Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Perluas Bisnis Supply Chain, Advotics Dorong Digitalisasi UKM Indonesia

0 439

Berjalannya supply chain atau rantai pasok sangat menjadi penentu kelajuan sebuah industri, yang bisa bermacam-macam seperti otomotif, FMCG, elektronik dan lainnya. Diperlukan kelancaran proses mulai dari bahan baku oleh penyedia, sampai ke ritel dan end consumer. Sebagai perusahaan teknologi analitik rantai pasok, Advotics hadir untuk memberikan solusi yang lebih baik.

Boris Sanjaya, Co-founder & CEO Advotics, mengatakan misi perusahaan yang dirintisnya ini adalah menghadirkan visibilitas terhadap aktivitas terkait supply chain untuk stakeholder terkait. Salah satu solusi yang ditawarkan, Workforce Management System, telah terbukti berhasil meningkatkan kunjungan tenaga pemasar (salesman) ke toko sebesar 40 persen, dan penjualan hingga 53 persen.

Startup lokal di bidang supply chain tersebut menyasar perluasan bisnisnya melalui dukungan terhadap upaya digitalisasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia. Mereka menyediakan platform berbasis cloud untuk mendigitalkan tenaga kerja, jaringan bisnis, serta aset dan produk fisik milik perusahaan.

Baca juga: ASUSPRO D540MC, PC Desktop Tangguh untuk UKM

Advotics Ingin Menjadi Mitra UKM Indonesia

Digitalisasi UKM sendiri menjadi isu penting di Indonesia. Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM pada 2018, sudah tercatat sebanyak 783,132 usaha kecil dan 60,702 usaha menengah, diperkirakan memberikan kontribusi sebesar 60 persen dari produk domestik bruto Indonesia (PDB).

“Sebagai perusahaan yang berdiri dengan misi untuk mengatasi tantangan sebagian besar perusahaan dalam mengelola dan melacak operasional penjualan dan distribusi produk secara manual, Advotics ingin menjadi mitra UKM Indonesia dalam melakukan transformasi digital,” kata Boris Sanjaya saat sesi jumpa media di Plaza Kuningan, Jakarta (12/03).

“Pemanfaatan teknologi yang tepat sangat memungkinkan UKM untuk meningkatkan produktivitas dan performa bisnis karena sistemnya yang online dan dapat dengan mudah diakses kapan saja,” imbuhnya.

Advotics UKM
Head of Growth Advotics, Venny Septiani menjelaskan pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan ketepatan produksi.

“Dari sejumlah klien yang dimiliki Advotics saat ini, sekitar 20 hingga 30 persennya merupakan mereka yang termasuk dalam usaha kecil dan menengah, meskipun dari segi jumlah pengguna solusi tentunya berbeda,” kata Venny Septiani, Head of Growth di Advotics.

Dalam hal ekspansi bisnis UKM, Venny memberikan contoh salah satu produsen produk minuman bubuk di Yogyakarta yang menggunakan solusi Advotics dapat meningkatkan jumlah karyawan sales dari merchandiser, yang semula 20 menjadi 60. “Dengan begitu, UKM juga bisa lebih fokus dalam hal yang strategis seperti akuisisi toko baru, memastikan display barang dan optimalisasi stok produk,” tambah Venny.

Tujuan Advotics Sebagai Mitra UKM Indonesia

Dengan platform berbasis cloud, tujuan utamanya adalah untuk mengubah data dari aktivitas perdagangan dan pekerjaan offline di lapangan menjadi data berguna yang bisa membantu tim manajemen dalam membuat keputusan bisnis penting seperti penetrasi penjualan, produktivitas serta strategi penjualan ritel. Solusi yang ditawarkan Advotics juga cukup fleksibel sesuai kebutuhan pelanggan, mulai dari aplikasi maupun berbentuk web-based, dirancang dengan tampilan dan penggunaan semudah mungkin agar tidak banyak diperlukan pelatihan khusus.

Sertifikasi ISO 27001 untuk keamanan data juga sudah dikantongi oleh Advotics, dan mereka juga berpartner dengan Amazon Web Services (AWS) sebagai penyedia layanan cloud computing. Aplikasi juga dirancang dalam bentuk hybrid, sehingga data akan tetap tercatat meski salah satu bagian sedang tidak memiliki koneksi data. Meski menyasar sektor bisnis UKM di Indonesia, saat ini Advotics juga telah dipercaya oleh beberapa pelanggan dari segmen korporasi, seperti ExxonMobil, HM Sampoerna, Danone, Mulia Group, Saint Gobain, Nutrifood dan Indosurya.

Pada Mei 2019 lalu, Advotics berhasil memperoleh pendanaan awal senilai 2,7 juta dolar AS (Rp36 miliar) yang dipimpin East Ventures. Pendanaan tahap awal tersebut digunakan untuk mengembangkan lebih banyak teknologi dan solusi untuk pelanggan, serta mempercepat pertumbuhan pengguna.