Jakarta, Gizmologi – Perusahaan pengembang protokol Unicity Labs baru saja mengumumkan keberhasilan mereka meraih pendanaan awal (seed funding) senilai $3 juta. Putaran pendanaan strategis ini dipimpin oleh Blockchange Ventures, dengan partisipasi dari Tawasal, sebuah aplikasi super (super app) komunikasi dari Timur Tengah, dan Outlier Ventures selaku investor tahap awal Web3 terkemuka.
Seperti Gizmo friends ketahui, Unicity Labs berfokus membangun arsitektur kriptografi peer-to-peer revolusioner bernama Unicity Protocol. Teknologi inovatif ini memungkinkan agen AI, berupa entitas perangkat lunak yang bisa menemukan layanan dan bernegosiasi secara independen, untuk membentuk pasar tanpa perantara (trustless marketplaces) dengan kecepatan mesin. Langkah ini dinilai sangat esensial dan tepat waktu mengingat pasar global untuk agen AI diproyeksikan akan meroket melampaui angka $100 miliar pada tahun 2032 mendatang.
“Satoshi menulis buku berjudul ‘Uang Tunai Elektronik Peer-to-Peer.‘ Tujuh belas tahun kemudian, kita masih belum memiliki uang tunai elektronik atau peer-to-peer yang sesungguhnya. Setiap transaksi masih merutekan melalui buku besar bersama (shared ledgers), memunculkan hambatan yang tidak perlu,” ujar Mike Gault, CEO dari Unicity Labs, menyoroti masalah utama pada infrastruktur transaksi saat ini.
Gault kemudian menambahkan ambisi perusahaannya yang ingin mengubah hal tersebut. “Kami tidak sedang membangun pasar atau platform perdagangan lain. Kami membangun infrastruktur di bawahnya. Unicity menyediakan tempat dan rel yang memungkinkan agen-agen untuk saling menemukan dan menyelesaikan transaksi secara langsung, tanpa gesekan, peer-to-peer, pada skala dan kecepatan yang dituntut oleh ekonomi agen.”
Baca juga: Mengenal BRETT, Koin Meme Viral di Blockchain Base
Unicity Bangun Masa Depan Ekonomi Berbasis Agen AI

Untuk mendukung visi membangun sistem tersebut, tim Unicity Labs diisi oleh talenta kelas atas yang sebelumnya sukses membangun dan melakukan exit pada perusahaan infrastruktur keamanan siber, Guardtime. Tim ahli ini mencakup para peneliti bergelar PhD di bidang sistem terdistribusi, kriptografi, dan machine learning. Selain itu, perusahaan juga baru-baru ini mendirikan yayasan Unicity Foundation di Swiss yang ditugaskan khusus untuk mengawasi tata kelola protokol, pendanaan hibah, serta pengembangan teknologi open-source agar ekosistem ini bisa tumbuh transparan dan berkelanjutan.
Seiring dengan meningkatnya otonomi agen AI ke depannya, mereka akan dituntut untuk bisa menemukan layanan, menegosiasikan persyaratan, dan menyelesaikan transaksi secara terus-menerus dalam skala masif tanpa campur tangan manusia. Sayangnya, infrastruktur komputasi yang ada saat ini memaksa sebuah kompromi: melakukan sentralisasi melalui raksasa teknologi yang mengorbankan keamanan tanpa perantara (trustlessness), atau mengandalkan sistem blockchain tradisional yang justru akan mengalami kemacetan parah ketika jutaan agen AI bertransaksi secara serentak.
Menanggapi dilema skalabilitas tersebut, Matt Immerso, General Partner di Blockchange Ventures mengatakan, “Model buku besar bersama yang mendefinisikan dekade terakhir dirancang sebelum dunia yang digerakkan oleh AI yang kita masuki sekarang. Unicity tidak sekadar menambal sistem lama, mereka membangun penerusnya berkat inovasi kritis mereka yang memisahkan transaksi dari validasi. Dengan membuat jaringan hanya mengonfirmasi keunikan aset alih-alih memproses seluruh konteksnya, Unicity memberikan terobosan dalam kecepatan, skala, dan biaya yang merupakan prasyarat mutlak untuk masa depan yang ditenagai oleh agen otonom.”
Pergeseran arsitektur teknologi radikal yang dibawa Unicity ini dinilai sebagai kunci untuk memecahkan kebuntuan industri dan mewujudkan potensi penuh dari ekonomi AI. Industri telah menghabiskan satu dekade mengoptimalkan buku besar bersama. Unicity mengajukan pertanyaan yang sama sekali berbeda: bagaimana jika agen sama sekali tidak membutuhkan buku besar bersama? Pergeseran arsitektur itulah yang memungkinkan perdagangan antar-agen berskala masif,” tambah Dimitrios Chatzianagnostou, CIO dari Outlier Ventures.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



