Jakarta, Gizmologi โ Perubahan pola kerja dalam beberapa tahun terakhir melahirkan gelombang baru pekerja lepas dan digital nomad di Indonesia. Fleksibilitas waktu dan lokasi menjadi daya tarik utama, namun di balik itu tersimpan persoalan klasik yang sering diabaikan, yaitu pengelolaan keuangan yang tidak menentu.
Pendapatan yang fluktuatif membuat banyak freelancer kesulitan menjaga arus kas tetap stabil. Tidak sedikit yang hidup dari proyek ke proyek tanpa dana darurat, bahkan masih mencampur keuangan pribadi dengan bisnis. Kondisi ini kerap berujung pada stres finansial, terutama ketika pembayaran klien terlambat.
Melihat celah ini, Jenius dari SMBC Indonesia menggelar kelas finansial bertema pengelolaan keuangan untuk pekerja lepas. Program ini diklaim sebagai bentuk edukasi agar para freelancer bisa lebih disiplin dalam mengatur pemasukan, pengeluaran, dan perencanaan jangka panjang.
Baca Juga: Rumor: iPhone Fold Siap Meramaikan Pasar Foldable 2026
Tantangan Finansial Freelancer di Era Digital

Dalam kelas finansial tersebut, Jenius menggandeng perencana keuangan independen untuk membahas langkah-langkah dasar seperti menghitung biaya hidup bulanan, memetakan arus kas, hingga pentingnya memisahkan rekening pribadi dan usaha. Pendekatan ini cukup relevan mengingat masih banyak pekerja lepas yang mengandalkan intuisi semata dalam mengatur uang.
Namun, pendekatan edukasi semacam ini bukan hal baru. Banyak bank dan platform finansial lain juga menawarkan webinar serupa, sehingga efektivitasnya bergantung pada seberapa konsisten peserta menerapkan ilmu tersebut. Tanpa pendampingan jangka panjang, kelas finansial berisiko hanya menjadi acara seremonial.
Fitur Jenius dan Pertanyaan soal Dampak Nyata

Jenius memamerkan deretan fitur seperti Moneytory untuk pencatatan keuangan, Flexi Cash untuk menjaga likuiditas, hingga tabungan Maxi Saver dan investasi Surat Berharga Negara. Di atas kertas, ekosistem ini terlihat lengkap untuk mendukung kebutuhan freelancer yang dinamis.
Meski begitu, ada catatan penting. Banyak fitur kredit dan paylater berpotensi mendorong utang konsumtif jika tidak dibarengi literasi yang kuat. Bunga, tenor, serta syarat dana segar juga bisa menjadi jebakan bagi pengguna yang hanya mengejar cashback tanpa memahami risiko.
Pada akhirnya, inisiatif Jenius patut diapresiasi karena menyoroti masalah nyata di kalangan pekerja lepas. Namun, keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh fitur canggih atau kelas finansial sesekali, melainkan oleh komitmen pengguna dalam mengubah kebiasaan. Tanpa disiplin, semua kemudahan digital tersebut bisa berubah dari solusi menjadi sumber masalah baru.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



