Gizmologi
The Gizmo & Technology Universe. Situs teknologi dan gadget terkini.

Riset Shopback: 75 Persen Transaksi Belanja Online Terjadi di Aplikasi Ponsel

Aplikasi ponsel sekali lagi terbukti menjadi pilihan banyak konsumen dalam banyak aspek, termasuk untuk berbelanja online. Hal tersebut diperinci oleh hasil riset terbaru dari Shopback yang menemukan 75% transaksi online terjadi melalui aplikasi dalam ponsel.

Banyaknya transaksi belanja tersebut menyebabkan naiknya traffic aplikasi ponsel. Beberapa inovasi yang dilakukan platform e-commerce membuat lalu lintas aplikasi ponsel semakin meningkat. Contohnya adalah Shopee Shake, yang mengharuskan pengguna menggoyangkan perangkat seluler mereka secepat mungkin. Inovasi tersebut membuat lebih dari 100 ribu pengguna turut “bergoyang” hanya dalam beberapa hari setelah rilis kampanye belanja tersebut.

Studi lainnya dari Shopback menyebut fitur Slash It dari Lazada juga mendongkrak traffic via aplikasi ponsel. Lazada meluncurkan fitur ini bersamaan dengan Shopfest pada September 2018 dimana pengguna diimingi mengajak lebih banyak teman agar memperoleh lebih banyak potongan harga.

Indra Yonathan, Country Head of Shopback Indonesia, mengatakan selain meningkatkan traffic di platform e-commerce, aplikasi ponsel juga terbukti mampu  meningkatkan volume pemesanan secara online.

“Data transaksi Shopback menunjukkan, aplikasi ponsel menyumbang ¾ volume pemesanan secara online. Dari  lima negara di database Shopback, Indonesia tercatat sebagai negara kedua yang menampilkan preferensi terkuat dalam hal pembelian melalui aplikasi mobile, setelah Thailand,” kata Indra.

Perbandingan traffic e-commerce di Asia Tenggara (Sumber: Shopback)

Di samping itu, menurut Yonathan, peningkatan volume pemesanan di platform e-commerce juga tidak lepas dari beragam inovasi pemasaran dari pelaku e-commerce, seperti pelaksanaan festival belanja online.  Beragam jenis festival belanja dari pelaku e-commerce, yang menawarkan promo khusus serta potongan diskon, menjadi bagian penting bagi para pelaku online ritel.

Di kawasan Asia Tenggara, ada beberapa festival belanja yang paling ditunggu, seperti Single’s Day, Black Friday, Cyber Monday, dan 12.12 atau Harbolnas di Indonesia. Festival belanja ini menyumbang revenue paling besar selama periode akhir tahun. Berdasarkan data Shopback, revenue yang dihasilkan satu hari festival belanja ini, setara dengan ¾ ​revenue ​sebulan di 2017.

Baca juga: Riset: Indonesia Memerlukan Laboratorium Internet of Things (IoT)

Related Posts
1 daripada 35

Bagaimana masa depan desktop?

Dengan semua temuan yang mengarah pada strategi mobile-first dalam meningkatkan pertumbuhan e-commerce di Asia Tenggara, timbul pertanyaan apakah mobile membuat desktop menjadi tidak relevan lagi di industri e-commerce.

Berdasarkan bukti dari interaksi pengguna Shopback, desktop masih akan terus menjadi channel penting bagi para mitra e-commerce, terutama mereka yang mengejar pembelian dengan nilai yang besar.

Faktanya, dilihat dari rata-rata basket size (rata-rata nilai dollar yang dihabiskan per order), Shopback menemukan pembelian melalui desktop lebih tinggi dibanding pembelian dari mobile, terutama di Filipina, Malaysia dan Indonesia.

Konsumen pada umumnya merasa akan lebih aman menggunakan desktop jika berbelanja dengan nilai yang besar. Lebih dari 60% dari pengguna Shopback mengaku melakukan kegiatan belanja di omni-channel dengan mencari produk yang diingini di mobile/selular kemudian membayarnya di desktop.

Pengguna merasa aman dan lebih memilih melakukan transaksi pembayaran di desktop. Hal ini mungkin merupakan manifestasi umum terhadap kesenjangan gap dalam ​cyber security​ di antara pengguna.

Hal yang menjadi keuntungan desktop sebagai online platform. Yakni, ukuran layar desktop yang lebih besar membuat pengguna mendapatkan lebih banyak informasi dan konten yang ditampilkan dalam berbagai cara. Ini menjadi salah satu alasan utama yang membuat pengguna lebih memilih desktop untuk melakukan transaksi belanja online dengan nilai yang besar.

Sebelumnya, Google dan Temasek memprediksi dominasi ponsel saat ini telah banyak mengubah pola perilaku konsumen dalam beberapa aspek. Keduanya memperkirakan lebih dari 90% pengguna internet di Asia Tenggara menggunakan telepon pintar sebagai perangkat utama.  Di samping itu, studi e-commerce dari Frost & Sullivan’s juga menguatkan bahwa saat ini  terjadi peningkatan tren konsumen yang semakin suka menggunakan aplikasi mobile​.