Jakarta, Gizmologi โ Mulai dari skala kecil seperti membantu chatbot dalam membalas pesan, sampai skala yang lebih besar untuk pengambilan keputusan, teknologi kecerdasan artifisial atau AI kini semakin menarik untuk para organisasi bisnis. AI generatif pun dinilai bakal meningkatkan ekosistem bisnis Tanah Air, dan Kominfo pun turut menyiapkan aturan yang sesuai.
Hal tersebut juga turut dipertegas oleh Roy Kosasih, Presiden Direktur IBM Indonesia. Ia mengatakan bola AI generatif siap membawa banyak dampak pada bisnis. Mulai dari pengambilan keputusan, pengalaman nasabah, sampai pertumbuhan pendapatan. โTetapi fokusnya tetap pada keahlian SDM untuk penggunaan AI yang baik,โ jelasnya dalam acara IBM Indonesia AI for Business Leader Summit 2024, Rabu (6/3) kemarin.
Dalam acara tersebut, IBM mengeluarkan hasil studi baru terkait adopsi AI pada sektor jasa keuangan dan manufaktur di Indonesia, bekerja sama dengan Advisia Group, mewakili IBM dan Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA). Ditemukan bila sebagian besar responden korporat lokal (62%) sudah berinvestasi dalam program pilot AI di perusahaannya.
Baca juga:ย Claude AI, Pesaing ChatGPT dan Gemini Digemari Banyak Orang
Kesenjangan Literasi Digital Penghambat Utama Adopsi AI Generatif

Selain tengah menyiapkan program pilot AI, setidaknya ada 23% perusahaan dari hasil survei yang tengah dalam tahap berinvestasi AI, serta mengadopsi kemampuan AI untuk berinteraksi dengan fungsi bisnis perusahaan. Hammam Riza, Presiden KORIKA menyebutkan bila AI memiliki potensi besar dalam memajukan ekonomi digital Indonesia.
โAlih-alih menggantikan pekerjaan manusia, individu yang bisa menggunakan AI dengan baik akan unggul dibandingkan mereka yang tidak mau belajar, dan karena itu mengintegrasikan AI untuk meningkatkan kinerja dan kesuksesan sangat penting,โ jelas Hammam dalam kesempatan yang sama.
Dari laporan studi โGenerative AI: Mempersiapkan masa Depan Ekosistem Bisnis di Indonesia dengan AI yang Beretika,โ disebutkan bila dalam tahap awal pengembangan AI generatif, bakal menimbulkan tantangan signifikan yang harus diimbangi bersama peningkatan keterampilan individu yang terlibat. Sebanyak 48% responden menganggap kesenjangan literasi digital menjadi penghambat utama dalam proses adopsi AI. Disusul 40% untuk ketidaktersediaan tata kelola data internal.
Penerapan AI generatif dalam layanan keuangan dinilai efektif untuk berbagai bagian, seperti customer care, consumer landing pada chatbot, serta investment. Dr. Eng. Ayu Purwarianti, S.T, M.T, Head of AI Center ITB mengatakan bila dalam industri keuangan, AI Generatif bisa dianggap penting dalam hal penilaian kredit dan berbagai produk pinjaman, karena kemampuannya memberikan penilaian kelayakan kredit.
Lebih lanjut, 67% responden perusahaan atau organisasi penyedia layanan keuangan berpendapat bila adopsi AI generatif bakal mampu meningkatkan proses efisiensi dalam pemrosesan data serta efisiensi operasional. Sisanya adalah untuk meningkatkan pengalaman pelanggan (43%), dan lainnya seperti keamanan transaksi, pendeteksi potensi penipuan serta permintaan pelanggan (masing-masing 23%).
Tata Kelola AI Menjadi Kunci Keberhasilan AI

Menjadi bagian dari keberhasilan adopsi AI, adanya governance atau tata kelola dinilai penting, dan baru saja diterbitkan melalui Surat Edaran Kominfo No. 9 tahun 2023 terkait Pedoman Etika AI. Di dalamnya diuraikan sejumlah prinsip etika untuk perilaku bisnis AI, termasuk tiga kebijakan tentang nilai etika, pelaksanaan etis, dan penggunaan yang bertanggung jawab dalam pengembangannya.
Nezar Patria, Wakil Menteri Kominfo RI turut menjabarkan sejumlah tantangan terkait etika dan keamanan dalam implementasi AI generatif. Di antaranya seperti transparansi, bias dan diskriminasi yang umumnya muncul dari algoritma AI, pelanggaran privasi seperti data pribadi, sampai model evasion yang merupakan serangan siber.

โPerlu diterapkan strategi pelaku industri untuk merespon tren regulasi AI. Di antaranya membangun leadership yang bertanggung jawab, meningkatkan kolaborasi lintas sektor untuk optimalisasi AI, membangun dan menanamkan kerangka kerja AI yang etis, membuat tinjauan yang berkelanjutan, serta memastikan kapasitas manusia yang tidak tergantikan atau human-centred AI,โ jelas Nezar.
Telah diproyeksikan bila kontribusi AI pada Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia bakal mencapai USD366 miliar. Nilai tersebut cukup tinggi, terutama dari total proyeksi Asean senilai USD1 triliun. Dengan output ekonomi yang diharapkan dapat terdorong melalui integrasi dan pemanfaatan AI generatif di beragam sektor di seluruh Indonesia.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



