Jakarta, Gizmologi – Grab Indonesia perlihatkan tren positive pada ekosistem mereka dan bisa dirasakan secara nyata. Grab menekankan bahwa mitra mereka yag sudah terdaftar ada kurang lebih 3,7 mitra merasa bahagia karena pendapatan yang cukup fair untuk kelangsungan hidup mereka.
Data internal per Desember 2025 menunjukkan total 3,7 juta mitra pengemudi terdaftar di platform Grab Indonesia. Namun, hanya sekitar 700–800 ribu mitra atau 19–22% yang aktif menyelesaikan minimal satu order dalam sebulan. Angka ini fluktuatif dan disebut sebagai karakter alami gig economy, di mana partisipasi bersifat fleksibel.

Di satu sisi, data ini menegaskan bahwa status “terdaftar” tidak identik dengan tingkat produktivitas. Di sisi lain, angka partisipasi aktif yang relatif kecil dibanding total pendaftar juga membuka diskusi soal persaingan, distribusi order, dan keberlanjutan pendapatan di dalam ekosistem.
Baca Juga: Sahabat-AI Resmi Meluncur, Ambisi Indonesia Bangun AI Lokal yang Lebih Relevan
Fleksibilitas Jadi Fondasi, Tapi Tidak Semua Penuh Waktu

Grab Indonesia menekankan bahwa mayoritas mitra menjadikan platform sebagai penghasilan sampingan. Lebih dari 80% mitra roda dua dan sekitar 67% roda empat tidak mengandalkan Grab sebagai sumber nafkah utama. Pola ini memperlihatkan bahwa ekosistem on-demand memang berfungsi sebagai bantalan ekonomi yang adaptif, terutama bagi mereka yang terdampak PHK atau membutuhkan pemasukan tambahan.
Namun ada juga kelompok yang menjadikan platform ini sebagai sumber penghasilan utama. Sekitar 10–11% mitra roda empat dikategorikan sebagai nafkah utama dengan pendapatan di atas Rp10 juta per bulan dan rata-rata 11 order per hari. Di roda dua, hanya 1–2% yang masuk kategori serupa, dengan intensitas kerja jauh lebih tinggi. Artinya, peluang pendapatan besar memang ada, tetapi untuk sebagian kecil mitra dengan tingkat produktivitas konsisten.
Kebijakan Berbasis Produktivitas dan Apresiasi Ramadan
Grab Indonesia menyebut pendekatan kebijakan berbasis produktivitas sebagai model yang adil dan proporsional. Mitra yang lebih aktif dan konsisten mendapatkan bentuk dukungan berbeda dibanding mereka yang hanya narik sesekali. Secara konsep, pendekatan ini logis dalam sistem fleksibel. Meski begitu, pendekatan berbasis kinerja juga bisa memicu perdebatan soal transparansi algoritma dan distribusi insentif.
Sebagai bentuk apresiasi, Grab meluncurkan program “Perjalanan Bermakna dengan Umrah Gratis” bagi 105 mitra berprestasi selama Ramadan. Inisiatif ini menjadi simbol penghargaan personal di luar insentif finansial. Langkah tersebut positif secara citra dan moral, namun tetap penting melihat gambaran lebih luas: bagaimana memastikan kesejahteraan jutaan mitra lain yang menjadi fondasi utama ekosistem on-demand Indonesia.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



