Jakarta, Gizmologi – Xiaomi kembali mencuri perhatian lewat kabar terbaru soal Xiaomi Modular Optical System, sebuah konsep kamera modular yang sempat dipamerkan sebagai prototipe di ajang MWC tahun lalu. Saat itu, Xiaomi masih menyebutnya sebagai proyek riset tanpa kepastian masa depan. Kini, laporan terbaru menyebut perangkat ini akan segera masuk tahap produksi massal dan dijual secara komersial dalam waktu dekat.
Jika benar terealisasi, ini akan menjadi langkah berani Xiaomi di tengah stagnasi inovasi kamera smartphone. Alih-alih sekadar menambah jumlah sensor atau bermain di software, Xiaomi mencoba menawarkan pendekatan berbeda dengan kamera lepas-pasang berukuran lebih besar dari sensor ponsel pada umumnya.
Namun, seperti banyak eksperimen ambisius lainnya, pendekatan ini datang dengan sejumlah kompromi. Teknologinya menjanjikan, tapi tidak serta-merta relevan untuk semua pengguna, bahkan untuk semua ponsel Xiaomi sendiri.
Baca Juga: POCO F8 Versi Reguler Dikonfirmasi Tidak Dirilis, Begini Alasannya
Kamera Modular dengan Sensor Besar dan Pendekatan Unik

Xiaomi Modular Optical System ini mengusung sensor micro four-thirds 100MP, dipadukan dengan lensa 35mm yang memiliki bukaan variabel dari f/1.4 hingga f/11, lengkap dengan cincin fokus manual. Secara spesifikasi, ini jelas melampaui kamera smartphone konvensional dan sudah mendekati kamera mirrorless entry-level.
Sensor Xiaomi Modular Optical System juga mendukung native 2x zoom dengan pixel binning, yang secara teori memberikan fleksibilitas lebih tanpa terlalu mengorbankan kualitas. Yang membuatnya benar-benar berbeda adalah koneksi LaserLink, jalur data berkecepatan hingga 10Gbps dengan latensi rendah, sehingga modul kamera ini bisa memanfaatkan ISP milik ponsel untuk pemrosesan gambar.
Pendekatan ini menghindari kebutuhan prosesor atau baterai terpisah di modul kamera. Hasilnya, desain jadi lebih sederhana dan efisien, setidaknya di atas kertas.
Inovatif, tapi Penuh Batasan Praktis
Di balik keunggulannya, ada sejumlah catatan penting. Modul ini hanya bisa digunakan pada ponsel tertentu yang memiliki magnet ala Qi2 sekaligus koneksi LaserLink khusus. Artinya, kompatibilitas sangat terbatas. Kabarnya, flagship Xiaomi Mix 5 akan menjadi perangkat pertama yang mendukung sistem ini.
Dari sisi ergonomi, prototipe yang sempat dicoba memiliki bobot sekitar 100 gram. Pada ponsel berukuran kecil, beban ini terasa agak janggal. Selain itu, modul kamera akan mati saat tidak digunakan dan membutuhkan beberapa detik untuk menyala kembali, sesuatu yang bisa mengganggu momen spontan.
Xiaomi Modular Optical System jelas menunjukkan visi jangka panjang yang menarik. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada seberapa luas dukungan perangkat dan seberapa praktis sistem ini dalam penggunaan sehari-hari. Inovatif, iya, tapi masih jauh dari solusi universal.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



