alexa
Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Pertumbuhan Diprediksi Melambat, Twitter Optimis Capai Target di 2021

Selama pandemi, Twitter menjadi saksi beberapa peristiwa selama 2020. Mulai dari memanasnya Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2020 yang selalu dihiasi dengan cuitan-cuitan sinis Donald Trump. Hingga merebaknya info simpang siur mengenai Covid-19, dan lainnya.

Sebagaimana kita tahu, Twitter menjadi tolok ukur seberapa terkenalnya dan berpengaruh peristiwa itu di masyarakat. Dengan peristiwa yang terjadi di 2020, ini membantu meningkatkan basis pengguna ke tingkat yang lebih tinggi. Walau begitu, ini tidak lantas menjamin keberhasilan platfrom media sosial tersebut di 2021.

Berdasarkan surat kepada pemegang saham,  Twitter melaporkan 192 juta pengguna aktif harian yang dapat dimonetisasi, meningkat dari 187 juta yang dilaporkan kuartal lalu, dan naik 27 persen dari tahun lalu. Twitter berujar lonjakan pertumbuhan yang dimulai musim semi lalu diperkirakan akan melambat di 2021.

Baca juga: Instagram, Twitter, dan TikTok Kompak Perangi Pencurian Akun Terkait “OGUsers”

Walau begitu, Twitter mempunyai secercah harapan dari sisi pendapatan. Dengan perusahaan melaporkan pendapatan $ 1,29 miliar untuk kuartal tersebut yang meningkat 28 persen dari tahun lalu. Pendapatan untuk tahun ini mencapai $ 3,72 miliar, meningkat 7 persen dari 2019. Dengan demikian, pihaknya tetap optimis dapat mencapai target yang telah ditentukan pada Maret 2020 yaitu mencapai target pertumbuhan 20 persen.

Tahun Penuh Gejolak di Twitter

Twitter fitur Event page Covid-19

Seperti kebanyakan perusahaan yang mengandalkan iklan, Twitter pada awalnya mengalami kesulitan ketika awal pandemi Covid-19 mulai menyebar ke seluruh dunia, meskipun pendapatan mulai pulih di akhir tahun.

Twitter mengungkapkan mereka melihat “penurunan” singkat dalam pengeluaran iklan sekitar pemilihan November, tetapi minat pengiklan itu pulih menjelang liburan. Hasilnya muncul setelah tahun yang penuh gejolak untuk Twitter. Perusahaan harus memperhitungkan krisis disinformasi setelah pandemi global.

Pada 2020 menjadi momen bersejarah, dengan fenomena Pemilihan Presiden Amerika Serikat yang belum pernah terjadi sebelumnya memuncak dan twitter secara permanen melarang akun milik Donald Trump. Di samping itu, Twitter juga berbangga ketika mereka mengeluarkan fitur-fitur terbaru seperti Fleets dan Spaces.

Fitur dan Kerja Sama Terbaru

Fleet adalah fitur yang diciptakan Twitter untuk berbagi foto, video, postingan tweet atau konten lainnya. Layaknya, WhatsApp Stories atau Instagram Stories, fitur ini akan menghilang secara otomatis dalam 24 jam. Pengguna Twitter dapat mengomentari dan mengirimkan emoji.Dengan fitur terbaru ini, merupakan cara baru dan mudah untuk membagikan apa yang ada dipikiran si pengguna.

Selain itu, Twitter mempunyai terobosan terbaru dengan mengeluarkan Spaces. Fitur ini memungkinkan pengguna memulai chat room (ruang percakapan) dengan basis suara.

Penguji cobaan sendiri, telah dilakukan pada Desember 2020. Pengguna yang dapat menikmati fitur ini pertama kali, dikhususkan pada perempuan dan orang-orang yang termarjinalkan. Dua pihak tersebut, sangat rawan menjadi sasaran tindak kekerasan dan pelecehan berdasarkan percakapan ataupun komentar yang dilakukan di Spaces.

Baru-baru ini, Twitter juga telah mengumumkan kesepakatan kerja sama dengan mengakuisisi platform buletin Revue. Revue didirikan di Belanda pada 2015 dan memiliki enam karyawan. Pada saat ini, itu akan terus beroperasi sebagai layanan independen, tetapi Twitter mengatakan pihaknya berencana untuk mengintegrasikan Revue untuk “bekerja dengan mulus di dalam Twitter.”

Tinggalkan komen