ Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) baru-baru ini menyatakan kesediaannya untuk mendiskusikan transfer teknologi chip 2 nm ke negara-negara demokrasi sekutu. Namun, hal ini baru akan dilakukan setelah peluncuran massal utama di Taiwan pada akhir 2025. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Dewan Sains dan Teknologi Nasional Taiwan, Cheng-Wen Wu, yang menunjukkan pergeseran dari sikap sebelumnya. Sebelumnya, Menteri Urusan Ekonomi, J.W. Kuo, menekankan adanya pembatasan hukum terkait transfer teknologi proses canggih ini ke luar negeri.
Meskipun ada perbedaan pernyataan, keduanya sepakat pada satu hal: waktu implementasi teknologi ini akan berbeda di setiap lokasi. TSMC berencana mengawali produksi teknologi 2 nm di Taiwan, sementara fasilitas luar negeri akan tertinggal satu hingga dua generasi teknologi. Langkah ini menunjukkan strategi yang hati-hati untuk memastikan keunggulan kompetitif Taiwan tetap terjaga dalam industri semikonduktor global.
Namun, tekanan internasional terhadap TSMC dan Taiwan terus meningkat, terutama setelah kritik dari Presiden AS terpilih, Donald Trump, mengenai produksi semikonduktor. Kritik tersebut memicu diskusi tentang bagaimana negara-negara demokrasi dapat bekerja sama untuk mengurangi ketergantungan pada Taiwan sebagai pusat manufaktur chip canggih.
Baca Juga: Sony Spatial Reality Display dan NVIDIA Omniverse: Era Baru Desain 3D Tanpa Batas
Rencana Produksi TSMC di AS
TSMC telah merancang rencana ambisius untuk memperkenalkan teknologi chip 2 nm di fasilitasnya di Arizona, Amerika Serikat, pada tahun 2030. Sebelum itu, fasilitas tersebut, yang dikenal sebagai Fab 21, akan memulai produksi dengan teknologi N4 dan N5 pada awal 2025, diikuti oleh 3 nm pada 2028. Rencana ini mencerminkan upaya untuk memperluas kapasitas manufaktur di luar Taiwan, tetapi ada tantangan besar yang harus dihadapi untuk mempercepat jadwal ini.
Dilansir dari TechPowerUp, salah satu tantangan utama adalah keterbatasan sumber daya manusia. Industri semikonduktor memerlukan insinyur, ilmuwan, dan pekerja pabrik yang sangat terampil. Taiwan memiliki keunggulan dengan basis tenaga kerja yang telah berpengalaman dan sistem yang terintegrasi antara riset dan pengembangan dengan proses manufaktur. Menduplikasi ekosistem ini di tempat lain, terutama di AS, memerlukan waktu, investasi, dan adaptasi yang signifikan.
Selain itu, kekurangan global peralatan fabrikasi semikonduktor menjadi hambatan lain. Produksi chip 2 nm membutuhkan peralatan mutakhir yang saat ini sulit diperoleh dalam jumlah besar. Hal ini semakin memperumit upaya untuk mempercepat implementasi teknologi terbaru di luar Taiwan.
Kritik Trump dan Masa Depan Kebijakan Semikonduktor AS

Donald Trump baru-baru ini mengkritik CHIPS and Science Act, kebijakan yang bertujuan mendukung produksi chip domestik melalui insentif finansial. Trump mengusulkan pendekatan alternatif, seperti tarif perdagangan, untuk mendorong manufaktur di dalam negeri. Kritik ini memicu perdebatan tentang efektivitas kebijakan saat ini dalam mengurangi ketergantungan AS pada manufaktur chip asing.
Transfer teknologi dari Taiwan ke AS mungkin terdengar menjanjikan, tetapi tantangan praktisnya tidak bisa diabaikan. Selain kendala teknis dan logistik, waktu yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas semikonduktor canggih di AS akan membuat teknologi 2 nm baru tersedia pada akhir dekade ini. Saat itu, Taiwan diperkirakan sudah memproduksi node yang lebih canggih, sehingga tetap memimpin dalam inovasi semikonduktor.
Bagi AS, mempertahankan daya saing dalam industri ini memerlukan kebijakan yang terintegrasi, termasuk insentif untuk riset dan pengembangan serta penguatan tenaga kerja. Namun, tanpa kolaborasi erat dengan mitra seperti Taiwan, upaya ini berisiko tertinggal dari dinamika global yang terus berkembang.
Pernyataan Taiwan tentang kemungkinan transfer teknologi chip 2 nm ke negara demokrasi menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya kerja sama internasional. Namun, peluncuran utama tetap diprioritaskan di Taiwan, memastikan bahwa negara ini tetap menjadi pusat utama inovasi semikonduktor dunia.
Di sisi lain, kritik Donald Trump terhadap kebijakan semikonduktor AS mencerminkan kebutuhan untuk mengevaluasi pendekatan yang lebih efektif dalam memperkuat industri domestik. Dengan tantangan besar seperti keterbatasan sumber daya dan waktu, keberhasilan produksi semikonduktor canggih di luar Taiwan memerlukan upaya kolektif, baik dari pemerintah maupun sektor swasta.
Ke depan, kerja sama yang erat antara Taiwan, AS, dan negara-negara demokrasi lainnya menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem manufaktur semikonduktor yang lebih beragam dan tangguh. Langkah ini tidak hanya akan meningkatkan ketahanan ekonomi, tetapi juga memperkuat keamanan teknologi global di tengah persaingan geopolitik yang semakin intens.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



