Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Tips Digital Parenting: Jaga Anak dari Penjahat Siber

0 1.687

Saat ini permainan yang menyenangkan, bahkan juga materi Pendidikan yang digemari anak bisa diakses hanya dengan sekali klik saja berkat Internet. Hal ini membuat internet kemudian menjadi sumber daya yang begitu penting dalam kehidupan setiap anak. Sayangnya, kemudahan akses permainan dan materi pembelajaran yang menyenangkan tersebut disadari juga oleh penjahat siber. Anak-anak pun menjadi target sasaran mereka yang baru.

Dalam upaya menghindari serangan yang dilakukan oleh penjahat siber, untuk memastikan setiap anak terlindungi secara online, saya akan berbagi tips yang bisa diterapkan agar anak Anda tetap terjaga privasi dan keamanan perangkatnya. Materi ini bersumber dari penyelenggaraan National Cyber Security Awareness Month Oktober 2019 lalu dengan tema “Own it. Secure It. and Protect it.”. Simak tipsnya berikut ini:

1.     Ajari Anak Kenali Perangkat dan Aplikasi yang Digunakan

Banyak sekali aspek kehidupan anak, termasuk sekolah hingga berkomunikasi dengan teman-temannya bergantung pada perangkat yang terhubung ke internet. Memang benar perangkat berbasis internet ini menawarkan banyak peluang untuk bantu perkembangan mereka, namun perlu ingat kalau hal ini juga menempatkan anak dalam risiko diserang oleh penjahat siber.

Oleh karena itu, sangat penting bagi Anda untuk membuat mereka mengenali dan memahami perangkat serta aplikasi yang digunakan. Dengan begitu, anak bisa mengetahui jika ada hal-hal yang mencurigakan di perangkat atau aplikasi secara online.

2.     Jelaskan Anak Jika Privasi Online Sangat Penting

Setelah mengajari mereka untuk pahami dan kenali perangkat serta aplikasi secara baik, saatnya jelaskan tentang betapa pentingnya privasi mereka di online. Buatlah anak paham kalau profil digital mereka dan informasi keluarga harus dijaga sebaik mungkin.

Banyak kegiatan online yang meminta data pribadi seperti ketika akan mendaftar sebuah aplikasi, anak-anak harus tahu apa dan kapan informasi tersebut bisa diberikan. Terutama untuk anak yang sudah dewasa, ingatkan mereka untuk sangat berhati-hati dalam memberikan akun perbankan atau mengunggah informasi pribadi. Gunakan data pribadi seminim mungkin.

3.     Jika Perlu, Buatlah Pedoman Ketika Online

Anda tidak selalu dapat mengontrol apa yang anak-anak lakukan secara online. Namun, menetapkan seperangkat aturan untuk diikuti ketika online akan membantu melindungi mereka. Seperti membuat daftar situs website yang harus mereka hindari, bisa mereka akses, hingga ciri-ciri kejahatan siber yang harus hindari.

Bahkan saat ini Anda juga sudah bisa mengatur perangkat untuk menentukan bagaimana anak bisa mengakses internet secara aman. Pedoman ini juga dapat dibuat untuk anak saat ber-media sosial. Anda bisa tuliskan informasi pribadi atau keluarga seperti apa yang boleh diunggah oleh mereka.

4.     Terapkan Keamanan Tambahan

Penjahat siber selalu memiliki cara untuk dapat menyerang target mereka. Dengan membuat anak paham dan mengerti tentang perangkat mereka serta dunia online, hal tersebut tentu meminimalisirnya terkena serangan siber.

Namun, tidak ada jaminan secara 100% mereka sudah aman. Anda perlu juga mempelajari fitur keamanan yang terdapat di setiap situs serta aplikasi yang diakses oleh anak, dan menerapkan lapisan keamanan tambahan ke perangkat mereka. Hal ini akan membuat penjahat siber lebih sulit untuk menyerang.

5.     Bentuk Pertahanan Terhadap Ancaman Siber

Orang-orang yang berada di online, perangkat pribadi meraka, dan akun online-nya telah menjadi target utama bagi penjahat siber yang bertujuan mencuri informasi pribadi. Karena alasan ini, sangat penting bagi orang tua untuk memastikan perangkat mereka sendiri, dan perangkat anak, aman. Juga, anak mereka memahami sepenuhnya perangkat dan aplikasi yang digunakan. Ini adalah pertahanan pertama.

Selanjutnya, untuk akun online, pertahanan untuk keamanan dimulai dengan menggunakan kata sandi yang kuat. Hindari penggunaan frasa umum atau informasi yang mudah ditebak seperti tanggal lahir. Sangat dianjurkan untuk mengganti kata sandi secara berkala untuk setiap akun.

Kemudian aktifkanlah Multi-Factor Authentication (MFA) agar akun anak semakin aman. MFA bekerja dengan cara menambahkan langkah ekstra ke proses login untuk memverifikasi identitas. Bentuk MFA biasanya berupa kode unik yang dikirim ke email atau pesan singkat melalu nomor yang didaftarkan di awal. Login dapat berhasil hanya jika kode tersebut sudah dimasukkan. MFA sangat penting terutama untuk akun perbankan.

Jika bicara soal perangkat, ancaman signifikan dapat berasal dari jaringan yang terhubung dengan anak Anda. Jaringan yang dimaksud contohnya adalah Wi-Fi publik yang saat ini dapat sangat mudah untuk ditemui dan diakses. Wi-Fi publik sering digunakan oleh penjahat siber sebagai jembatan untuk mendapat akses ke perangkat yang terhubung dengannya. Pastikan ketika anak atau keluarga Anda ingin menggunakan Wi-Fi publik seperti di restauran, perhatikan dan konfirmasi kembali nama jaringan dengan menanyakannya kepada staff.

6.     Monitor Kegiatan

Hal ini penting dilakukan apalagi jika Anda telah melihat tanda-tanda serangan siber di perangkat mereka. Letakanlah perangkat seperti komputer di tempat yang mudah untuk dipantau atau temani mereka ketika sedang online dengan perangkat lainnya.

Bagi yang telah memiliki anak dewasa, pantaulah kegiatan belanja online mereka. Pastikan mereka belanja dari situs yang aman. Pasalnya, penelitian ancaman terbaru dari FortiGuard Labs menunjukkan bahwa platform e-commerce telah mengalami peningkatan serangan, juga peningkatan penipuan skimming kartu untuk mencuri data keuangan.

Itulah 6 tips yang bisa Anda terapkan untuk menjaga keamanan siber anak ketika menggunakan perangkatnya untuk terhubung dengan jaringan internet. Ingatlah, penjahat siber akan terus meningkatkan strategi mereka untuk menyerang siapa saja, sehingga sangat penting bagi Anda dan keluarga menyadari tentang keamanan siber.


Artikel kontribusi ini ditulis oleh  Renee Tarun, Vice President Information Security, Fortinet