Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Di-blacklist Amerika dan Diputus Google, Begini Reaksi Huawei

Dampak dari perang dagang Amerika - China, Google melakulan pemutusan kerjasama bisnis terhadap Huawei, baik hardware maupun software.

Tahun 2019 menjadi masa yang cukup berat bagi Huawei sebagai korban perang dagang Amerika vs China. Setelah bisnis jaringannya diblokir pemerintah Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara sekutunya, kini unit bisnis perangkat (CBG) yang kena imbasnya.

Rezim Donald Trump memang sudah sejak beberapa bulan lalu secara agresif melobi negara-negara lain untuk tidak menggunakan peralatan milik Huawei, khususnya teknologi jaringan 5G. Karena dianggap membahayakan keamanan.

Bahkan belum lama ini raksasa teknologi asal Tiongkok tersebut, bersama sekitar 70 perusahaan yang terafiliasi, belum lama ini terkena daftar hitam “entity list” oleh Kementerian Perdagangan AS (U.S. Commerce Department). Tujuannya adalah melarang Huawei membeli komponen dan suku cadang dari sejumlah perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat tanpa lisensi dari pemerintah.

Secara tegas, Huawei menentang keputusan yang dikeluarkan oleh Biro Industri dan Keamanan (BIS) Kementerian Perdagangan AS tersebut. Panji Pratama, Public Relations Manager – Public Affairs & Communication PT Huawei Tech Investment membagi pernyataan resmi dari perusahaan.

Menurut Huawei, keputusan tersebut tidak menguntungkan bagi semua pihak dan berpotensi memberikan dampak ekonomi yang signifikan terhadap perusahaan AS yang berbisnis dengan Huawei. Hal ini bisa mempengaruhi puluhan ribu lapangan kerja di AS, serta merusak tatanan kolaborasi dan prinsip saling percaya yang ada dalam sistem rantai pasok global.

Huawei akan mengambil langkah yang diperlukan guna mengatasi hal ini. Kami juga akan secara proaktif memitigasi dampak dari insiden ini,” kata Huawei.

Baca juga: Peralatan Jaringan 5G Huawei Kena Blokir Eropa, Kenapa?

Related Posts
1 daripada 263

VLC di smartphone Huawei

Masuknya Huawei ke dalam entity-list tersebut ternyata tidak hanya berpengaruh di bisnis jaringan semata, namun merembet ke bisnis perangkat smartphone. Sebagai entitas yang lahir di Amerika, Google “terpaksa” patuh terhadap kebiajakan pemerintah. Mereka menindaklanjuti dengan pemutusan kerjasama bisnis terhadap Huawei, baik hardware maupun software.

Dampaknya, smartphone Android berikutnya yang digarap Huawei berpotensi kehilangan akses ke layanan utama milik Google, termasuk Google Play Store, Gmail, dan YouTube. Tak sampai di sini, langkah yang dilakukan oleh Google rupanya diikuti juga oleh Intel, Qualcomm, dan Broadcom, yang merupakan perancang dan pemasok chip. Masih ditambah lagi dengan pembuat chip Jerman Infineon Technologies yang melakukan hal serupa. Dan mungkin saja akan diikuti perusahaan lainnya.

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Bagaimana reaksi Huawei menanggapi aksi Google yang membatasi bisnisnya? Kepada Gizmologi, Bianca Resita,  PR Manager Huawei Device Indonesia, memberikan pernyataan dari Huawei Global seperti berikut ini:

Huawei telah memberikan kontribusi yang substansial untuk pengembangan dan pertumbuhan Android di seluruh dunia. Sebagai salah satu mitra global utama Android, kami telah bekerjasama dengan sangat erat dengan platform open-source mereka untuk mengembangkan ekosistem yang bermanfaat bagi pengguna dan industri.

Huawei akan terus memberikan pembaruan keamanan dan layanan purna jual untuk semua produk smartphone dan tablet Huawei dan Honor yang ada yang mencakup yang telah dijual atau yang masih ada sebagai stok secara global.

Kami akan terus membangun ekosistem perangkat lunak yang aman dan berkelanjutan, untuk memberikan pengalaman terbaik bagi semua pengguna secara global.”

Bagaimanapun juga, pernyataan dari Huawei CBG ini terkesan normatif. Saat ini, mereka pasti sedang sibuk menyiapkan serangkaian strategi untuk keluar dari masalah ini. Kita tunggu saja.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.