Begini Perbedaan Tren Transaksi Belanja Online Masa PSBB dan PPKM di Bhinneka

Jakarta, Gizmologi – Pandemi Covid-19 telah berlangsung selama lebih dari 1,5 tahun. Di Indonesia sendiri, telah ada dua kebijakan besar pemerintah terkait penanganan wabah tersebut yakni Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada 2020. Kemudian dilanjutkan tahun ini ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan berbagai tingkatan.

Ada perubahan gaya hidup di mana selama masa pandemi, sebagian besar masyarakat didorong untuk melakukan aktivitas di rumah saja. Termasuk bekerja dari rumah (work from home), belajar dari rumah (school from home), konsultasi kesehatan jarak jauh (telemedicine), dan tentu saja berbelanja daring dari rumah (online shopping) baik untuk kebutuhan pribadi maupun bisnis.

Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan bahwa terjadi peningkatan belanja daring sebesar 26 persen, atau 3,1 juta perbelanjaan sepanjang masa pandemi. Hal ini karena kian banyak masyarakat yang mengandalkan platform digital untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Baca juga: Tokopedia Catat 3,8 Juta Mitra UMKM Baru Selama Pandemi

Indikator Kebiasaan Masyarakat Saat Belanja Online

Bhinneka.com B2B E-commerceDari data Bhinneka.Com yang membandingkan transaksi sepanjang periode PSBB (Maret 2020-Desember 2020) dan PPKM (Januari 2021-sekarang), terdapat sejumlah indikator yang bisa mengindikasikan keterbiasaan warga dalam berbelanja daring. Utamanya adalah peningkatan transaksi untuk kategori produk tertentu.

Secara umum, kategori Produk IT (gadget, dan computer, desktop, notebook), serta Maintenance, Repairs, Operations (MRO) tetap mendominasi transaksi dalam rentang waktu tersebut. Termasuk pula perlengkapan kesehatan selama pandemi seperti masker medis, cairan disinfektan, paket tes usap, dan sebagainya.

Sementara itu transaksi kategori produk Peralatan Dapur & Rumah Tangga melonjak di atas keduanya, baik dari sisi nilai transaksi (revenue) maupun jumlah transaksi (volume). Tercatat, kenaikan revenue untuk kategori produk ini mencapai 93% dibanding pada masa PSBB.

Astrid Warsito, Head of Corporate Communications Bhinneka.Com, mengatakan pihaknya melihat pergeseran pada barang kebutuhan dan frekuensi belanja online. Pada saat PSBB di tahun lalu banyak orang yang membeli perangkat kerja atau sekolah untuk di rumah. Nilai rata-rata pembelanjaannya relatif tinggi karena membeli gadget, laptop, dan aksesorisnya saat beradaptasi bekerja, sekolah dan beribadah dari rumah. Saat PPKM di tahun ini, justru produk Peralatan Dapur & Rumah Tangga yang paling tinggi, disusul Produk Digital.

“Terjadi pergeseran produk yang cukup signifikan karena selama masa karantina di rumah, ternyata banyak orang yang menemukan hobi baru atau menghidupkan hobi lama dan lebih jauh lagi menjadikan hobi tersebut menjadi usaha sampingan. Nah, kategori produk itulah yang tercatat dalam business super ecosystem kami,” ujar Astrid Warsito di Jakarta (17/9).

Tren Usaha Sampingan

Samsung Twin Cooling PlusSaat dirinci lebih jauh, kenaikan pada kategori Peralatan Dapur & Rumah Tangga terlihat cukup merata untuk konsumsi pribadi maupun penggunaan komersial. Hal ini dapat diasumsikan terkait dengan tren peningkatan usaha sampingan atau mikro yang terus tumbuh sepanjang masa pandemi, khususnya kuliner. Adapun beberapa barang yang permintaannya meningkat termasuk kulkas (berbagai varian), blender (berbagai varian), hingga mesin cincang yang kapasitasnya jauh lebih besar daripada jenis food processor lainnya.

Secara spesifik tentang tren usaha sampingan ini juga didukung hasil survei Snapcart pada awal tahun 2021, yang menyebut sebanyak 63% responden berencana untuk memulai bisnis makanan mereka sendiri.

Selebihnya, lonjakan lain yang muncul saat PPKM ialah transaksi Pembayaran BPJS dalam kategori Produk Digital, dengan peningkatan revenue mencapai 83%. Lalu, kategori produk Alat Tulis & Perlengkapan Kerja, dengan peningkatan revenue mencapai 50%. Peningkatan revenue pada kedua kategori tersebut juga dibarengi dengan peningkatan volume transaksi.

“Makin banyak kebutuhan di rumah baik untuk bekerja, sekolah hingga hobi maupun bisnis sampingan yang dibeli secara daring. Kami terus akan melengkapi business super ecosystem (B2B2B) dengan ragam merchant penyedia bahan mentah dan setengah jadi, untuk melengkapi merchant yang sudah ada. Sehingga kebutuhan belanja pelaku bisnis dari berbagai skala dapat terpenuhi melalui platform kami,” pungkas Astrid.

Tinggalkan komen